
Tiga hari berlalu setelah kejadian di pasar malam waktu itu. Selain mereka menangkap pencopet disana, di tambah lagi luka di lengan Pradivta yang kembali terbuka akibat menarik tubuh Galexia yang hampir saja tercium oleh mobil, sepertinya istri dari Mas Intel itu sedikit menurut pada suaminya sekarang.
Seperti sekarang ini, gadis berkucir kuda itu terlihat mengikuti langkah Pradivta tanpa banyak suara, padahal biasanya Galexia sedikit cerewet saat bersama suaminya akhir akhir ini. Tapi sepertinya kali ini dia ingin menjaga image di hadapan bawahan Pradivta. Galexia hanya merangkul salah satu lengan Pradivta yang sehat, dia menuntun pria itu masuk kedalam ruangan yang menjadi pusat kesehatan di tempat pria itu bekerja.
Tentu saja kedatangan keduanya langsung menjadi pusat perhatian, terlebih para bawahan Pradivta yang terlihat melotot lebar saat melihat sang komandan di rangkul mesra oleh gadis yang sering mereka lihat keluar masuk kantor polisi beberapa bulan yang lalu.
Mereka bahkan sampai ada yang mengucek kedua matanya, kemudian kembali melotot lebar saat melihat Pradivta menipiskan bibirnya sembari mengusap pucuk kepala gadis bar bar yang pernah hampir membuat mereka jantungan karena gebrakan kerasnya saat di interogasi.
"Mereka enggak cinlok kan?" tanya salah satu dari mereka, membuat para rekannya menoleh dan mengangguk pelan.
"Astaga, aku enggak nyangka Komandan nikah sama cewek itu. Ya walaupun masih cicit dari satu satunya Alpha Serigala Hitam yang ditakutin sama dunia bawah, tapi kan tuh cewek bar barnya gak ketulungan." des*ahnya resah.
"Ya biarin aja kali orang Komandan gak masalah, kenapa kalian yang repot sih?!" cetus salah satu anggota tim Black Mamba yang berjenis kelamin wanita itu. Dia adalah satu satunya wanita yang menjadi anggota tim Pradivta, dan juga si penembak jitu andalan sang Komandan selain Sigit.
Gadis itu merasa risih mendengar celotehan para rekannya, dia paling malas mengurusi urusan pribadi orang lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka. Selagi tidak mengganggu kegiatan mereka dan tugas yang harus segera dituntaskan mau menikah dengan siapa pun apa masalahnya.
__ADS_1
Heran deh!
"Ya gak gitu maksudnya Je, kan yang kita tau Komandan dulu deketnya sama-,"
"Bukan jodoh, gak usah repot. Nih, gantian bersihin ruang istirahat gue mau boker dulu!" cetus gadis berkaos hitam polos itu pada rekan seperjuangannya.
Sang rekan hanya bisa menggeleng, dia sudah hapal dengan kelakuan gadis itu, sebelas dua belas dengan gadis berwajah bule yang di bawa oleh Komandan mereka.
Disaat para bawahannya tengah bergosip ria membicarakan dirinya dan sang istri, di ruang lain Pradivta tengah membuka jahitan dilukanya. Dia tengah di periksa oleh salah satu perawat yang memang bertugas disana.
Di sebuah kursi, Galexia duduk dengan tenang. Kedua tangannya terlipat didada dengan mata terus saja terarah pada kedua manusia beda gender dihadapannya.
Alis Galexia naik satu baris, bola mata abu abu cerahnya yang tadi tertuju pada Pradivta kini bergulir cepat pada wanita yang sedang mengobati suaminya tersebut.
"Kemarin-,"
__ADS_1
"Kemarin Mas Divta ngurusin bulan madu kita." cetus Galexia ringan. Bahkan wajah cantik khas bule nya itu terlihat datar tanpa ekspresi saat mengucapkannya.
Sementara Pradivta dibuat tersedak ludahnya sendiri mendengarnya, ekor matanya melirik pada Galexia yang masih tetap pada posisinya dengan raut wajah tidak terbaca.
Bulan madu katanya? Astaga, Pradivta juga mau.
Sudut bibir pria itu berkedut, tertarik perlahan membuat senyuman tipisnya terpatri. Dia mengangguk, entah mengapa Pradivta malah ikut masuk kedalam kebohongan yang dibuat oleh Galexia. Sepasang suami-istri itu larut dalam dunianya, hingga tidak menyadari kalau saat ini ada seseorang yang tengah meremas kuat kain kasar yang ada di genggamannya.
Terlebih saat dia melihat sendiri bagaimana raut wajah pria yang disukainya sejak dulu. Raut malu malu macan yang tidak pernah dia lihat selama ini, padahal dari dulu banyak sekali wanita yang menggoda pria itu tapi tidak pernah menampakan raut wajah seperti abg yang baru jatuh cinta seperti itu.
'Apa kurangnya aku, Mas Agas?' lirihnya dalam hati, ekor matanya melirik pada gadis yang tengah memainkan ponsel milik pradivta tanpa peduli dengan sekitar.
'Apa memang selera kamu yang import kayak gini Mas? Kamu gak suka yang lokal kayak aku?' lirihnya lagi dengan kepala tertunduk.
Apa dia sudah kalah?
__ADS_1
MAS DIVTA EMANG LEBIH SUKA YANG IMPORT NENG🤣🤣🤣🤣IMPORT RASA LOKAL😌