Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Ada Yang Aneh


__ADS_3

Huueeekkk...


Pradivta terus saja menungging di kloset saat perutnya terasa bergejolak dan menumpahkan seluruh sarapannya tadi pagi.


Selepas Apel Pagi Pradivta merasakan ada yang aneh dari dalam tubuhnya tidak seperti biasa, padahal sedari bangun tadi subuh hingga dirinya berangkat bertugas lalu melakukan aktifitas bersama rekan kerja serta anggota tim Black Mamba.


"Komandan, anda baik-baik saja?" Sigit terengah-engah mengejar sang komandan tim Black Mamba yang berlari setelah meneguk air mineral yang diberikannya tadi membuatnya khawatir.


Tok...


Tok...


Tok...


Sigit kembali menggedor pintu berulang kali. Terlebih dirinya tidak mendengar suara apapun lagi dari dalam toilet, Sigit menduga kalau Komandan sekaligus temannya itu pasti tidak sadarkan diri di dalam.


"Komandan!" Panggilnya lagi lebih keras.


Sigit sudah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu toilet, tapi sayang belum sempat dia menyentuh pintu tersebut Pradivta keluar terlebih dahulu dengan wajah sayu dan basah. Bahkan rambut hingga pundaknya juga terlihat basah, sepertinya sang komandan menenggelamkan seluruh kepalanya kesasar bakal toilet.


"Aku tidak apa-apa. Ayo, yang lain sudah menunggu!" Pradivta mendahului Sigit yang terlihat menggaruk kepala bagian belakangnya.


Pria muda itu menghela napas kasar, dia meraup wajahnya menggumamkan rasa syukur saat melihat Pradivta terlihat baik-baik saja walaupun sedikit lebih pucat dan lemas.

__ADS_1


"Komandan enggak keracunan air yang gue kasih kan?" Tanyanya pada diri sendiri.


💕


💕


💕


Jarum jam bergulir lebih cepat, matahari sudah terlihat condong ke arah barat. Para makhluk bumi yang baru saja menyelesaikan segala urusannya di siang hari tadi kini sudah bergegas pulang ke kediaman masing-masing.


Begitu juga dengan Pradivta, pria berkaos hitam itu baru saja sampai dirumah Eyangnya. Dengan langkah gontai dan lesu Pradivta memasuki area rumah, saat ini tubuhnya terasa lebih lelah dari sebelumnya. Aneh sekali menurutnya, padahal biasanya seberat apapun tugas yang dia jalankan Pradivta tidak pernah merasa selelah ini.


"Assalamu'alaikum...,"


"Waalaikumsalam...," Sahut seseorang dari dalam rumah.


"Sudah pulang kamu Div?" Tanyanya dengan antusias.


Pradivta mengangguk setelah mengalami Eyang Sari. Kedua mata pria itu terlihat mengedar mencari seseorang yang dirindukannya sejak tadi.


"Kebetulan, cepat kamu ke kamar sana. Nak Xia sejak kamu berangkat muntah-muntah, istrimu juga malah gak naf*su makan gara-gara itu. Eyang sudah bujuk dia dari tadi siang tapi tetap enggak mau," Eyang Sari menghela napas. Dia khawatir dengan keadaan cucu menantunya, sudah begitu Galexia malah melarangnya untuk memanggilkannya bidan yang tidak jauh dari rumah ini, di tambah lagi wanita berwajah bule itu enggan memberitahu keadaannya pada Pradivta.


"Ya sudah Divta lihat Xia dulu ya Eyang!"

__ADS_1


Tanpa membuang waktu lagi Pradivta bergegas menemui istrinya. Detak jantungnya makin tidak karuan mendengar berita yang Eyang Sari sampaikan, bahkan perutnya terasa kembali bergejolak saat rasa khawatir begitu saja menyerangnya.


"Sayang...!" Panggilnya penuh rasa khawatir.


Pradivta membuka pintu kamar dengan kencang, napasnya terengah-engah, bola mata tajamnya tertuju pada seorang wanita yang tengah bergelung dengan selimut.


"Hei... kata Eyang kamu muntah-muntah tadi pagi, apanya yang sakit hm? Coba bilang sama Maa!" Ucapan Pradivta terdengar begitu lembut. Tangannya terulur mengusap permukaan wajah Galexia lalu naik kearah dahinya. Tidak panas, suhu tubuhnya terasa normal, seru napas wanitanya juga stabil begitu pun dengan detak jantungnya.


"Kepala aku pusing. Aku mau tidur, Mas." Ucap Galexia lemas.


Wanita itu kian mengeratkan dekapannya pada selimut, tapi hanya sebentar karena saat ini dia merasa kalau ada sesuatu yang akan bisa membuatnya lebih hangat serta nyaman dari selimut.


Galexia meraih lengan Pradivta, memeluknya posesif seakan takut akan ditinggalkan lagi. Wanita cantik itu membawanya ke dalam dekapan, menyembunyikannya diarea dada hingga membuat tubuh Pradivta terhuyung kian merapat padanya.


"Kita ke dokter ya," Ajaknya.


Tangan Pradivta yang menganggur mengusap pucuk kepala Galexia. Pria itu terlihat menghela napas pelan saat melihat istrinya menggeleng dan kian mendekap erat lengannya.


Sebenarnya disini bukan hanya Galexia yang lemas, pusing, mual, tapi dirinya pun juga tengah mengalaminya. Terasa aneh saja, masa iya mereka muntah janjian hari ini, tidak seperti biasa. Kalau memang ada yang salah sama sarapan yang mereka makan tadi pagi hingga membuat mereka berdua seperti ini, seharusnya Eyang Sari juga bernasib sama kan? Tapi ini-


Pradivta menggeleng, dia tidak mau memikirkan hal yang membuat kepalanya kian berdenyut. Pradivta memilih untuk ikut berbaring bersama Galexia, mendekap tubuh istrinya dari belakang sembari memberikan kecupan diarea tengkuk wanitanya.


Besok pagi sepertinya dia harus mengambil cuti, dirinya dan Galexia harus memeriksakan kesehatan mereka berdua ke dokter.

__ADS_1



JOS GANDOS POKOKE 🤣🤣


__ADS_2