
Krak... Krak...
Pradivta memasukan beberapa butir peluru ke dalam magazine pistolnya. Wajahnya terlihat kaku selepas keluar dari ruang interogasi, bahkan aura mengintimidasi yang tadi Pradivta keluarkan saat berhadapan dengan para kriminal itu masih terasa hingga ke ruangan tersebut.
"Dia tidak mau buka mulut, bahkan setelah komandan menginjak kelima jarinya. Rekannya juga memilih bungkam dan membiarkan orang itu terluka, lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" pria berkaos hitam yang duduk berdampingan dengan Sigit itu terlihat mengacak rambutnya frustasi.
"Hancurkan chip nya, kita lihat apa yang akan mereka lakukan setelahnya,"
Pradivta bangkit, dia memasukan sebuah pistol kedalam kaos hitam yang dipakainya, kemudian melapisinya dengan jaket warna senada, ekor matanya melirik pada para rekannya tim nya yang masih beristirahat.
"Aku akan pulang awal, kalau terjadi sesuatu segera beri tahu aku!" imbuhnya.
Sigit mengangguk, dia menatap kepergian Pradivta dengan lekat, setelah tubuh tegap sang komandan menghilang pria itu kembali mendudukkan dirinya di kursi dan kembali mengotak atik keyboard laptopnya.
"Aku akan menghancurkan chip nya, kalian pantau apa yang akan terjadi setelahnya!"
"Baik!" sahut para rekannya.
Di sisi lain Pradivta sudah mengendarai motornya untuk pulang menuju ke rumahnya. Dia merasa khawatir pada Galexia, walaupun wanita itu mengatakan baik baik saja setelah mengalami hal yang hampir saja mengancam jiwanya.
Galexia pasti merasa trauma walaupun hanya sedikit. Wanita itu juga tidak sekuat yang terlihat, Pradivta yakin sang istri juga memiliki ketakutan layaknya wanita biasa.
Cukup lama pria itu menghabiskan waktu di jalan, selain sering terjebak lampu merah dia juga harus mampir kesalah satu apotek membeli obat untuk luka di bahu Galexia agar segera pulih.
__ADS_1
Senja mulai terlihat, selepas dari apotek Pradivta malah terpincut oleh tukang sate madura yang sering dilewatinya dan akhirnya membawa makanan lezat itu untuk kedua kesayangannya di rumah.
Motor trailer yang Pradivta kendarai memasuki pekarangan rumah, dia memarkirkan kendaraan itu tepat di depan teras. Dengan semangat dia segera bergegas masuk kedalam rumah setelah mengucapkan salam, namun saat hendak menutup pintu ekor matanya menangkap sesuatu yang sedikit aneh menurutnya.
Diluar pagar pagar sana dia melihat ada seseorang yang tengah mengoceh sembari meletakan ponsel disalahin satu telinganya. Cukup lama Pradivta diam dan memperhatikan, bahkan saat orang itu tidak sengaja memandang kearahnya Pradivta tidak melakukan apa pun.
"Divta,"
Panggilan itu membuat Pradivta menoleh, dia menipiskan bibir saat melihat Eyang Sari mendekat kearahnya dengan tergesa-gesa. Tidak sengaja ekor matanya mengarah ke area jalan, dan seketika dahinya berkerut dalam kalau tidak mendapati siapa pun disana.
'Kemana orang itu? Siapa dia, kenapa-,'
Lamunan Pradivta terpecah saat merasakan tepukan di bahunya, dia kembali menoleh dengan senyuman mengembangkan, menyambut tangan Eyang Sari untuk dia salami dengan takzim.
"Kenapa melamun disini? Sana, istrimu sudah menunggu di ruang makan."
Benar saja apa yang dikatakan Eyang Sari, disana tepatnya di dekat kompor ada seorang wanita berkaos kebesaran dan bercelana pendek setengah paha tengah mengaduk sesuatu. Senyuman Pradivta tercipta kalau wanita berwajah bule itu menoleh, Pradivta sontak melepaskan rangkulannya dari pundak Eyang Sari dan bergegas mendekat pada Sang istri dan kelakuan Pradivta itu membuat Eyang Sari mencebikan bibir.
Cup...
Tanpa permisi Pradivta melabuhkan kecupan singkat pada pipi Galexia, pria itu menampilkan wajah tanpa dosa saat wanitanya mendelik tajam kearahnya seraya mengangkat spatula yang ada di tangannya.
"Kenapa disini? Bahu kamu masih sakit kan? Nanti tambah sakit, udah biarin Mas aja yang-,"
__ADS_1
"Kaki aku masih bisa jalan, Mas!" Tukas Galexia datar.
Wanita itu kembali menatap teplon yang berisikan telur dadar pedas kesukaannya, membalikannya dengan satu tangan, beruntung yang terluka adalah bahu kirinya jadi Galexia tidak terlalu kesulitan saat melakukan aktivasi.
Pradivta tidak lagi menyahut, dia membiarkan Galexia melakukan hal yang menurutnya nyaman. Selama tidak membuat wanitanya kesulitan dan kesakitan Pradivta akan membiarkannya. Pria berkaos hitam itu mendudukkan dirinya dikursi, kedua matanya menatap lekat pada punggung kecil Galexia. Bahkan dia menopang dagunya di meja, kedua sudut bibirnya terangkat, matanya terlihat berbinar kalau melihat Galexia menyudahi kegiatannya.
Namun binar dimatanya kembali meredup saat sering ponselnya terdengar. Pradivta merogoh malas benda itu di saku jaketnya yang terlampir di kursi, dahinya mengerut dalam saat melihat nama kontak yang tertera di layar.
"Sigit?" gumamnya.
Dengan cepat Pradivta menekan tombol hijau, menempelkan benda pipih itu di salah satu indera pendengarannya.
"Mereka sudah bergerak, Komandan. Ternyata saat kita menghancurkan chip itu kunci penghubung pada keamanan mereka terbuka, jadi apa kita akan-,"
"Kita bereskan malam ini juga!" selanya.
"Baik, Ndan!" sahut Sigit dan beberapa rekannya timnya.
Panggilan terputus, Pradivta menghela napas pelan. Kedua matanya terpejam sejenak, lalu kembali terbuka saat dan melihat Galexia sudah duduk didekatnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Mas harus kembali ke kantor, mereka sudah dapat petunjuk. Diam dirumah jangan bukain pintu untuk siapa pun sebelum Mas pulang, oke!" ucap Pradivta lembut namun penuh ketegasan.
Galexia tidak menyahut, dia hanya mengangguk namun rasa penasaran yang terpancar di matanya belum terpuaskan.
__ADS_1
YA MAS HATI HATI YA😘😘😘