
"Izyla lagi, Izyla lagi," gerutu seseorang di sebuah ruangan dengan pencahayaan minim.
"Apa yang perlu kita lakuin kak?" Tanya gadis kecil yang lebih muda darinya.
"Culik dia. Kita siksa dia disini."
***
Ke esokan harinya, entah sebuah rezeki bagi para siswa. Sekolah dipulangkan lebih awal. Kali ini Izyla harus pulang sendiri karena Wina ingin diantar oleh Dhafin.
"Ini kemarin salah lo, jadi sekarang gue harus nurutin Wina dulu," kata Dhafin dan pergi meninggalkan Izyla sendiri.
Di sela perjalanannya, tiba-tiba 2 mobil van di kanan kiri berhenti.
Penculik lalu, batin Izyla melihat kearah kanan. Namun bersamaan itu segerombolan dari arah kiri juga mendekat. Karena serasa diperebutkan oleh 2 kelompok Izyla pun berlari mencari keramaian.
Dhafin, kak Anant, batin Izyla.
Sampailah di jalan raya, sebuah tlakson terus berbunyi hingga ia syok dan terjatuh tepat didepan sebuah mobil sport. Dirasa begitu familiar ia mengetuk jendela disana. Dibukalah oleh pemilik mobil itu, tiba-tiba dibukalah kunci pintu dan Izyla masuk kesana.
"Kok udah pulang?" Tanya Anant.
"Kak bisa pergi dulu dari sini? Aku takut." Melihat Izyla yang sudah bercucuran keringat Anant pun mengiyakan perintah gadis itu. Diajaklah dia keperusahaan Anant bekerja.
"Ayo turun," perintah Anant.
"Tapi kak..-"
__ADS_1
"Ayo." Sambil menggandeng tangan Izyla. Menuntun gadis itu menuju ruangannya. Dalam perjalanan, beberapa mata melihat mereka. Tertegun dengan pemandangan itu serasa tak percaya, mereka tak bisa berbuat apapun kecuali diam ditempat.
"Makasih kak," kata Izyla ketika mendapat sebuah minuman dingin dari tangan Anant.
"Bisa ceritain?"
Sekitar 15 menit Izyla menceritakan kronologi dari pulang awal sampai ia bertemu Anant. Dengan rasa ketakutan tanpa sadar Izyla menangis. Entah atas dorongan apa tiba-tiba Anant memeluk Izyla. Seolah memberi ketenangan bagi adiknya itu.
"Udah gak papa, sekarang kamu aman. Mau pulang sekarang atau nanti?" Tanya Anant ketika dirasa Izyla sudah tenang.
"Apa bedanya?"
"Kalau sekarang yang nganter bawahanku. Kalau nanti siang, aku yang nganter."
"Nanti aja kak," kata Izyla yang masih berpikir penculik itu masih berusaha mengikutinya.
Sadar adiknya sudah tertidur, ia mendekati Izyla dengan hati-hati dan memernahkan tidurnya dengan kaki yang ia angkat diatas sofa dan mengambil bantal disofa samping untuk dipakai Izyla. Tak lupa jas yang melekati tubuhnya ia lepas untuk menutupi paha gadis itu karena hanya memakai rok pendek-seragam sekolah.
Beberapa waktu kemudian gadis itupun terbangun. Sambil mengucek-ucek mata tiba-tiba ia dikagetkan dengan seorang pemuda yang sudah ada didepannya. Lebih tepatnya menduduki meja kaca yang berada didepan sofa merah itu.
"Kebo," gerutunya.
"Kok lo? Kak Anant mana?"
"Di belakang," kata seseorang dengan nada bassnya yang seketika itu membuat Izyla menoleh kebelakang.
"Ayo pulang," ajak Dhafin sambil menarik Izyla untuk bangun.
__ADS_1
"Bentar," kata Anant sambil menghentikan aktifitas mereka. Segera ditalilah kedua lengan jas miliknya dipinggang Izyla.
"Thanks," ucap Dhafin mengerti maksud Anant.
"Gendong Fin," kata Izyla sambil merentangkan kedua tangannya. "Masih ngantuk." lanjutnya manja.
"Aku gendong?" Tawar Anant.
"Gak usah kak, aku berat kok," balas Izyla dengan nada malu.
"Tau berat ngapain nyuruh gendong? Kebo," gerutu Dhafin sambil berjongkok di depan Izyla.
***
Tepat 1 minggu sesuai waktu pemberian Anant kepada pesuruhnya. Mereka bertemu disebuah ruangan dengan pencahayaan redup seperti biasanya. Dengan ditemati bodyguard Anant duduk disebuah bangku disana. Sedangkan penculik bayaran yang berjumlah sekitar 10 orang bertekuk lutut di depan Anant dengan dibelakangi beberapa bodyguard.
"Nyulik anak kecil aja sulit amat," bentak Anant. "Apa gunanya badan besar kalau gak ada gunanya, hah?!" Terasa suasana hening dan penuh ketakutan Anant kembali berbicara "Karena gue sewa selama 1 bulan gak ada hasilnya, kalian gak dapet uang sepersenpun." Dan hendak bangkit dari bangku itu.
"Tunggu tuan," kata pemimpin itu hendak mendekati Anant tetapi detahan oleh bodyguard dibelakangnya. "Tuan, sebenarnya ketika kami hendak menculik nona Izyla, dia kabur dan masuk mobil tuan. Melihat itu kami juga kebingungan dan memilih untuk tidak mendekatinya." Jelasnya.
"Apa lo bilang? Maksud lo gue nolong Izyla? Gue gak pernah ketemu gadis itu dan bukan sembarang orang boleh masuk ke mobil gue," kata Anant penuh amarah karena seolah dia disudutkan agar mereka mendapat upah.
"Tapi itu faktanya tuan, ya kan?" Tanya pemimpin penculik itu yang mendapat manggut-manghut oleh semua anggotanya.
"Iya tuan, waktu itu pukul 10.30 nona Izyla pulang dan waktu itu mobil tuan berada dijalan raya sedang berhenti karena lampu berwarna merah." Yang kali ini salah satu anggota memberi kesaksian.
"Sepertinya yang mereka katakan apa adanya tuan, terlihat dari ekspresi wajahnya," bisik dokter psikolog yang ikut disana.
__ADS_1
"Baiklah, gue gak tau mana yang benar mana yang salah pokoknya dalam 1 minggu ini kalian harus bawa Izyla kehadapanku bagaimanapun caranya. Ingat! Tanpa melukai gadis itu! Karena gue gak suka melakukan kekerasan terhadap seorang gadis," jedanya "satu lagi tolong beri mereka 50% dari upahnya. Dan bila kalian bisa melakukan apa yang gue perintahkan. Gue bakalan ngasih 100% plus bonus buat kalian masing-masing."