Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Segera Menuntaskan Masalah


__ADS_3

Eyang Sari tidak bisa lagi menahan tangisannya saat melihat Galexia di bawa menuju ruang tindakan. Tubuh wanita sepuh itu ditahan oleh wanita berpakaian hitam yang sejak tadi mengikutinya, sementara Pradivta ikut masuk kedalam ruang tindakan bersama dua orang perawat.


"Udah Eyang disini saja, biar Komandan yang nemenin istrinya. Eyang duduk ya, nanti Jeje beliin minum dulu, Git! Temenin Eyang, gue mau ke kantin dulu!"


Jenika bangkit, dia berlari kecil menjauh dari Eyang Sari dan rekannya. Sementara wanita tua itu terlihat masih terisak dengan tubuh lemas dan bergetar di dalam rangkulan Sigit.


Didalam ruang tindakan, pandangan Pradivta tidak sedikit pun lepas dari wanita yang masih tidak sadarkan diri diatas hospital bad. Beberapa perawat dan seorang dokter sudah memulai memberikan pertolongan, gaun indah yang melekat di tubuh wanita itu di koyak diarea bahunya agar memudahkan para tim medis memulai tindakan pertolongan.


"Anda tidak bisa disini, silahkan-,"


"Aku akan disini hingga selesai!"


Bibir perawat wanita itu terkatup, dia tidak lagi menyahut hanya mengangguk dan segera mempersiapkan alat medis yang dibutuhkan oleh dokter. Tidak jauh dari Pradivta, ada seseorang yang tengah melirik kearahnya, raut wajahnya terlihat lesu dan tidak bersemangat tapi dia harus menyelesaikan tugasnya dengan baik.


"Suster Mala, siapkan alkohol!"


Perawat wanita itu tersentak, dia segera meletakan kain kasa yang penuh dengan darah dan segera berlari menuju lemari penyimpanan alat medis.


Ruangan yang tadinya sepi kini terlihat sibuk, dokter dan dua perawat itu mulai bekerja membersihkan luka di bahu pasien mereka agar bisa segera di jahit.


Tanpa di duga kedua mata wanita yang tengah terbaring lemah diatas bankar rumah sakit itu berkedut, terlalu fokus pada luka sayatan di bahu wanita itu membuat mereka tidak menyadari.


Hingga akhirnya kedua mata abu abu itu terbuka, dahinya mengernyit, dia berusaha memfokuskan penglihatannya.

__ADS_1


"M-Mas Div-ta," panggilnya terbata.


Dokter dan kedua perawat itu tersentak kaget, begitu pula dengan Pradivta yang tengah bersandar ditembok dengan kepala menunduk. Mereka menatap lekat pada Galexia yang sudah sadarkan diri, padahal dokter masih menjahit luka di bahunya.


"Sayang!" Pradivta mendekat, dia bahkan menggeser tubuh salah satu perawat agar dapat melihat serta berdekatan dengan istrinya.


"Enggak apa apa, dokter lagi jahit luka kamu. Rileks oke, jangan takut, kamu sudah dibius jadi enggak bakalan sakit." Pradivta terus saja menenangkan, bahkan mengusap serta mengecup pucuk kepala Galexia tanpa canggung didepan dokter dan perawat.


Tanpa disadari oleh siapa pun, disana ada mata sendu yang menatap pada Pradivta. Terlebih saat melihat perlakuan pria itu pada wanita yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Tapi kenapa kamu bisa sadar, bukannya dokter sudah ngasih kamu bius?"


Pandangan Pradivta tertuju pada dokter yang masih fokus menjahit luka di bahu Galexia. Dokter itu belum menjawab, dia masih berkonsentrasi agar tidak salah mengambil tindakan.


Atensi Pradivta kembali pada istrinya, wanita itu terlihat lemah tapi tidak takut sedikit pun saat luka di bahunya di jahit bahkan dalam keadaan sadar.


"Tenang saja Pak Agas, istri anda tidak akan kesakitan kok walaupun dia sadar."


Helaan napas lega terdengar dari mulut Pradivta, dia kembali mendekat pada Galexia dan memberikan elusan lembut serta kecupan di pucuk kepalanya.


Hampir satu jam lamanya dokter mengobati luka Galexia, kini luka di bahu wanita itu sudah terjadi dan di perban oleh perawat. Gaun yang Galexia pakai sudah kotak sebelah, bahkan sebelah tali br*a yang dipakainya Pradivta lepaskan karena cukup mengganggu dan bisa saja menggesek lukanya.


Saat ini Galexia sudah duduk sembari bersandar di kepala ranjang, dia tengah menikmati air putih yang diberikan oleh suaminya.

__ADS_1


"Udah," tolak Galexia.


Dia kembali memejamkan kedua matanya saat mulai merasakan denyutan di bahunya. Bahkan wanita itu terlihat meringis saat menggerakkan tubuhnya, tapi sama sekali tidak menangis.


"Ayo kita akan pulang!"


Kedua mata Galexia terbuka, dia sedikit tersentak saat tubuhnya tiba tiba saja melayang dan sudah berada di dalam gendongan Pradivta. Pria itu segera membawa Galexia keluar dari ruang tindakan setelah salah satu perawat memakaikan jaket yang tadi dipakainya pada Galexia agar menutupi area bahunya yang terbuka.


Dengan enteng Pradivta membawa Galexia dalam gendongannya, padahal perawat sudah mengambilkan kursi roda untuk wanita itu.


Pintu ruangan terbuka, Eyang Sari yang tadinya menunggu dengan was was sontak saja berdiri. Begitu juga dengan Jenika yang sejak tadi menemani wanita sepuh itu, sedangkan Sigit sudah kembali ke kantor untuk melihat para pelaku yang sudah melukai istri komandannya.


"Kamu enggak apa apa kan, Nak?" Eyang Sari bertanya dengan nada gemetar. Kedua tangannya mengusap kepala cucu menantunya yang tengah bersandar di dada Pradivta.


Galexia tidak membuka mata atau pun bersuara, dia hanya menganggukkan kepalanya mencoba menenangkan Eyang Sari yang dia yakinin tengah khawatir.


"Kita pulang Eyang, Xia baik baik saja. Ayo, Eyang juga harus istirahat."


Pradivta melangkah terlebih dahulu, dia bergegas membawa Galexia dan Eyang Sari pulang ke rumah. Dan kemungkinan dia juga akan memerintahkan Jenika untuk tetap disana selama dirinya kembali ke kantor. Ada hal yang harus Pradivta selesaikan secepatnya, dia tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi dan segera menangkap dalangnya.



__ADS_1


SERIUS AMAT MAS🤣🤣🤣


__ADS_2