Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Panic Attack


__ADS_3

Galexia dibuat makin waspada saat melihat beberapa orang kian mendekat ke arahnya, bahkan wanita berwajah bule itu sudah mengambil kuda kuda dan bersiap melawan seandainya orang orang itu nekat mendekat.


"Nak Xia!" panggil Eyang Sari.


Wanita tua itu hendak turun dari mobil tapi urung terhenti saat mendengar instruksi dari cucu menantunya.


"Eyang tetap didalam, kunci pintunya!" Galexia menoleh sekilas, tatapannya terlihat tajam dan waspada di mata Eyang Sari membuat wanita Sepuh itu menurut dan tidak lagi bersuara. Meskipun didalam hatinya saat ini tengah khawatir serta takut, terlebih sekarang dia bisa melihat orang orang asing itu mulai menyerang Galexia karena cucu menantunya enggan menurut.


"Divta, aku harus menelpon Divta!" gumamnya.


Eyang Sari segera meraih tas tangan milik Galexia dan mencari ponsel cucu menantunya tersebut. Dia mengatakan atik benda yang tidak asing untuknya, beruntung Galexia tidak memakai kata sandi apa pun di ponselnya hingga membuat Eyang Sari mudah membuka kontak miliknya.


Sementara Galexia sendiri, dia sedang menangkis beberapa serangan yang di layangkan salah satu dari ketiga orang asing yang hendak membawanya paksa.


Gadis itu melawan dengan cara menendang perut serta dada kedua pelaku yang sempat mencekal tangannya, sementara orang yang tersisa mendapatkan tendangan di rahang saat Galexia terlepas dari cekalan mereka.


"Gaun sialan!" Galexia mengumpat pelan saat gaun yang dipakainya tersingkap hingga pahanya terlihat jelas. Walaupun dia memakai shortpant setengah paha tapi tetap saja pemandangan indah itu amat merugikan dirinya. Terlebih saat dia tahu kalau lawannya adalah para pria banci yang beraninya melawan perempuan.


Galexia melepaskan heels yang di pakainya, kedua kaki mulusnya sudah tidak memakai apa pun. Wanita itu memijit pergelangan kakinya yang sedikit sakit dan pegal, kalau saja bukan karena menghargai pemberian Eyang Sari dia juga tidak akan mau memakai benda merepotkan itu.


"Ikutlah dengan kami secara baik baik, kalau tidak kami tidak akan segan segan untuk menyakiti mu!"


Sudut bibir Galexia tertarik keatas mendengarnya, bukannya takut wanita itu justru terlihat meremehkan ancaman mereka.


"Sialan!" umpat salah satu orang asing itu dan kembali menyerang buruannya.


Perkelahian tidak dapat di hindari lagi, Galexia berusaha melawan serta bertahan sebisanya. Dia yakin kalau saat ini Eyang Sari tengah mencari bantuan untuknya, dirinya tidak tahu orang orang ini siapa yang jelas pasti ada kaitannya dengan Pradivta atau mungkin salah satu musuh mendiang Nonno-nya ( kakek).


Didalam mobil Eyang Sari terlihat panik, bukan hanya karena keadaan Galexia sekarang, tapi juga panggilan teleponnya tidak kunjung diangkat oleh orang yang berada di seberang sana. Selain khawatir, Eyang Sari juga merasa takjub melihat cucu menantunya, ternyata dirinya tidak salah telah menikahkan Pradivta dengan Galexia.


Walaupun diawal pertemuan mereka tidak sesuai dengan prediksi Eyang Sari. Wanita tua itu tahu kalau Galexia masih belum memiliki rasa dan terkesan terpaksa saat dijodohkan dengan cucu semata wayangnya, tapi Eyang Sari yakin semakin lama seiringnya waktu cinta itu pasti akan tumbuh.


Witing tresno jalaran soko kulino


"Hallo Div, ini Eyang! Nak tolong Xia, kita di cegat orang dan diserang begitu sa- AAKKHH!"

__ADS_1


BRAAKK!


Eyang Sari menjerit saat melihat seseorang menabrak kap mobil, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Napasnya naik turun saat dia tahu kalau yang melemparkan tubuh orang itu adalah Galexia.


"HALLO EYANG!" suara Pradivta terdengar panik, tapi sepertinya Eyang Sari tidak lagi menanggapi. Dia memilih mematikan sambungan telepon dan menekan sebuah tombol yang ada di dekat kemudi.


"Semoga kamu cepat kesini Divta." gumamnya penuh harap.


Disaat Galexia terus saja mempertahankan diri dari serangan orang orang tidak dikenal itu, di kantor nya Pradivta terlihat panik. Dia mengotak atik laptop yang ada di hadapannya, tapi belum sempat menemukan apa yang dia cari ponselnya kembali berbunyi.


Kedua mata Pradivta mengerejap saat melihat pesan masuk yang ada dilayar. Bukan itu bukan sebuah pesan, melainkan sebuah sinyal yang dikirim oleh seseorang.


"Sigit, bawa perlengkapan!"


Pradivta menyambar jaketnya, dia melenggang pergi tanpa peduli dengan tatapan para anggota Black Mamba yang terlihat penasaran. Sigit pun tidak banyak bertanya, dia dan Jenika segera mengikuti langkah sang komandan tim sembar🦋 mengisi magazine pistolnya.


Beberapa orang yang Sigit kode segera mengikuti mereka, Sigit menghela napas kasar saat melihat Pradivta sudah tidak ada di area parkir.


Dia yakin kalau sang komandan sudah terlebih dahulu pergi menggunakan sepeda motor.


Pradivta terus saja bergumam dalam hati, berdoa dan memohon agar semuanya baik baik saja. Perasaan khawatir yang tengah dia rasakan semakin menjadi, terlebih jarak antara dirinya dan si pengiriman sinyal masih cukup jauh.


"Tolong bertahanlah," lirihnya dalam hati.


🦋


🦋


🦋


BRAAKK!


Galexia terengah, dadanya naik turun, keringat sudah membasahi dahi serta leher dan tubuhnya. Mungkin saat ini semua kain yang menempel di tubuhnya ini sudah basah karena keringat.


Tangannya yang terkepal erat terlihat memerah, entah sudah berapa puluh kali dia menghantam tubuh serta wajah orang lain dengan bogemannya itu yang jelas orang yang tengah bangkit tidak jauh darinya itu sudah babak belur.

__ADS_1


Galexia pun tidak jauh beda, beberapa kali dirinya kena hantam entah itu di wajah maupun di bagian tubuh lainnya. Sakit? Tentu saja, tapi dirinya tidak boleh menyerah begitu saja dan membiarkan mereka membawanya serta Eyang Sari.


"Gue gak punya urusan sama lo ya! Jadi sekarang mending lo semua pulang, jangan sampe nih ujung heels nempel di batok kepala salah satu dari kalian!"


Ekor mata Galexia melirik pada heels nya yang tercecer begitu saja, mungkin kalau tenaganya semakin terkuras dia akan menggunakan heels nya sebagai senjata. Tapi sayang ancaman yang Galexia berikan tidak membuat mereka takut, salah seorang dari mereka terlihat mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik jaket hitamnya.


"Kalau kita tidak bisa bawa mu baik baik, dia menyuruh kami untuk melukai asal kan kau tidak mati!" desisnya.


Orang itu kembali menyerang, pisau lipat yang ada di tangannya kini menjadi senjata ampuh untuk mengalahkan wanita yang keras kepala serta hampir mengalahkan dirinya dan rekannya. Walaupun tidak segampang yang dia kira, tapi orang asing ber penutup wajah itu terus saja menyerang Galexia tanpa henti.


Wanita itu hanya bisa menghindar, kalau pun melawan Galexia harus menyingkirkan senjata tajam yang dibawa lawannya.


Srreet!


Galexia mundur, dia mendesis saat merasakan bahunya perih dan mengeluarkan darah segar.


Sialan orang itu berhasil melukainya!


Gaun indah yang dipakai Galexia koyak dibagian bahu, memang tidak dalam tapi cukup lebar dan rasanya perih, sakit, mungkin akan mendapatkan banyak jahitan nantinya.


Napas Galexia kian terengah, ekor matanya melirik pada Eyang Sari yang terlihat menangis kala melihat keadaannya saat ini. Jujur Galexia akan sulit bergerak bebas karena bahunya terluka, dia hanya bisa bertahan dan menyerang semampunya bukan dengan kekuatan penuh seperti tadi.


'Kalau gue ketangkep gimana?' gumamnya dalam hati.


Lelah, Galexia sebenarnya sudah lelah. Tubuhnya terasa sakit tapi dia tidak mungkin menyerah dan membiarkan orang orang itu membawanya.


Rasa putus asa mulai merasuk, Galexia memejamkan kedua matanya sejenak, dan itu dimanfaatkan oleh salah satu orang yang tidak jauh darinya untuk mendekat. Tapi sayang belum sempat mendekat lebih lagi, suara tembakan menggema.


Kedua mata Galexia terbuka, dia menoleh, orang yang akan mendekatinya sudah tersungkur di aspal sementara yang lainnya terlihat panik dan bergegas mundur. Tapi sayangnya belum sempat mobil mereka pergi, area jalanan sudah terblokir hingga membuat mobil jeep hitam yang mereka bawa tidak bisa melintas kecuali berani menabrak salah satu kendaraan yang memblokir jalan.


"Mas Divta?" lirihnya sebelum tubuh lelah itu ikut tersungkur diatas panasnya aspal.



__ADS_1


__ADS_2