
"Bagaimana?"
Pradivta sigap menoleh saat melihat seseorang mendekat lewat sudut matanya, dia menegakan tubuhnya yang sudah terbalut seragam khusus yang sering dipergunakannya dan timnya.
Kepala berbalut topi hitam itu menegakkan, sorot matanya menajam saat melihat sang komandan utama memberikan sebuah tab padanya. Tangan berbalut sarung tangan hitam itu menerimanya cepat, pandangannya teralih pada benda persegi yang tengah menampilkan sebuah rute.
"Kalian akan membutuhkan itu. Hati hati dan pulanglah dengan selamat!"
"Laksanakan komandan!" sahut Pradivta tegas.
Dia memberikan hormat pada pria setengah baya yang terlihat menyunggingkan senyuman tipis, satu tangannya menepuk bahu kokoh Pradivta, memberikan semangat pada anak asuhnya serta timnya agar bisa menjalankan tugas berat ini dengan cepat dan berhasil sesuai rencana.
Pradivta menghela napas kasar saat melihat atasannya itu berbalik dan keluar dari ruangan. Dia menatap lekat pada titik merah yang menandakan target berada di daerah tersebut.
"Bersiap, kita akan berangkat sekarang!" titahnya tegas dan keras.
"LAKSANAKAN KOMANDAN!" sahut para anggota timnya.
Sang komandan tim meletakan benda itu di meja, dia bersikap mengisi magazine pistolnya dengan peluru. Tidak boleh ada ruang yang tersisa, semua peluru yang dia miliki harus ikut masuk kedalam magazine.
Kraak... Kraak...
Dengan lihai Pradivta memainkan senjata api miliknya, tatapannya kembali menajam terlebih saat dia mengingat bagaimana kondisi Galexia saat ini. Rasanya dia ingin sekali menghajar keempat orang yang saat ini sudah berada di dalam tahanan, walaupun enggan membuka mulut. Tapi ternyata keputusan yang dia ambil berhasil, padahal Pradivta ragu saat menyuruh Sigit menghancurkan chip tersebut, karena hanya benda itu satu satunya yang mereka miliki untuk bisa menangkap pemilik aslinya.
__ADS_1
Tapi nyatanya benda itu pula yang akhirnya membawa dia dan timnya menemukan si biang keladi. Bukan hanya soal jual beli obat obatan terlarang dan senjata api, tapi juga ada kasus lain yang akan menjerat sang target yaitu jual beli human, perdagangan manusia.
"Ayo!" seru Pradivta, dia segera melangkah memimpin para anggota timnya dan bergegas menuju mobil jeep hitam yang akan digunakan oleh mereka.
Ada 5 sampai enam mobil, tiga mobil jenis jeep dan juga mobil patroli kriminal yang jarang mereka pergunakan. Karena kebanyakan dari anggota tim Black Mamba akan memilih berjalan kaki sembari mendoronh gerobak, atau sembari membawa karung dan sapu sembari berjalan kaki.
Intinya pedagang, pemulung bahkan tukang sapu jalan.
Disaat Pradivta sibuk menangkap mangsa, malam ini Galexia justru di buat tidak dapat memejamkan kedua matanya. Tangannya sibuk mengotak atik layar ponselnya, dia tengah bertukar pesan dengan seseorang.
"Tante Mel, tolong perintahkan Edgar untuk berjaga di sekitar rumah suamiku. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, yang jelas tolong jangan katakan apa pun pada Nonno Nagara atau Papi!" send.
Galexia menghela napas berat saat berhasil mengirim pesan lewat TELEGRAM pada seseorang. Mata abu abunya terus saja tertuju pada jendela kaca, raut wajahnya terlihat khawatir tidak seperti biasanya. Terlebih saat dia kembali mengingat kejadian yang menimpanya beberapa puluh jam yang lalu, mungkin kalau dirinya sendiri di rumah ini tidak akan sekhawatir ini, tapi disini ada Eyang Sari yang harus dia lindungi.
Galexia yakin kalau teman dari keempat orang yang sudah berani mencegat serta melukainya itu pasti tidak akan tinggal diam. Dan sekarang dia tahu mereka bukan musuh Nonno buyutnya, melainkan penjahat yang harus di berantas oleh Suaminya.
"Gue belum siap jadi janda muda tanpa anak Mas! Liat aja kalo lo sampai pulang bawa luka, gue tambahin!" desisnya.
Jder!
Kilat mulai menyambar, sepertinya mendung yang menggelayut tadi sore berubah menjadi butiran air malam ini. Lagi lagi Galexia dilanda khawatir, terlebih saat melihat hujan turun dengan lebat dan deras.
"Moga aja Tante Mel baca pesan gue, terus Edgar bisa datang." gumamnya penuh harap.
__ADS_1
Sraak!
Galexia menutup gorden yang menutupi jendela kaca, dia segera melangkah masuk kedalam rumah saat mendengar sayup sayup Eyang Sari memanggilnya. Wanita berpakaian santai itu menghilang dibalik pintu, dan tidak lama setelah Galexia masuk kedalam kamar Sang Eyang seseorang perlahan menampakkan diri di tengah derasnya hujan. Bibirnya tertarik membentuk seringai, pandangan tajamnya terarah pada jendela kaca yang tadi di tempati oleh Galexia.
Tubuh berbalut hoodie hitam serta penutup kepala serta wajah itu kian mendekat ke area rumah. Dia sempat menghentikan langkahnya, lalu perlahan menegakan kepalanya hingga mengadah keatas dan tersiram derasnya air hujan.
Seringai nya kian melebar saat melihat kamera CCTV yang terpasang tidak jauh dari nya.
Tanpa takut dan ragu dia kembali melangkah dan mendekat kearah jendela, lalu-
PRAAANG...!
Jendela kaca tebal itu pecah berhamburan saat sebuah kapal berkepala hitam menghantam nya tanpa ampun. Seringainya kian melebar saat melihat lubang menganga lebar yang bisa dia masukin sekarang.
Walau hujan deras kedua telinga Galexia masih bisa mendengar pecahan kaca dari luar kamar, wanita itu segera bangkit dari tempat tidur dan hendak turun, tapi sayang Eyang Sari mencekal lengannya yang sehat dan menggeleng pelan.
"Tetap di sini, Eyang yakin itu bukan sesuatu yang baik." bisiknya.
Galexia terdiam, dia bimbang harus mengambil keputusan apa. Dilain sisi dirinya tidak ingin membuat Eyang Sari khawatir, di sisi lain dia penasaran dengan keadaan diluar kamar ini.
Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang? Tetap diam atau mengambil tindakan?
__ADS_1