Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Bersiap!


__ADS_3

Luka di lengan Pradivta mulai membaik, dia juga sudah melepas perban yang selalu menutupi lukanya, mulai beraktivitas seperti biasanya walaupun masa cuti untuknya masih ada dua hari lagi. Karena Pradivta tidak terbiasa berdiam diri merasa seluruh tubuhnya sakit kalau tidak melakukan aktivitas, seperti sekarang ini dia tengah membantu Galexia memanen beberapa batang ubi kayu yang dulu sempat di tanamnya bersama Eyang Sari.


"Ini udah banyak!"


Pradivta mengangkat kepalanya saat mendengar suara gadis yang dia kenali. Gadis berhotpants jeans dan berkaos over size itu terlihat mulai kepanasan, dia menyeka keringat yang bercucuran di dahi serta lehernya, terlihat menarik di mata Pradivta.


Pria itu sampai mengalihkan pandangannya ke arah lain kala melihat gerakan slow motion yang dilakukan sang gadis. Sungguh itu sangat mengganggu mata serta hatinya saat ini.


"Ekhem... Kalau gitu bawa ke rumah, aku belum selesai motongin batang ubinya." Pradivta masih enggan menatap pada sang gadis, dia memilih sibuk dengan batang ubi kayu yang siap untuk ditaman lagi.


"Oh ya udah,"


Galexia segera berbalik, membawa satu keranjang ubi kayu yang akan diolah menjadi makanan oleh Eyang Sari nanti. Gadis beralaskan sandal jepit kebesaran milik suaminya itu terlihat kesulitan saat melangkah karena tanah basah yang tadi sempat mengotori kakinya membuatnya licin.


Selepas kepergian sang istri, Pradivta mengusap wajahnya kasar hingga tidak menyadari kalau tangannya kotor hingga tidak dapat dihindari tanah basah mengotori permukaan wajahnya.


"Astaga, makin meresahkan," des*ahnya pelan.


🥀


🥀


🥀


Hari mulai sore, Pradivta sudah menyelesaikan penanaman ubi kayu yang terakhir. Pria itu meregangkan pinggangnya yang terasa kaku karena terlalu banyak membungkuk.


Kretek...


"Astaga, belum juga malam pertama udah encok gini." keluhnya.

__ADS_1


Pria itu berjalan tertatih-tatih, dia sesekali memijat pinggangnya yang masih terasa lakukan dan pegal. Rasanya tidak nyaman, mungkin karena terlalu lama menungging saat menanam batang ubi kayu tadi.


"Udah selesai, pinggang kamu kenapa Div?"


Eyang Sari yang baru saja selesai menggoreng ubi yang tadi dibawa Galexia terlihat mengernyit melihat Pradivta meringis sembari memegangi pinggangnya.


"Kayaknya encok Eyang. Divta udah tua kali ya makanya bisa sakit pinggang gini," cetus nya dengan candaan.


Eyang Sari bahkan reflek memukul pundak cucu satu satunya dengan keras, wanita tua itu mencebik dan berlalu meninggalkan Pradivta yang tengah terkekeh sembari meniup goreng ubi di tangannya.


"Makanya cepet bikinin Eyang cicit, nanti kamu keburu bongkok, tapi istri kamu masih cantik!" selorohnya.


Kekehan Pradivta berganti decakan, dia meregangkan kedua tangannya lalu melakukan pemanasan seperti hendak olah raga berat. Dengan wajah masam Pradivta berjalan menuju kamarnya, dia harus segera membersihkan diri.


Tanpa mengetuk pria itu masuk begitu saja hingga bisa mendapati sebuah pemandangan langka yang belum pernah dilihatnya.


Kedua manusia itu saling tatap, saat sang gadis menoleh ke arah pintu kala mendengar seseorang masuk kedalamnya tanpa permisi. Padahal saat ini dirinya tengah memakai br*a dan itu belum selesai, bahkan dibagian bawah sana belum memakai apa pun hanya di tutupi underwear berwarna senada dengan br*a yang masih belum terkait sempurna.


"Kalau mau masuk ketuk dulu bisa gak sih!" protesnya.


Tapi sayang protesannya tidak digubris, pria itu kian melebarkan senyumannya dan perlahan maju mendekat pada gadis yang sudah terpojok di dekat lemari.


"Ka-kamu mau apa Mas?" telujuk Galexia menuding ke arah Pradivta dengan posisi waspada, seperti kelinci kecil yang tengah terpojok saat srigala akan menyergap nya.


"Pakai bajunya yang benar Sayang, sini Mas bantu!" Tanpa peduli dengan tatapan horor yang ditujukan oleh Galexia, Pradivta segera membalikan tubuh gadis itu hingga menghadap pada cermin lemari.


Punggung mulus Galexia terpampang nyata di depannya, mata tajam itu terus saja memindai dan itu dapat Galexia lihat dengan jelas lewat cermin dihadapannya.


Apa ini akhir dari status perawannya?

__ADS_1


Astaga kenapa rasanya menakutkan sekali?


"Jangan tegang, Mas gak bakalan macem macem kok, cuma masangin ini aja." bisiknya.


Glek!


Galexia menelan salivanya susah payah, rona merah tidak dapat dia hilangkan, dari wajah hingga telinga rasanya panas sekali dibuatnya.


"Sudah, pakai baju sama. Mas mau mandi dulu!"


Disaat Pradivta terus saja berbicara, mulut Galexia malah bungkam, rasanya lidah miliknya kelu dan tidak bisa digerakan.


Terlebih saat melihat senyuman yang Pradivta tunjukan, pria itu kembali mendekat dan-


Cup!


Tanpa aba aba dia mengecup pundak polos Galexia. Setelah itu Pradivta berbalik, raut wajahnya terlihat biasa lain dengan Galexia yang sudah memerah.


Astaga, Galexia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Dia gadis normal jadi wajar bukan kalau sesuatu yang ada didalam tubuhnya berdesir.


"Oh iya, tangan Mas udah sembuh. Udah kuat nyabut ubi tadi, kamu lihat sendiri kan?" cetus nya lagi.


Galexia semakin mematung dibuatnya, dia reflek menoleh tapi sayang si pelaku sudah tidak ada ditempat. Hanya ada siulan keras yang terdengar dari luar kamar. Galexia meraup wajahnya, mengusapnya kasar lalu mende*sah lelah. Dia tahu apa maksud dari ucapan Pradivta, pasti pria itu menagih janjinya yang dia ucapkan tempo hari.


Benar dugaannya, malam ini pasti status perawannya akan hilang. Galexia tipe orang yang tidak suka ingkar janji, dan sekarang dia harus berusaha rileks, tenang serta mengsugesti kalau malam pertama itu tidak semenakutkan kata orang, lebih tepatnya kata para saudaranya yang telah lebih dulu merasakan.


"Goodbye my virginity," gumamnya sembari mengusap sesuatu yang ada di balik underwear miliknya.


__ADS_1


GOODBYE 🥀🥀🥀


__ADS_2