
"Ini yang Anda minta, Komandan."
Pradivta menyerahkan sebuah chip pada pria paruh baya yang tengah berhadapan dengannya. Benda yang selama ini dia simpan dengan baik kini dikembalikan pada orang yang memang harus memegangnya.
Saat ini penampilan Pradivta terlihat resmi dengan seragam kebesaran miliknya yang jarang sekali dia pakai. Pradivta justru lebih sering memakai pakaian biasa layaknya warga sipil bahkan terkesan seperti preman pasar, pemulung dengan pakaian yang tidak layak pakai, bahkan sampai jadi orang gila.
"Kita akan melihat isinya besok. Sekarang kau bisa bergabung dengan tim mu, sebagai komandan tim."
Pria bertubuh jangkung itu mengangguk, dia segera memberikan hormat sebelum dirinya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan atasannya. Sesampainya di luar, pria itu menghela napasnya kasar, Pradivta melepaskan topi kepolisian yang dipakainya lalu mendudukkan diri didekat rekannya, Sigit Pramana.
"Posisi mereka sudah kita dapatkan, tinggal eksekusi!"
Pradivta menoleh, dia tidak mengatakan apa pun hanya mengangguk lalu bangkit berjalan menuju ke arah luar diikuti oleh Sigit. Kedua pria yang berusia 26 tahun itu melangkah lebar menuju sebuah mobil jeep hitam yang akan mereka pakai hari ini.
"Apa anak anak sudah siap?" tanya Pradivta. Dia melirik pada Sigit yang tengah mengisi magazine pistolnya yang akan di gunakan saat genting nanti. Sementara Pradivta terlihat melepaskan seragam kepolisian yang masih dipakainya, menyisakan kaos hitam polos dan celana hitam berkantung banyak.
__ADS_1
Tidak sengaja ekor matanya menatap pada cincin putih sederhana yang melingkar indah di jari manis kanannya. Sudut bibir Pradivta terangkat, matanya menatap lekat pada benda yang sudah mengikatnya erat dengan seorang gadis cantik.
Cup!
Dengan sadar dia mengecup dalam benda itu sembari menggumamkan kata 'Tunggu aku ya'. Sigit yang saat ini telah menyelesaikan tugasnya reflek melirik, dahinya mengernyit saat melihat sangat komandan timnya tengah tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Kita selesaikan dengan cepat Ndan, biar yang lagi nunggu di rumah enggak lama nunggunya," cetusnya.
Sigit kembali sibuk, dia juga terlihat melepaskan seragamnya dan menukarnya dengan kaos hitam yang masih melekat pada tubuhnya. Sementara Pradivta terlihat menaikan wajahnya, sudut bibirnya masih terangkat, dia tahu apa maksud Sigit. Karena sebenarnya Sigit dan rekannya yang lain tahu kalau dirinya sudah menikah, tapi memang tidak dapat datang saat ijab kobul kemarin. Karena banyak tugas negara yang harus mereka selesaikan, terlebih acaranya mendadak tidak dijadwalkan jadi sulit untuk mengambil libur. Dirinya saja beruntung karena Komandan utama dan kantor memberikan keringanan untuknya selama 3 hari dan hari ini dia harus kembali menjalankan tugasnya lagi.
"Baiklah, ayo kita buru mereka sampai tuntas!" desis Pradivta sembari mengokang pistol yang akan dia jadikan selingkuhannya hari ini.
Sementara di tempat lain, cuaca sore yang sedikit mendung membuat seorang gadis terus saja menatap ke arah jendela kaca. Langit semakin menghitam, dia yakin hujan deras akan turun sebentar lagi.
"Eyang yakin suami kamu akan baik baik saja Nak, percaya sama Eyang."
__ADS_1
Gadis itu berbalik saat mendengar suara wanita tua yang sudah menjadi Eyang mertuanya. Sang gadis tidak menyahut, dia hanya menipiskan bibirnya, menghembuskan napas pelan, berusaha menampilkan raut wajah baik baik saja. Padahal saat ini hatinya tidak baik baik saja, dia pun tidak tahu kenapa bisa begitu.
"Eyang udah minum obat?" tanyanya.
Dia mencoba mengalihkan pembicaraan, entah kenapa ada rasa malu saat ada orang yang memergokinya tengah mengkhawatirkan pria yang tengah bertugas di luar sana. Pria yang sudah menjadi suaminya, pria itu meninggalkan dirinya di rumah orang tuanya.
"Sudah, Eyang sudah minum obatnya. Ayo masuk, kayaknya hujan bakalan deras. Jangan mikirin apa pun, yakin kalau Divta pasti akan baik baik saja dan pulang dengan selamat tanpa kurang apa pun."
Kali ini Galexia mengangguk, dia tersenyum tipis pada Eyang Sari dan segera merangkul tubuh wanita tentang itu. Malam ini mereka masih berada di kediaman Galaska, besok pagi barulah keduanya akan pulang ke kediaman Eyang Sari.
'Aku tunggu janji kamu Mas Divta, awas aja nanti kalo pulang luka luka!' batinnya gemas.
AKU UDAH NUNGGUIN LOH MAS😘😘😘
__ADS_1