Diantara Bintang

Diantara Bintang
Bab 21 : Pulang


__ADS_3

Sebuah pesawat lepas landas dari Eropa menuju Indonesia. Di dalam pesawat itu, Dhafin dan Izyla tengah menata barang bawaan dengan rapi. Sedangkan di ruang VVIP Anant juga ada disana, satu pesawat dengan mereka.


Beberapa jam kemudian pesawat sudah tiba di bandara kota BRIZY. Mengantri untuk turun di kelas ekonomi. Sedangkan Anant dengan mudah diberi jalan khusus.


"Aku bawain," kata Anant merebut koper milik Izyla.


"Gak usah kak, bisa bawa sendiri kok," jawab Izyla.


"Udah gak usah sok. Anggep aja kita berdua bodyguard lo. Ya gak nan?" Tanya Dhafin yang sudah mulai membuka diri kepada Anant.


"Tentu," balas Anant yang dapat membuat senyum Izyla mengembang.


"Mama, papa," teriak Izyla ketika melihat 2 keluarga itu menanti kepulangannya. Berlarilah dia dan mendapat sebuah pelukan dari kedua orang tuannya. Sedangan Dhafin hanya menyalami kedua orang tuanya.


"Oh iya pa, ma, yah, bun. Kenalin, ini kak Anant. Dia orangnya baik banget padahal orang kaya lho tapi mau temenan sama aku. Apalagi mau nganggep adik sendiri katanya," jelas Izyla mengatakan apa adanya. Mendengar pentuturan Izyla seketika membuat Ryan dan Liana tak percaya. Entah apa yang dipikirkan, Liana tanpa sadar mendekati Anant.


"Makasih ya nak. Kamu baik banget." Sambil memegang tangan Anant. "Mama boleh meluk kamu gak nak?" Tanya Liana dengan ragu.


"Tentu ma," balas Anant dengan senang hati. Entah perasaan apa, seketika itu air mata Liana terus mengalir ketika memeluk Anant.


"Mama kenapa menangis?" Tanya Izyla, polosnya.


"Enggak kok," balas Liana sambil melepaskan pelukannya yang menbuat Anant kebingungan.


"Kapan-kapan silahkan mampir ke rumah kami ya nak," tawar Rina sambil mencoba menenangkan Liana dalam dekapannya.


"Iya makasih tante, om. Kalau begitu saya pamit dulu ya." Pamit Anant dan menghilang dari sana.


Kek pernah ketemu, tapi kapan? Dan entah kenapa kalau lihat wajah mereka gue bisa kenal. Mungkinkah sebelum penyakit ini gue pernah bertemu?, pertanyaan yang terus menghantuinya


***


"Rindu Kio pa," kata Liana menangis dipelukan Ryan sambil memeluk sebuah album bertulis Zahkio Ryan Azaleo.

__ADS_1


"Mama tenang aja, bentar lagi Allah akan mempertemukan kita lagi dengan Kio ma," jawab Ryan mencoba menenangkan Liana.


"Iya, sepertinya Allah sudah menakdirkan untuk bertemu kembali," jelas Rina di sebuah ruang keluarga milik Izyla.


Disisi lain, Izyla tengah menata barang-barang dalam koper dikamarnya dengan dibantu Dhafin. Karena ia tahu, dibawah pasti akan ada drama melow-melow club. Jadi, dia memilih menemani Izyla bersamaan menghalangi gadis itu ketika akan turun kebawah.


***


"


Sayang!!! Jangan pernah lepas tangan mama!" Kata seorang perempuan yang masih bisa dibilang muda sambil menyembunyikan anaknya dibelakang badannya.


"Mama!!!" Teriaknya ketika direbut oleh salah satu seorang penjahat yang tengah mengelilingi mereka.


"Mimpi gitu lagi," gerutu seorang pemuda dengan keringat yang terus meluncur deras.


"Malem-malem kenapa belum tidur?" Tanya Leo ketika melihat Anant turun menuju dapur.


"Makanya cepat balaskan dendam papa. Karena gara-gara mereka, mama kini udah pergi nak. Dan bisa juga setelah ini, kamu gak bakal mimpi lagi," jelas Leo.


"Anant udah ada rencana buat besok pa."


"Bagus nak,"


***


Bel sekolah berbunyi menandakan waktu pulang sekolah tiba. Mendengar bel berbunyi, Kenta yang sedari tadi mrmilih tidur seketika bangun dan bersiap-siap pergi dari kelas sebelum guru yang mengajar menutup agenda hari ini. Dengan melompati beberapa meja untuk menuju pintu belakang ia lakukan agar misi hari ini cepat dia selesaikan.


"PENGUMUMAN BAGI ALDIANO DHAFIN PRATAMA DIHARAPKAN UNTUK KERUANG KEPALA SEKOLAH SEKARANG UNTUK MEMBAHAS SEBUAH LOMBA."


Seperti itulah pengumuman berbunyi, anehnya suara penyiar itu tidak seperti seorang guru yang membuat dahi Dhafin mengerut.


"Yah pulang sendiri dong," gerutu Izyla.

__ADS_1


"Mau nunggu?" Tanya Dhafin.


"Ogah! Lama." Dan meninggalkan Dhafin sendiri di kelas. Setelah kepergian Izyla beberapa menit lalu kini Dhafin menuju kantor kepala sekolah.


Perasaan baru masuk, mau lomba apa lagi?, batin Dhafin.


"Assalamualaikum." Sambil mengetuk pintu setelah sampai sekitar 10 menit berjalan di gedung seluas itu


"Sepertinya ada yang masuk ruang siaran pak," kata seorang karyawan disana.


"Maaf nak Dhafin, tadi ada sebuah kesalahan. Kamu boleh pulang," kata kepala sekolah.


"Tapi lombanya pak?"


"Gak ada. Tadi ada yang mempermainkan fasilitas sekolah." Mendengar itu Dhafin bergegas mengejar Izyla yang sudah 20 menit keluar sekolah.


Disisi lain, dengan sangat hati-hati Kenta membututi seorang gadis yang tengah memakai headset sambil bergumam sendiri. Karena rasa penasaran yang sudah memuncak iapun mencoba mendekati gadis itu. Namun bersamaan itu, tiba-tiba sebuah mobil van berhenti dan segerombolan orang mencoba menarik Izyla.


Melihat pemandangan itu tidak membuat Kenta berdiam diri. Dengan sigap ia mencoba menarik Izyla ke dalam lindungannya. Tak lupa ia juga menghajar beberapa orang yang mencoba mendekati mereka hingga kalah telak. Dirasa kawanan tambah banyak iapun menggenggam tangan Izyla untuk mencoba melarikan diri


"Ikut gue," tarik Kenta yang langsung diikuti Izyla. Menuju di sebuah jalan raya yang begitu ramai ia memilih masuk ke salah satu mini market disana. Mengamati pengejar di dalam sana hingga dapat bernafas lega ketika dirasa mereka sudah pergi.


"Maaf." lirih Izyla.


"Untuk?" Tanya Kenta sambil mengerutkan dahi.


"Maaf buat ketemu pas lagi kesusahan," jelas Izyla tak enak hati karena terakhir kali bertemu Kenta mengatakan bahwa dia sangat menyusahkan. "Maaf kalau selama kita ketamu aku nyusahin mulu, mending kalau mulai besok kamu gak usah ikut campur lagi aja." Dan berniat membuka mini market itu. Namun sebelum itu segera ditariklah kedalam pelukan Kenta. Mendapat perlakuan seperti itu membuat mata Izyla terbelalak. Sadar akan hal itu dilepaslah pelukan itu oleh Kenta.


"Anu.. jangan pergi," gumam Kenta pelan.


"Apa?"


"Anu.. itu," mencoba mencari jawaban yang tepat "Jangan pergi dulu! Nanti penculiknya kalau belum pergi gimana? Hah? Gue kagak mau lari lagi. Capek," jelas Kenta dengan nada membentak.

__ADS_1


__ADS_2