
Sepasang suami istri muda itu berjalan berdampingan memasuki klinik. Tangan besar sang pria menggenggam erat jari jemari istrinya, terlihat cukup posesif dan tidak berniat untuk melepaskannya.
"Dokter Annisa ada?" Tanya Pradivta saat sampai dimeja resepsionis.
Perawat wanita itu mengangkat wajahnya. Bibirnya menipis menyunggingkan senyuman ramah, kedua tangannya mengatup di dada.
"Dokter Annisa masih ada pasien, silahkan Tuan dan Nyonya menunggu di ruang tunggu sebentar," Ucap resepsionis ramah.
Tanpa banyak bicara Pradivta bergegas membawa istrinya menuju ruang dokter yang akan memeriksa kesehatan dirinya dan Galexia. Dengan hati-hati Pradivta mendudukkan istrinya di kursi tunggu, kondisi Galexia yang masih lemas membuat dia lebih protektif, padahal dirinya sendiri juga tengah merasa tidak baik.
Mual dan lemas
"Kita tunggu sebentar ya, kamu masih kuat kan?" Ucap Pradivta penuh kelembutan, satu tangannya mengusap wajah cantik yang terlihat pucat dan sayu milik istrinya.
Pradivta sendiri melupakan rasa sakitnya, dia lebih memprioritaskan Galexia terlebih dahulu agar merasa nyaman. Bahkan Pradivta sengaja tidak membawa Galexia ke rumah sakit Bhayangkara yang sudah memfasilitasinya serta anggota keluarganya hanya demi rasa nyaman Galexia. Karena dia yakin disana ada banyak orang yang mengenalnya, dengan begitu Galexia pun ikut tersorot.
Pradivta tahu istrinya bukan tipe wanita yang suka sekali menjadi pusat perhatian, apa lagi sedang dalam keadaan tidak baik seperti ini, terkecuali saat wanita itu sedang berada di jalanan memacu kuda besinya secara ugal-ugalan seperti dulu.
__ADS_1
Cukup lama mereka berdua menunggu, Galexia sampai menyandarkan kepalanya di bahu Pradivta dengan mata terpejam. Hingga satu usapan lembut di area pipinya membuat manik mata berwarna abu-abu itu kembali terbuka dengan malas.
"Ayo masuk, dokternya sudah menunggu!" Ajak Pradivta. Pria itu bangkit lalu mengulurkan tangannya, membantu Galexia bangun dan berjalan menuju ruangan dokter.
π
π
π
Pradivta terlihat mematung memperhatikan layar monitor yang ditunjukkan oleh dokter. Dia masih tidak menduga dan berpikiran sejauh itu, bahkan saat dia membawa Galexia ke dokter saja Eyang Sari tidak tahu. Pradivta sengaja tidak memberitahukan kemana mereka akan pergi karena tidak ingin membuat wanita sepuh itu khawatir.
Niat hati hanya ingin memeriksakan kesehatan dirinya dan sang istri, Pradivta justru mendapatkan kejutan yang benar-benar sangat besar.
"Ke-kembar Dok?" Tanyanya lagi.
Dokter pria itu mengangguk, senyumannya mengembangkan saat melihat wajah shock yang diperlihatkan oleh si calon Papa dihadapannya.
__ADS_1
"Iya, janinnya kembar. Anda bisa lihat sendiri ada dua kantung disana dan saya jamin semuanya ada janinnya. Usianya memang masih sangat kecil dan rawan, jadi saya harap anda bisa menjaga ibunya dan calon bayinya. Jangan biarkan ibunya kelelahan, stres, kurang nutrisi, perbanyak minum air putih dan satu lagi nanti saya akan berikan resep vitamin untuk ibu dan janin." Ucap Dokter muda berlesung pipi itu lugas.
Pradivta tidak menyahut lagi, pria itu hanya mengangguk, ekor matanya melirik pada Galexia yang terlihat santai berbaring diatas tempat tidur.
Beberapa menit kemudian mereka keluar, Pradivta masih memasang wajah pucat tapi senyuman samarnya terlihat mengembang. Sementara Galexia, wanita itu terlihat cukup lumayan baik setelah mengkonsumsi vitamin yang dokter berikan tadi diruangan, satu tangannya mengusap perut rata yang tengah menampung dua janin sekaligus.
"Bisa kembar gitu ya, perasaan aku enggak punya turunan kem-,"
"Oma Lovy sama Nonno Ragata kan kembar, Bang Shaka, Bang Azka terus Kak Ais itu kembar tiga loh, jadi gak aneh buat aku. Nonno Raga juga punya anak kembar tiga sama Oma Elvia." Cetus Galexia santai.
Wanita itu terlihat mempercepat langkahnya mendahului suaminya yang tengah mencerna kata-katanya, dahi Pradivta mengerut dalam sepertinya dia sedang berpikir, tapi tidak lama senyuman lebarnya terbit dan bergegas menyusul Galexia.
"Kembar?" Gumamnya lagi. Senyumannya kian melebar saat mendekati parkiran, Pradivta masih tidak menyangka kalau dirinya akan memiliki momongan sekaligus dua. Padahal selama ini dirinya tidak pernah meminta lebih pada Tuhan, cukup diberikan satu orang putra atau putri saja Pradivta sudah sangat bersyukur apa lagi diberi double seperti sekarang.
"Sekali hamil 2, kalo 3 kali udah 6, wah mantap kali!" Selorohnya lagi sembari melompat kecil ke udara. Pradivta persis seperti anak yang sedang menanti mainan barunya yang akan diberikan sang ibu.
__ADS_1
MANTAP KALI MATAMUπππ