
Sesuai rencana, hari ini adalah hari dimana Izyla akan diculik oleh penculik bayarannya Anant. Memosisikan di lokasi gang kecil dekat perumahan BRIZY mereka bersiap-siap karena waktu sudah menunjukan bahwa gadis itu akan tiba beberapa menit lagi.
Tidak sendiri, kali ini dia bersama bersama Dhafin seperti biasa. Dan status barunya, jomblo seperti Izyla. Prinsip barunya, dia berehenti untuk menjalin hubungan spesial dengan para gadis. Karena jelas efeknya akan membahayakan Izyla apabila mantan-mantannya terlalu berani seperti Wina dan Siska.
Mungkin sudah takdirnya Izyla diculik oleh kelompok itu, kini Izyla berhenti sejenak tepat di sebelah gang tempat penculik itu bersembunyi. Ia tengah menali sepatu yang terlepas dari asalnya. Sedangkan Dhafin, ia tidak sadar bila adiknya tengah berhenti.
Kesempatan emas yang berada didepan mata tidak mereka siakan dan hitungan sedetik kemudia ia membungkam mulut Izyla dan memberi obat bius.
Dibawalah Izyla ke tempat gelap yang paling dia takuti. Sekitar 30 menit akhirnya gadis itu terbangun. Membuka mata perlahan yang masih begitu samar-samar hingga ia tersentak ketika seorang dari penculik tepat berada diwajahnya.
"Huaaaa," pekiknya sambil berdiri mundur.
"Udah bangun guys, segera hubungi tuan muda," perintah ketua kelompok penculik itu yang segera dilaksanakan salah satu dari mereka.
***
"Kalian mau ikut?" Tawar Anant kepada ke 3 sahabatnya yang berada dirumahnya.
"Ke?" Tanya Rizwan penuh semangat.
"Bertemu gadis cantik yang selama ini ingin gue incer," kata Anant sambil menyeriang menyembunyikan fakta dibalik senyumnya itu.
Sampai disebuah tempat yang berada cukup jauh dari rumah akhirnya mereka tiba disana. Penuh dengan tanda tanya yang menyelimuti Kenta, Kastela dan Rizwan tapi mereka memilih diam hingga ketika pintu ruangan itu dibuka Kentapun mulai bertanya.
"Lo nyulik cewek?"
"Lebih tepatnya anak dari seorang pembunuh," balas Anant.
"Maksud lo?"
"Iya, dia anak yang mbunuh mama gue ketika waktu kecil. Dan gue pengen bales dendam dengan memperingatinya."
__ADS_1
"Tapi Nant,-" sela Kastela.
"Keluarganya yang buat gue menderita kek gini. Gue muak," pekik Anant frustasi. "Kadang gue juga gak mau kek gini, tapi ketika penyakit itu kambuh rasanya gue pengen bales apa yang mereka lakuin ke gue beserta keluarga gue."
Beberapa saat sudah tenang, akhirnya mereka menuju ruang paling dalam. Disambut dengan hormat oleh kelompok penculik itu dan mengisyaratkan agar membawa gadis itu kehadapannya.
"Buka," perintah Anant kepada ketua penculik itu untuk membuka penutup kepala gadis itu.
Dibukalah perlahan, menampakkan seseorang yang begitu familiar dimata Kenta, Kastela dan Rizwan. Tidak bagi Anant. Jarak yang bisa dibilang cukup jauh bersamaan sebuah tirai transparan yang menghalangi mereka namun masih dapat terlihat jelas dimata Kenta
"Emmmm," berontak Izyla meminta dilepaskan. Bersamaan itu sebuah deringan ponsel berbunyi kencang dari dalam tas Izyla. Diambillah ponsel itu dan segera ditolak Kenta. Namun dia, segera mengirim pesan kepada seseorang yang baru saja menelpon Izyla karena tiba-tiba gadis itu menghilang.
Mengirim lokasi terkini dan mengirim beberapa pesan. Hingga sebuah notifikasi terkirim muncul di layar ponsel itu
Disisi lain, Dhafin yang baru saja mendapat sebuah pesan seperti itu hanya bisa mengerutkan dahi bersamaan memanggil kedua orang tuanya. Segeralah orang tua Dhafin dan Izyla menuju ke tempat yang dikirim melewati ponsel Izyla. Dengan kecepatan tinggi, dhafin melajukan mobil itu hingga 30 menit mereka sampai disana.
***
Tercengang akan keadaan seperti ini seketika membuat Izyla tak percaya, karena pikirnya bahwa Anant itu baik dan tidak akan melakukan kejahatan seperti ini. Menatap Kenta dengan sayu, gadis itu hanya pasrah ketika Anant mulai memegang wajahnya.
Sadar bahwa Anant memiliki penyakit prosopagnosia Izyla hanya berdiam diri dan tidak memiliki niat untuk bersuara. Hingga ketika Anant berbalik Izyla mencoba memanggil Anant. Anehnya, seketika itu Anant mencari sumber suara gadis yang dikenalnya.
"Ana," lirihnya mendekati Izyla kembali. "Kalian bagaimana sih! Gue suruh nyulik Izyla bukan Ana!" Bentak Anant sambil memukul ketua kelompok itu. "Sakit?" Tanya Anant sambil melepas tali yang melilit tangan dan kaki Izyla.
"Tapi tuan, dari gambar yang anda kirimkan ini sama orangnya," jawab ketua penculik itu.
"Anant," seru Kenta. "Menurutmu ini siapa?" Tanyanya lagi sambil menunjuk Izyla.
"Ana,"
__ADS_1
"Kamu kembarannya Izyla?" Tanya Kenta memastikan walaupun dia tahu persis bahwa gadis itu Izyla.
"Aku Izyla Kent," jelas Izyla yang seketika membuat Anant syok.
"Lo tau penyakit Anant?" Yang dibalas oleh anggukan gadis itu. "Pinter juga boongin sahabat gue. Kecewa gue sama lo, udah culun belagak cantik mah kagak tapi sok polos," kata Kenta yang anehnya membuat dada gadis itu sakit. Bersamaan itu, tiba-tiba seseorang mendobrak ruangan itu.
"Sayang," teriak Liana sambil memeluk anaknya itu. "Kamu gak papa?" Tanyanya penuh kekhawatiran.
"Gak papa ma," balasnya sambil mengeluarkan air mata.
"Lo apain adik gue? Hah?" Sambil merih kerah kemeja Anant. "Jawab woii!" Teriaknya.
"Ini semua salah kalian! Kalian yang bunuh mama gue. Kalian juga yang bikin gue menderita sakit buta wajah. Puas kalian lakuin ke gue, hah?" Bentak balik Anant sambil memukul Dhafin.
"Udah Dhafin," tahan Deon ketika melihat anaknya sedang berkelahi dengan Anant.
"Gue muak dengan kalian semua, ayo pergi guys," ajak Anant meninggalkan tempat itu namun segera ditahan oleh sebuah rangkulan Liana dari belakang.
"Maafin mama nak," lirih Liana yang langsung didorong oleh Anant.
"Lo butuh penjelasan dengan semua?" Tawar Dhafin. "Lo tuh kakak kandungnya Izyla! Lo mau nyakitin adik kandung lo sendiri ZAHKIO RYAN AZALEO?" tanya Dhafin dengan memberi penekatan ketika menyebut nama asli Anant.
"Apa maksud lo?" Sambil mencengkeram kerah Dhafin. "Gak usah ngarang, gue anak tunggal!" Jelas Anant dan memukul Dhafin kemudian.
"Gue gak ngarang. Ma, tolong tunjukin." Dan memberikan foto kecil Anant.
"Bener Nan, ini foto lo," kata Kastela memberi saksi.
"Bisa aja mereka nyolong foto gue."
"Tapi foto ini gak ada di album lo."
__ADS_1
"Pengen kembali ke masa lalu?" Tanya Dhafin sambil menarik Anant masuk kedalam mobil yang mengantarkan kepada mereka disebuah pabrik tua yang begitu menyeramkan.