
Dengan lembut Pradivta menyeka sudut bibir Galexia yang sedikit kotor. Pria itu tersenyum tipis setelahnya, dengan penuh sayang Pradivta kembali menyuapkan bubur pada mulut istrinya.
"Udah...,"
Wanita itu mendorong pelan sendok yang berada didepan mulutnya, dia menggeleng menolak suapan dari Pradivta. Perutnya terasa mual saat benda lunak dan hambar di mulutnya, ingin rasanya dia mengeluarkan semua yang sudah ditelannya, tapi Galexia tidak ingin membuat Pradivta dan yang lainnya tidak nyaman.
"Sedikit lagi, ayo habiskan Sayang!" bujuknya.
Tapi tetap saja bujuk rayu sang Komandan tampan itu tidak berhasil membuat Galexia luluh, alhasil Pradivta harus mengalah dan menyingkirkan mangkuk kaca yang ada di tangannya.
"Aku mau pulang," rengek nya.
Sudut bibir Pradivta berkedut tertahan, dia menjilat bibirnya sendiri guna menahan senyuman geli mendengar rengekan istrinya yang sangat limited edition.
"Kamu belum sehat, Sayang. Nanti ya, kita tanya dokter. Sekarang kamu istirahat-,"
__ADS_1
"Nona Muda ingin pulang, bukan ingin tidur. Kalau kau tidak mau membawanya pulang, biar aku saja!" cetus seseorang yang sejak tadi terus saja memperhatikan interaksi antara sepasang suami-istri tersebut.
Galexia yang tadinya hendak menutup mata seketika kembali membukanya, wanita itu menoleh kearah suara. Matanya yang tadi satu berubah memicing dan menajam.
"Kenapa masih disini? Bukannya kamu ngantar Mami pulang?" tanya Galexia.
Galexia terlihat sedikit tidak suka dengan kehadiran orang itu disini. Terlebih orang yang merupakan salah satu bodyguard kebanggaan Nonno Nagara dan anak asuh Aunty Melody itu ikut masuk kedalam pembicaraannya bersama Pradivta.
Mereka berdua memang tidak asing lagi, bahkan sering pergi bersama saat Nonno Nagara memerintahkan untuk menjaganya.
"Disini sudah ada suamiku, jadi kamu tidak perlu lagi menungguiku disini. Dan terimakasih sudah menolongku, sekarang kamu pulang saja." titahnya.
Galexia sudah memutuskan, ekor matanya melirik pada Pradivta yang tengah memainkan jari jemarinya. Memilin cincin pernikahan yang tersemat indah di jari manis sebelah kanannya.
"Aku tidak bisa, dan harus tetap-,"
__ADS_1
"Istriku sudah berterimakasih padamu, dan aku juga mengucapkan terimakasih sudah datang tepat waktu. Mungkin kalau kau tidak datang, istriku bisa terluka lebih parah. Terimakasih Tuan Edgar, beristirahatlah kau pasti lelah, biar aku yang menemani Xia disini." Pradivta berbicara dengan sopan dan pelan. Bahkan dia tersenyum pada pria yang masih mendaftarkan wajahnya.
Sedikit pun pria itu tidak merespon ucapan Pradivta, pandangannya hanya tertuju pada Galexia yang tengah memejamkan kedua matanya sembari memeluk salah satu tangan Pradivta.
Melihat sang nona muda tidak memberikan respon apa pun dan malah terlihat menyetujui ucapan Pradivta, Edgar terlihat menunduk, bibirnya menipis menunjukan senyuman sarat akan arti.
Tanpa berkata apa pun lagi Edgar keluar dari ruang rawat Galexia, namun belum sepenuhnya dia keluar ekor matanya sempat melirik pada Pradivta. Rahangnya terlihat mengetat, dengusan pelan keluar dari hidungnya lalu segera berlalu keluar dengan langkah lebar.
Selepas kepergian Edgar, suasana menjadi hening. Hanya ada tetesan cairan infus yang mengalir melewati selang dan masuk kedalam pembuluh darah Galexia. Kedua mata wanita itu masih terpejam, dia terlihat tidak peduli dengan sekitar. Bahkan saat merasakan dekapan seseorang dari belakang tubuhnya Galexia makin terlelap.
Kecupan serta usapan di pucuk kepalanya kian membuatnya nyaman, Galexia mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya. Dia membiarkan orang yang tengah menghangatkan tubuhnya kian merapat, menyerukan wajahnya pada leher bagian belakangnya, memberikan kecupan basah yang membuat tubuhnya meremang hebat.
"Besok kita akan pulang, sekarang tidurlah. Mas, disini sekarang dan gak bakalan kemana pun apa lagi membiarkan kamu kembali terluka, Sayang." bisiknya lembut. Kecupan kembali disematkannya, dan kian mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil didekatnya.
__ADS_1
PINGIN DI DEKAP JUGA MASðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜