
Galexia menarik handle pintu dengan pelan dan perlahan, kedua mata abu abunya menatap penuh waspada ke setiap penjuru rumah. Setelah bersusah payah membujuk serta meyakinkan Eyang Sari bahwa mereka berdua pasti akan baik baik saja, akhirnya wanita sepuh itu menyerah juga. Bahkan sekarang Eyang Sari ikut membuntuti cucu menantunya dari belakang sembari membawa sebuah raket nyamuk full cas.
Praang!
Suara pecahan benda membuat langkah keduanya terhenti. Galexia yang berjalan didepan segera menarik lengan Eyang Sari saat melihat siluet seseorang semakin mendekat kearah mereka.
Kedua wanita beda usia itu merapatkan tubuhnya di tembok. Galexia menggenggam erat benda yang ada di tangannya, kedua matanya terpejam erat, telinganya yang lumayan peka berusaha mendengar setiap suara yang di timbulkan oleh orang asing yang kian mendekat.
Tuk
Tuk
Tuk
Suara derap langkah berbalut sepatu semakin mendekat, pegangan keduanya kian mengerat pada benda yang akan di pergunakan sebagai senjata.
Pyaarr!
Belum sempat Galexia dan Eyang Sari keluar dari persembunyian, sebuah vas kaca sudah luluh lantai di atas lantai. Bunga mawar yang tadi pagi disimpan disana tergolek tak berharga, bahkan diinjak dengan kejam oleh si pelaku.
"Aku tau kalian ada disini? Ayo keluarlah, aku tidak akan menyakiti kalian, aku hanya ingin berkenalan lalu kita bisa bermain bersama," orang asing itu berbicara sembari terkekeh ngeri. Kedua kaki berbalut sepatu boot tinggi itu kembali melangkah, kali ini jarak diantara mereka tinggal beberapa meter lagi.
"Ayolah, aku sedang tidak ingin bermain kucing kucingan. Kita bermain permainan yang lain saja, yang lebih menantang, kejar tangkap bagaimana? Kalau aku berhasil menangkap salah satu dari kalian, maka kapak yang ada di tanganku akan menjadi-,"
Brugh!
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, orang asing itu terhuyung kedepan saat tubuh bagian belakangnya tertimpa sesuatu. Bahkan kapak hitam yang ada di tangannya terjatuh ke lantai, benda tajam itu terlihat mengerikan di mata Galexia yang sedang bersiap kembali menghantamkan tongkat baseball di tangannya pada tamu tak diundang di rumah ini.
"Sialan! Kau curang, seharusnya kau tidak memukulku dari belakang!" orang itu menggusap pundaknya, masih dengan kekehan yang sama, bahkan sekarang dia berusaha bangkit dan menatap pada wanita yang tadi menghamtamnya tanpa ampun.
"Siapa lo?! Kenapa lo berani masuk kerumah ini tanpa permisi? Lo bahkan ngerusak barang barang juga jendela rumah lakik gue!"
Bugh!
Tanpa aba abang Galexia kembali melayangkan tongkat baseball di tangannya, benda yang dia temukan diatas lemari itu sangat berguna sekarang. Padahal tadi rencananya Galexia akan menggunakan pistol yang ada di laci nakas di kamarnya, masabodoh dengan suaminya nanti kalau pria itu marah karena dia menyentuh selingkuhannya.
Tapi rupanya ada benda yang tidak akan menjadi masalah dikemudian hari yang bisa dia gunakan sebagai senjata. Dan kini Galexia berusaha memanfaatkan benda tersebut sebaik mungkin.
BUGH!
"Aku hanya ingin bermain dengan kalian, ayolah jangan seperti ini. Kita sudahi saja permainannya dan segera eksekusi agar aku bisa menemukan sesuatu yang diinginkan oleh dia dengan mudah." kali ini pria itu tertawa cekikikan.
Galexia kian mengeratkan genggamannya, kedua matanya terus saja mengarah pada kedua kaki pria asing yang terlihat seperti psikopat gila.
Orang tidak waras mana yang mengirim makhluk mengerikan ini ke rumah Eyang Mertuanya?
"Banyak omong lo ya!" sentak Galexia. Kesabarannya kian menipis, dia kembali mendekat dan mengayunkan tongkat kayu yang ada di tangannya ke arah lawannya.
Satu pukulan kembali meleset membuat wanita berkaos kebesaran dan memakai celana setengah paha itu mendesis tidak puas. Galexia sepertinya sudah tidak sabaran ingin mendepak tamu tidak diundang ini dari kediaman suaminya. Bahkan wanita cantik itu sama sekali tidak peduli dengan benda tajam yang yang bisa saja membahayakan nyawanya, dengan satu tangannya yang sehat dia berusaha melawan sendirian.
"Kau ingin bermain main denganku rupanya," desis pria asing berpenutup wajah tersebut.
__ADS_1
Sepertinya kali ini dia tidak akan lagi membuang waktu, dirinya harus segera menyelesaikan semuanya dan mencari benda tersebut. Karena informan yang kemarin bertemu dengannya mengatakan kalau benda itu ada di rumah ini.
Kapak hitam itu melayang kearah Galexia, ujungnya yang tajam membuat Galexia tidak dapat berkedip, bahkan langkahnya hampir saja terseok saat menghindarinya. Beruntung benda tajam itu jatuh di sisinya setelah dirinya berhasil menghindar, tapi sayang kali ini langkah yang Galexia ambil sepertinya salah karena begitu terburu buru, hingga membuat tubuhnya terjungkal kebelakang saat pria itu kembali mengayunkan kapak yang di bawanya.
"XIA!" Eyang Sari berteriak keras saat melihat cucu menantunya tersungkur kebelakang guna menghindari pria gila itu. Dan langkahnya terpaku, wanita muda itu kesulitan untuk berdiri karena luka di bahunya kembali terasa sakit bahkan mungkin jahitannya lepas. Dia memejamkan kedua matanya saat melihat kapak tajam itu mengarahkan padanya, bahkan Galexia terus saja bergumam dalam hatinya memanggil nama orang orang yang berarti didalam hidupnya termasuk Pradivta.
"JANGAN....!" Eyang Sari kembali berteriak dan berlari menghampiri cucu menantunya sebelum-,
BUGH!
DOR!
PRANG...!
BRUUUKK...!
Kedua mata Galexia kian mengerat saat mendengar letupan senjata api diiringi dengan jatuhnya sesuatu yang terbuat dari besi menimpa lantai, dilanjutkan dengan suara gaduh seperti sesuatu yang besar dan berat ikut jatuh bersamaan dengan letupan senjata api. Dia belum membuka kedua matanya, tapi Galexia bisa merasakan dekapan erat seseorang seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
"Nona, anda tidak apa apa?" tanyanya dengan raut khawatir.
MATAMU GAK APA APA😌
__ADS_1