Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Berubah 180 Derajat


__ADS_3

Galexia meringis saat Pradivta merebahkan nya di tempat tidur. Dia berusaha menggeser tubuhnya sedikit ke tengah, walaupun cukup sulit karena bahunya masih terasa sakit dan perih.


"Kamu istirahat, Mas mau liat Eyang dulu." ucap lembut Pradivta.


Pria itu bahkan mengusap pucuk kepala Galexia sebelum menyematkan kecupan lembut di dahi istrinya. Pradivta menipiskan bibirnya, dia perlahan menjauh sembari mengusap lembut salah satu pipi mulus Galexia.


Setelah melihat istrinya mengangguk dan perlahan merebahkan dirinya di tempat tidur, barulah Pradivta keluar dari kamar dan berencana menemui Eyang Sari di kamarnya.


"Ndan, saya kembali ke kantor. Sigit ngabarin kalo-,"


"Iya, nanti saya nyusul." Pradivta menyela ucapan Jenika.


Gadis berpakaian serba hitam itu mengangguk, lalu berbalik dan segera keluar dari rumah komandan tim Black Mamba. Dia harus kembali bertugas, disana Sigit dan yang lainnya pasti masih menginstrogasi para pelaku yang mencoba untuk menculik Galexia.


Jenika sangat yakin kalau keempat orang yang berhasil mereka amankan itu tidak akan dengan mudah membocorkan informasi kelompok kriminal yang mereka ikuti. Akan banyak waktu dan tenaga yang harus mereka korbankan agar bisa mendapatkan informasi yang valid.


Begitu pula dengan Pradivta sekarang, saat ini dia tengah berpikir kalau dia dan timnya pasti tidak akan mudah untuk mendapatkan informasi penting tentang pemilik chip yang ada di tangan mereka saat ini. Tapi yang jelas dia yakin pasti masalah ini berkaitan erat dengan isi benda penting didalam cangkang kecil tersebut.


"Eyang," panggil Pradivta pelan.


Dia membuka pintu kamar wanita sepuh itu, senyuman Pradivta mengembangkan saat melihat sang Eyang bangkit dan berjalan cepat menuju ke arahnya.


"Gimana Xia, apa dia baik baik saja? Eyang ingin melihatnya, Eyang sangat khawatir dan takut," Kedua mata Eyang Sari berkaca kaca, dia memeluk tubuh tegap cucunya dan terisak disana.


Ingatan buruk tentang luka yang dialami oleh Galexia masih terekam jelas dan terus saja berputar seperti rekaman. Eyang Sari benar benar takut saat melihat kondisi Galexia tadi, dia takut kalau cucu menantunya terluka parah terlebih saat kedua matanya melihat sendiri bagaimana bahu sang cucu terkoyak pisau.

__ADS_1


"Enggak apa apa Eyang. Istri Divta baik baik saja, luka di bahunya juga pasti akan segera sembuh. Eyang jangan nangis lagi ya, istirahat jangan capek nanti Eyang bisa sakit. Divta harus kantor lagi, mau menyelesaikan masalah ini, Divta titip istri Divta ya Eyang." ucapnya lembut.


Pradivta meregangkan dekapan Eyang Sari, mengusap pelan air mata wanita sepuh yang sudah membesarkannya dengan segenap jiwa dan raga. Dia berusaha tersenyum agar Sang Eyang tidak lagi khawatir atau pun takut secara berlebihan.


"Kalau Eyang mau lihat Xia, masuk saja. Divta harus berangkat sekarang, kalau ada apa apa segera kabarin." imbuhnya.


Pradivta tersenyum melihat Eyang Sari mengangguk, dia memberikan kecupan di punggung tangan wanita tua itu sebelum keluar dari kamar dan harus bergegas kembali ke kantor.


Eyang Sari hanya bisa menghela napas kasar melihat kepergian cucunya, dia berusaha tenang dan segera menemui Galexia.


🌺


🌼


Hanya butuh beberapa belasan menit akhirnya Pradivta sampai di tempat tujuan. Dia bergegas turun dari motornya dan melangkah lebar memiliki memasuki bangunan tempatnya bertugas, bahkan pria itu sampai membawa helm full face yang dipakainya hingga kedalam.


"Dimana mereka?" tanyanya tanpa basa basi.


"Ada di ruang interogasi, Ndan!"


Tanpa menyahut lagi Pradivta segera melangkah menuju tempat yang disebutkan. Kedua tangannya terkepal, rahangnya mengetahui saat teringat bagaimana kondisi Galexia saat dirinya sampai dilokasi kejadian.


Kalau saja dirinya bisa sesuka hati melampiaskan kemarahannya saat ini, jangan harap kalau wajah para bajingan itu masih berbentuk.


"KATAKAN! KALAU TIDAK AKU TIDAK AKAN SEGAN SEGAN UNTUK-,"

__ADS_1


'Sigit, istirahat lah. Biar aku yang mengambil alih, kita lihat seberapa kuat mereka membungkam mulut." Pradivta menyela ucapan penuh emosional Sigit, dia menepuk bahu rekannya dan menyuruh pria yang masih terlihat kesal itu untuk segera keluar dari ruang interogasi.


Selepas kepergian Sigit, ekor mata Pradivta melirik pada mereka yang berhasil melukai istrinya. Perlahan kedua kaki panjang berbalut boots hitam itu mendekat, dan berdiri tepat dihadapan ke empat orang yang berjenis kelamin laki laki, dan masih terlihat begitu muda. Mungkin mereka ini masih anak remaja, bisa dilihat dari wajah wajah yang tengah menunduk dalam itu.


"Sampai mana Sigit tadi, hm? Apa kalian sudah menjawabnya semua pertanyaannya dengan jelas dan benar? Atau-,"


Kedua mata tajam Pradivta tertuju pada keempatnya. Mereka semakin beringsut dan menunduk saat melihat sepatu hitam legam milik sang komandan tim Black Mamba berada tepat di hadapan mereka.


Kreekk!


"AAAKKHH!" teriakan kesakitan salah satu dari pelaku tidak dapat dielakkan lagi saat sepatu boots hitam itu menginjak tangannya yang berada di atas lantai dingin.


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk melukai wanita itu dengan tangan ini?!" tanyanya dengan nada datar dan dingin.


Pradivta begitu mengintimidasi, dia tidak terlihat seperti biasanya. Tidak ada tatapan hangat dan konyol yang sering diperlihatkan pada Eyang Sari dan Galexia. Yang ada hanya sikap tegas, keras bahkan terkesan kejam seperti yang sedang dia tunjukan sekarang.


"Katakan, aku tidak suka menunggu!" temannya lagi, dan injakannya kian kuat membuat wajah korbannya memerah dan memohon untuk dilepaskan. Tapi sayang Sang komandan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan, terlebih tangan yang sedang dia injak sudah berani melukai orang yang berarti didalam hidup serta hatinya.



SABAR MAS SABAR



CINI CIUM DULU🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2