
Pradivta menatap layar monitor dengan serius, di dekatnya ada Sigit dan Jenika yang tengah berusaha membuka isi chip. Sepertinya memang tidak semudah itu, keamanannya cukup sulit untuk di tembus bahkan oleh sekelas hacker milik Black Mamba.
"Sepertinya pemimpin kelompok itu benar benar menyimpan data rahasia yang mereka miliki disini? Tapi kenapa chip ini ada di tangan anak buahnya?" Jenika menatap layar monitor laptopnya tidak yakin. Kepalanya terasa mau pecah saat melihat kode rahasia yang belum juga kunjung terpecahkan, padahal mereka sudah berusaha dari beberapa hari yang lalu.
"Baiklah, kalian berusaha saja sebisanya kalau memang tidak bisa di tembus kita hancurkan saja!" Pradivta segera mengambil keputusan. Dia juga sudah mencobanya tapi tetap tidak berhasil, jadi mau tidak mau Pradivta mengambil keputusan ini.
Di lain tempat Galexia dan Eyang Sari keluar dari area pesta. Wanita muda itu menggandeng lengan Eyang Mertuanya, menuntun wanita sepuh itu menuju mobil.
"Eyang mau kemana dulu? Mau pulang atau ada tempat yang mau Eyang kunjungin?"
Galexia mulai menyalakan mesin mobil, senyuman tipisnya terus saja mengembangkan sesekali menatap ke arah spion luar saat dirinya memundurkan mobilnya.
"Eyang mau ke makam mertua kamu." sahutnya.
Galexia menoleh, kedua matanya mengerjap pelan, dia tidak menyahut hanya mengangguk patuh dan mulai mengikuti arahan Eyang Sari. Mobil Terios yang dikendarai nya melaju pelan, suasana jalan raya cukup padat hingga membuat laju kendaraan padat merayap.
Galexia mengetuk stir mobilnya berulang kali, lampu lalulintas tidak kunjung berubah hijau hingga rasa bosan mulai menggelayuti.
"Pelan pelan aja Nak," nasehat Eyang Sari.
Galexia menoleh, dia menipiskan bibirnya, dia tersenyum tipis pada Eyang mertuanya dan kembali menekan pedal gasnya saat warna lampu lalulintas sudah hijau. Dengan tenang namun gesit Galexia memutar kemudi nya dengan lihai, dia mengikuti arahan sang Eyang hingga tidak lama mereka akhirnya sampai di sebuah gang kecil bergapura besar.
Mobil terparkir sempurna, Galexia segera membantu Eyang Sari turun. Dengan hati hati dia membawa Eyang Mertuanya masuk kedalam area pemakaman. Tanpa perlu bertanya pada wanita sepuh didekatnya, dia sudah tahu makam siapa yang akan mereka ziarahi.
Langkah Eyang Sari berhenti tepat di depan sebuah malam berumput yang terlihat rapih dan tidak menyeramkan seperti cerita orang orang saat Galexia kecil dulu.
__ADS_1
Justru sejauh mata memandang tempat ini malah terlihat asri, ada beberapa orang yang berziarah sama seperti mereka, para penjaga dan tukang bersih bersih pemakaman juga sedang bekerja.
Galexia berjongkok mengikuti Eyang Sari yang tengah mendudukkan diri diatas kursi plastik kecil yang tersedia disana.
"Pa, aku sudah menepati janjiku untuk membawa cucu mantumu kesini seperti keinginan mu saat hidup dulu. Dia istrinya Divta, gimana cantikan?"
Eyang Sari terus saja berceloteh sembari mengusap batu nisan berwarna hitam yang bertuliskan nama Pramudya Agas, kakek dari Pradivta dan di sebelah sisinya ada dua makam yang bertuliskan nama Pratama Agas dan Widya Ningsih, kedua orang tua Pradivta.
Galexia hanya terdiam, dia membiarkan Eyang Sari mengungkapkan apa yang ada didalam hatinya selama ini. Cukup lama mereka disana, Galexia ikut menyapa makam Kakek mertua serta kedua mertuanya.
"Nak, Ibu membawa menantu kita. Tolong restui pernikahan putramu dan Nak Xia ya, kalian yang bahagia dan tenang disana. Pradivta sudah menjadi anak, cucu serta suami yang baik, lain kali kita akan datang bertiga kesini."
Terakhir mereka berdua menaburkan kelopak bunga mawar warna warni yang tadi sempat Galexia beli sebelum masuk ke dalam area makam, beserta air bunganya.
Tapi saat mobil yang mereka naiki mulai memasuki area yang sedikit sepi, tiba tiba kendaraan roda empat itu berhenti dengan sendirinya. Dahi Galexia bahkan hampir terbentur dashboard kalau saja dirinya tidak sigap.
"Eyang enggak apa apa?" tanyanya khawatir.
Eyang Sari menggeleng, satu tangannya terulur mengusap pipi Galexia, memberikan ketenangan pada wanita muda itu. Helaan napas kasar keluar dari mulut Galexia, dia segera melepas sabuk pengamannya dan bergegas membuka pintu mobil.
"Aku mau cek dulu mobilnya ya Eyang. Eyang jangan keluar tunggu di dalam aja!"
Tanpa ingin membatah wanita sepuh itu terlihat mengangguk, kedua mata tuanya terus saja memperhatikan setiap gerak gerik cucu menantunya.
Didepan kap mobil Galexia terlihat kebingungan, kedua tangannya bertolak pinggang, dia berdecak kesal karena tidak melihat asap apa pun yang keluar dari sana.
__ADS_1
"Kenapa bisa mogok sih? Kayaknya gara gara di kekepin terus sama Mas Divta jadi gini deh!" gerutunya.
Galexia mendekat kearah kap, dia bersikap membukanya, tapi belum sempat terbuka ekor matanya melihat sebuah mobil melintas begitu saja dan berhenti tidak jauh dari nya. Galexia awalnya tidak peduli, dia berpikir mungkin itu orang ingin buang hajat atau menerima panggilan, tapi saat dia kembali menggulirkan ekor matanya kewaspadaan tiba tiba berbunyi.
Dengan pelan Galexia menutup kembali kap mobilnya, dia masih terdiam menatap ke arah Eyang Sari yang terlihat khawatir dengan mata menatap lurus kearah belakang tubuhnya.
Dibelakang tubuh Galexia beberapa orang berpakaian hitam dengan penutup wajah bergambarkan tengkorak mulai mendekat. Ada empat orang yang kian mengikis jarak dengan mobil Galexia.
Istri dari Pradivta Agas itu perlahan berbalik, wajahnya terlihat datar saat melihat empat orang manusia asing sudah berdiri tegap tidak jauh darinya. Satu alisnya terangkat kala melihat penampilan mereka.
Ini pasti bukan hal baik!
Sialnya saat ini dia hanya memakai gaun dibawah lutut, dipadukan dengan heels 5 centi meter yang membalut kaki jenjangnya.
Tapi bersyukur gaunnya masih bisa diajak kerja sama kalau memang harus beradu fisik dengan mereka.
"Bawa mereka!" titah salah satu dari keempat orang asing itu.
Galexia terkesiap, dia mengambil ancang ancang saat tamu tidak diundang itu datang menyerangnya.
'Siapa mereka?' batinnya.
MAS BINIK MU MAS😌
__ADS_1