Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Bukan Wanita Lemah


__ADS_3

Dua hari berikutnya...


Selepas Galexia keluar dari rumah sakit dia dan Pradivta tidak diizinkan pulang ke kediaman Eyang Sari, tapi diharuskan pulang ke kediaman Galaska, termasuk Eyang Sari pun diboyong ikut kesana.


Dan sekarang Pradivta dan Galexia tengah duduk dihadapan Nonno Nagara dan Galaska, sang Papi. Tidak hanya kedua pria berwajah bule itu, tapi ada Crystal juga Oma Lovyna ada disana juga.


Mereka belum berbicara serius, masih terlihat santai menyambut kedatangan pasangan muda tersebut. Galexia bahkan terlihat bersikap tidak seperti biasanya, entah kenapa wanita itu lebih menempel pada suaminya akhir akhir ini. Seperti sekarang, Galexia tidak malu atau pun risih saat melihat beberapa mata melirik kearahnya dengan tatapan sulit terbaca.


Bagaimana tidak kalau saat ini gadis jutek, judes dan baru baru itu tengah memeluk lengan kekar Pradivta tanpa menghiraukan luka yang ada di bahunya. Sangat berbeda jauh dari sebelum keduanya menikah, jangankan saling beradu fisik, berbicara saja seperti orang yang tidak kenal. Yang bersikap seperti itu tentunya Galexia, memangnya siapa lagi? Karena sejak awal Pradivta terlihat sudah menaruh ketertarikan pada wanita yang sedang menempelinya bagai anak lintah.


"Kalian akan tinggal disini selama bahu Xia belum sembuh dan Divta cuti bertugas. Eyang Sari juga, Papi enggak mau ada penolakan!"


Suara bass Galaska mampu membuat pasangan muda itu mengatupkan bibirnya rapat, mereka berdua pasrah tidak melawan atau pun membantah sama sekali. Sementara Eyang Sari juga tidak bisa berbuat apa pun, kejadian yang menimpa cucu menantunya cukup membuatnya shock alhasil dirinya menurut saja.


Ekor mata Galexia melirik pada Pradivta, perlahan bola mata abu abu indah itu bergerak menyusuri satu persatu manusia yang ada disana, termasuk pria jangkung yang sedang duduk tidak jauh dari mereka. Dahi Galexia berkerut kalau melihat sorot mata tajamnya, dia mengikuti kemana arah mata tajam itu memandang dan ternyata terarah pada suaminya.


'Dia kenapa?' pikir Galexia.


Wanita itu kembali mengalihkan pandangan kalau si pemilik mata tajam itu menyadarinya tengah memperhatikan, Galexia sedikit menegakkan tubuhnya dan meregangkan pelukannya dari lengan Pradivta.

__ADS_1


" Aku ke toilet dulu ya Mas," bisiknya.


Tanpa menunggu jawaban dari sang suami Galexia bergegas bangkit, dia berjalan cepat saat merasakan jantung kemih nya sudah penuh dan tidak dapat di tahan lagi. Kamar mandi di dekat dapur menjadi pilihannya, terlalu jauh kalau menuju kamar mandi yang berada dikamarnya.


Galexia mendes*ah lega saat hajatnya sudah keluar, dia segera membasuh diri dan merapihkan celananya. Sudut bibirnya terangkat sedikit saat pikirannya kembali tertuju pada seseorang.


"Kenapa gue jadi kayak orang bucin gini sih, bawaannya kangen terus padahal dari tadi udah nemplok kayak tokek." gumamnya.


Bulu kuduk Galexia meremang saking gelinya, baru kali ini dia merasakan sesuatu yang tidak biasa dan tidak pernah dirasakan sebelumnya.


"Bodoamat, orang dia lakik gue!" ucapnya lagi.


"Dia tidak bisa melindungimu, Nona. Kenapa kau mau menerimanya sebagai suami? Bukankah sedari dulu hanya aku yang selalu bisa kau andalkan."


Galexia menolehkan kepalanya, alisnya terangkat naik melihat seseorang yang sangat dia kenal sejak kecil.


Edgar


Pengawal kesayangan sang Nonno sekaligus teman masa kecilnya saat dia dan keluarganya pulang ke Spanyol. Bukan pulang, lebih tepatnya berkunjung ke negara asal Nonno dan mendiang buyutnya Crishtian Lincoln. Tapi entah kenapa Nonno Nagara tidak memakai nama Lincoln di belakang namanya, melainkan Samudera. Padahal Lincoln adalah nama marga keluarga kandungnya.

__ADS_1


"Dia suamiku sekarang, kau harus menghormatinya sama seperti kau menghormati aku, Nonno, Daddy, Oma dan Mami." Galexia kembali melangkah, mengabaikan tatapan tak terbaca yang dilayangkan oleh Edgar padanya.


Dia tidak suka mendengar ucapan pria itu. Terlebih saat Edgar mengatakan kalau Pradivta tidak bisa melindunginya.


Ck, Galexia berdecak dan tertawa kecil dibuatnya. Tidak bisa melindunginya? Selama dia bisa melindungi dirinya sendiri tidak masalah kalau Pradivta belum bisa melindunginya dan ada untuknya selama 24 jam.


"Dia tidak pantas untukmu Nona! Kau bisa mendapatkan orang yang lebih darinya dan bisa melindungimu dari-,"


BRAAKK!


Belum sempat Edgar menyelesaikan ucapannya satu buah guci kramik hancur berantakan kalau Galexia menendangnya tanpa ampun. Wanita itu tidak peduli dengan harga atau pun sejarah benda tersebut. Rasa panas yang sedari tadi tertahan kini meledak keluar dan tidak dapat di tahan lagi, bahkan akibat suara gaduh tersebut Pradivta serta yang lainnya terlihat mendekat dengan tergesa-gesa.


"Ada apa-,"


"Sudah ku bilang tutup mulutmu! Jangan mentang mentang kau pengawal kesayangan Nonno Nagara dan anak asuh Aunty Melody kau bisa seenaknya padaku dan suamiku. Dengarkan aku baik baik Edgar, biar pun suamiku tidak bisa melindungimu aku bukan wanita lemah yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Karena itulah aku menerima dia menjadi pasanganku, hanya wanita kuat yang bisa bersamanya dan itu adalah aku!" Ucapan Galexia terkesan tenang, namun dia menekan setiap kata yang dilontarkannya terlebih kata SUAMI dan WANITA KUAT.


Dia menegaskan kalau dirinya tidak butuh dilindungi oleh siapa pun karena masih bisa melindungi apa yang ada didalam tubuhnya. Dia bukan wanita lemah seperti yang pria itu bayangkan.


__ADS_1


SENYUMANMU BIKIN MAS INTEL TAMBAH KUAT NENG😭😭


__ADS_2