
Beberapa hari setelah menghadiri pernikahan Delila yang di lakukan secara sederhana, kini Galexia tengah di sibukan oleh rencana pernikahannya minggu depan. Dia bersama sang Mami terlihat membolak balikan majalah yang menampilkan banyak gaun pengantin dan juga kebaya untuk ijab kobul.
Sesekali Crystal memekik heboh saat melihat gaun dan kebaya indah yang membuat dirinya sangat bersemangat dalam memilih nya.
"Ini aja deh, kayaknya cocok banget buat kamu,"
Galexia memutar bola matanya, helaan napas kasarnya terdengar lagi. Sudah kesekian kalinya Sang Mami mengatakan hal yang sama saat menemukan sesuatu yang menurutnya indah dan menarik hati.
Bukan hanya satu dua, tapi sudah yang kesekian kalinya. Tidak mungkinkan dia akan memakai semua gaun serta kebaya yang di tunjukan oleh wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mi, pilih satu apa dua aja gak usah semuanya Mami tunjuk. Emangnya aku bakalan pake semuanya, enggak kan?"
Crystal terkekeh, dia mencubit dagu lancip Galexia dengan gemas sebelum dia kembali membolak balikan majalah yang ada di tangannya.
"Pokoknya kamu harus pakai warna gold kalo enggak rose gold, putih juga bagus. Ini nih warnanya elegan buat resep-,"
"Kita ke rumah sakit!"
Ucapan Crystal terhenti saat Galaska tiba tiba menyela nya. Pria berwajah khas eropa itu terlihat sangat serius dan terkesan khawatir. Bahkan Galaska dengan cepat meraih majalah yang ada di tangan istrinya, lalu menarik kedua wanita yang di sayanginya itu agar bangun dari duduknya.
"Kenapa sih, Pi?" tanya Crystal heran.
__ADS_1
Galexia juga sama herannya, namun dia tidak bertanya apa pun karena disini ada Crystal sang Mami yang akan menanganinya.
"Memangnya siapa yang sakit? Apa Dia atau-,"
"Eyang Damar kristis!" sahutnya cepat.
Kedua wanita itu terkejut, raut khawatir seketika tercipta dan mereka tidak lagi dapat membantah saat Galaska kian melakukan langkahnya. Sepertinya keadaan Eyang Damar tidak baik baik saja sekarang hingga membuat Galaska di landa kepanikan.
Entah mengapa kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya harus kehilangan orang yang di seganinya serta sayangi, Opa Ilham harus kembali dialaminya. Dan kini kejadian itu harus kembali mereka rasakan, dan Galaska berharap kalau Eyang Damar akan kembali sehat.
π
π
π
Eyang Damar di nyatakan meninggal setelah dirawat beberapa jam sebelum kepergiannya. Padahal Barata mengatakan kalau sang Ayah terlihat sehat, namun setelah pria sepuh itu mengkonsumsi obat rutinnya lalu beristirahat, tiba tiba saja napasnya terdengar dan tidak sadarkan diri. Menurut dokter beliau sudah lelah, obat obatan yang selama ini di konsumsinya hanya sedikit memperpanjang usianya bukan untuk menyembuhkannya.
Penyakit tua sudah tidak dapat dihindari.
"Ayo pulang, Divta udah nunggu kamu,"
__ADS_1
Galaska menepuk pundak Galexia saat acara pemakaman sudah selesai. Pihak keluarga besar Eyang Damar pun perlahan meninggalkan area pemakaman walaupun hati mereka sangat tidak ikhlas. Terlebih Eyang Anin, sedari tadi wanita sepuh itu terus saja menunduk dan menangis tanpa suara saat banyak pelayat yang mengucapkan bela sungkawa padanya.
Galexia melirik ke arah pusara Eyang Damar, dia menyelipkan doa untuk orang baik itu. Karena semasa hidupnya Eyang Damar tidak pernah sekali pun membedakan dirinya dengan cucu kandungnya, walaupun dia hanya cucu dari adiknya Reina. Sayang Eyang Reina tidak bisa datang tepat waktu karena beliau pun sering sakit setelah kehilangan Opa Ilham. Dan kini Eyang Reina berada di Spanyol bersama Ragata dan Elira.
Galaska menuntun istri serta anaknya menuju mobil. Disana sudah ada Pradivta yang berpenampilan cukup lusuh serta kotor karena membantu memakamkan Almarhum Eyang Damar. Walaupun ada orang yang khusus menguburkan, tapi pihak keluarga menginginkan kalau anak, menantu, cucu serta cicitnya lah yang ikut serta, penghormatan terakhir untuk beliau.
"Kamu pulang ke rumah Papa aja. Mandi dulu baru pulang kerumah!"
Pradivta tidak bisa membantah, dia mengangguk dan kemudian masuk kedalam mobil setelah Galexia dan kedua mertuanya juga ikut masuk.
"Kalo kayak gini berarti pernikahan aku sama Mas Divta di undur lagi, ya Pa?" cetus Galexia.
Kedua mata abu abunya menatap pada Galaska, dan perlahan bergulir pada Pradivta. Mereka tidak mungkinkan menikah saat berduka seperti ini? Walaupun minggu depan acaranya, tapi apakah bisa dan tidak mengganggu?
"Nanti kita bicarain, sekarang kita pulang dulu!"
Galaska menepuk pundak calon menantunya agar pria muda itu segera menjalankan mobil keluar dan meninggalkan area pemakaman.
__ADS_1
selamat jalan Eyang Damarππππ