Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 18 : Menang (2)


__ADS_3

"Lo tadi ngapain di semak-semak? Cari jerapah?" Tanya Dhafin


"Gak, gue lagi cari dinosaurus." Kesal Izyla di dalam taxi.


"Sudah sampai tuan putri," kata Dhafin membuka pintu taxi sambil mengulurkan tangan untuk Izyla.


"Terima kasih pelayan," Kata Izyla cuek yang langsung diacak-acak rambutnya oleh Dhafin


***


"Lo kemana woi? Di alfa baru tau rasa," kata seseorang yang terlihat dilayar ponsel milik Kenta. Vidcall.


"Mau ke London," jelas Kenta. "Dah dulu gue mau prepare." Dan mematikan sambungan sepihak. "Sisanya ambil aja pak." Kata Kenta keluar dari taxi.


"Ini mah pas," gumam sopir taxi.


Sampailah disebuah apartemen mewah di kota BRIZY dengan gedung yang menjulang tinggi dan kokoh


Memasuki kamar dengan nuansa hitam dan dinding kaca yang dapat memperlihatkan keindahan kota ketika malam hari. Kini ia mengambil sebuah koper di atas lemari. Koper itu begitu kecil yang hanya dapat menampung beberapa barang saja. Bahkan baju tidak dimasukan olehnya. Karena pikirnya bisa membeli waktu disana.


Sudah memesan tiket secara online kini dia sudah berada di dalam pesawat untuk menuju benua Eropa.


***


Ke esokan harinya di dalam sebuah kamar hotel yang berisi 1 ranjang seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan penampilan berbeda tengah tersenyum-senyum gak jelas.



"Fin keren gak rambut gue?" Tanya Izyla yang baru saja menyemir rambutnya.


"Biasa aja."


"Lo mah gak asik," gerutu Izyla. "Mandi sana. Lo bau."


"Tau bau ngapain dicium," kata Dhafin sambil menjulurkan lidah.


Karena agenda acara pengambilan hadiah masih besok hari. Mereka menikmati hari ini dengan berkeliling negara milik orang lain. Dengan menyinggahi museum, taman hiburan dan lain sebagainya. Akhirnya mereka sampai di sebuah menara


__ADS_1


Dengan memakai tas ransel kecil warna perak tak lupa rambut yang sebagian ia kepang kini tengah mengamati penjuru kota dengan teropong.


"Ekhemm." Kode Dhafin.


"Apa lo? Keselek linggis?" Tanya Izyla.


"Lo tuh gak cocok rambutnya digituin mending besok diubah lagi deh rambuhnya," jelas Dhafin yang langsung ditinggal Izyla.


"Dhafin mah kagak seru," gerutu Izyla di tengah perjalanan tanpa tujuan itu. Merasa ada seseorang yang membututi, segera ia mempercepat jalannya.


"****** jalan buntu," gumam Izyla yang berniat berbalik arah. Namun segera dihadang oleh seseorang.


"Lo?..." kejut Izyla. "Ah gak mungkin, ini bukan Indonesia," lanjut Izyla.


"Lo mau ngapain?" Tanya seseorang dibalik topeng itu.


"Nelpon Dhafin lah," jawab Izyla tanpa sadar. "Lah, bisa bahasa Indonesia." Kejut Izyla.


"Ikut gue." Tarik pemakai topeng itu menuju sebuah tangga yang mengarah ke pintu keluar.


"Lepasin gue!!! Dhafin!!!"


"Tolonggggg."


"Permisi, ini di luar negeri enggak di Indonesia," jelas bertopeng itu.


"Gak bisa bahasa Inggris." Sambil mengerucutkan bibir


"Udah SMA kok gak bisa. Sekolah disana ngapain aja, hah? Bolos?"


"STOP!" Kata Izyla tiba-tiba "Lo, kok tau kalau gue SMA? Lo kenal gue? Atau jangan-jangan..." tanya Izyla mengintimidasi yang seketika membuat orang yang memakai topeng itu berjalan mundur. "Penguntit ya?" Lanjutnya.


"Bener, pasti penguntit. Gue mau diculik. Dhafin!!!! Tolongin gue!!!" Mendengar jeritan itu Dhafin yang sudah berada dilantai dua langsung melompat ke lantai satu.


"Siapa lo?" Tanya Dhafin merebut Izyla dari genggaman orang bertopeng itu. Tanpa sepatah katapun melihat kedatangan Dhafin iapun kabur mencari jalan aman dari misinya.


***


"Parah, si posessif ada terus," gerutu pemuda itu sambil melepas topeng yang melekat diwajahnya. Yang tak lain adalah Kenta.

__ADS_1


Di tengah-tengah kerumunan ia membelah jalan tanpa peduli dengan sekitar. Menuju sebuah hotel termewah, ia sempat kan sesekali mengetik sebuah pesan di layar ponselnya


***


"Kita pulang!" Tarik Dhafin menggenggam erat tangan Izyla. "Lo tuh kalo per-" gerutu Dhafin terpotong oleh sebuah jari telunjuk yang berada di depan bibirnya. "Apa sih? Pait." Sambil berludah disembarang tempat.


"Pait pala lo. Wangi oi," protes Izyla menciumi jarinya.


"Apa? Buruan!"


"Nih, ada nomer tak dikenal. Gak ada profilnya juga." Sambil memeberikan ponsel samsungnya kepada Dhafin.



"Besok gak usah dandan. Kek biasa lagi, dan juga rambutnya dibalikin ke asal!"


***


Akhirnya hari pengambilan hadiah tiba, dengan hati senang Izyla berjalan sambil menari-nari menuruni tangga. Dia yang kini hanya memakai setelan kodok dan rambut yang ia kepang menjadi 2 bagian sedang meneguk susu coklat yang menjadi stock bagi mereka.



Sedangkan Dhafin, dia juga memakai pakaian biasa layaknya Izyla. Memakai kaos oblong putih dengan dilapisi jaket hitam yang kini tengah menunggu Izyla turun.



"Main hp mulu," kata Izyla yang sudah disamping Dhafin.


"Ngabarin Wina. Kangen katanya," jelas Dhafin.


"Idih, kek gini dikangenin." Remeh Izyla.


"Kamar udah lo bersihin belum?" Sambil menaruh ponselnya disaku.


"Kasur gue mah udah. Sofa lo tuh banyak banget bekas iler lo. Bau lagi." Goda Izyla dan berlari meninggalkan Dhafin.


Disisi lain, ada yang tengah mengamati Izyla dari kejauhan. Dan dia adalah kenta. Mengamati dari bawah hingga ke atas terukir seringai di wajahnya.


"Culun lagi," gumam Kenta.

__ADS_1


__ADS_2