Dikejar Cinta MAS INTEL

Dikejar Cinta MAS INTEL
Kesepakatan


__ADS_3

"Kau mendapatkannya?" tanya seseorang dengan nada memaksa dan penuh penekanan.


"Dia kembali ke rumah itu aku tidak bisa mengambilnya!" sahut seseorang dari seberang telepon.


Orang bertubuh besar yang tadi bertanya terlihat mengumpat kasar, dia terlihat begitu marah dan sangat tidak puas dengan kinerja orang yang menjadi salah satu bawahannya tersebut.


"Dan satu lagi Boss, dia tidak sendiri. Ada seorang wanita di-,"


"Bukankah kau sudah tahu kalau intel sialan itu memiliki seorang nenek! Kau sendiri yang bilang padaku bajingan! Jangan banyak alasan, sekarang lakukan tugasmu dengan baik temukan barang itu, aku tidak mau tau!"


Praaakkk


Ponsel tidak berdosa itu terbelah menjadi dua saat sangat pemilik melemparkannya tanpa hati ke arah tembok. Sedangkan sang pelaku tidak merasa menyesal sedikit pun, dia beranjak dari tempatnya dan keluar dengan raut wajah tidak menyenangkan.


"Tuan, pertemuan anda dengan Mr. Narushaka akan-,"


"Dapatkan chipnya, aku tidak mau tahu! Kalau kalian gagal, bersiaplah bertemu malaikat di akhirat!" ancam nya sadis.


Setelah mengatakan itu dia berlalu pergi, langkah lebarnya berusaha diimbangi oleh para bawahan yang senantiasa menurut walaupun sering di perlakukan kasar serta tidak adil.


Di sisi lain...


Pradivta terlihat melirik diam diam pada seorang gadis yang tengah memindahkan sarapan mereka ke piring. Kejadian yang dia alami beberapa saat yang lalu berhasil membuat tubuhnya menegang atas bawah, terlebih sang gadis yang tadinya ingin dia goda malah berbalik menyerang dan membuatnya terkapar.


Gadis itu mengecup rahangnya!


Sungguh kemajuan yang luar biasa dan hampir membuatnya terkena serangan jantung dadakan.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kita disini? Apa Eyang gak bakalan pulang hari ini?"


Pradivta tersentak, dia menaikan pandangannya dan menatap lekat pada gadis yang sudah sah menjadi istrinya tersebut. Pria itu menipiskan bibir saat sang istri memberikan satu piring nasi uduk yang sempat dia beli sepulang jogging tadi.


"Sampai kapan ya?"


Galexia mendesis saat mendengar ucapan suaminya. Bukannya menjawab pertanyaannya, pria itu malah mengajukan pertanyaan lagi padanya.


"Kalo urusan Mas Divta udah selesai, ya kita pulang lah ngapain disini. Jemput Eyang dulu kalo gitu!"


Gemas rasanya, ingin sekali Galexia mencubit usus halus Pradivta saat ini. Terlebih saat dia melihat wajah polos yang di tampilkan oleh Pradivta sekarang, padahal baru beberapa menit yang lalu pria itu bersikap serius dan waspada.


"Tapi aku harus mencari sesuatu dulu, terus ada hal yang harus aku bereskan nanti malam. Kamu enggak apa apa kan aku tinggal? Udah dia malam pengan-,"


"Enggak apa apa! Kalo Mas Divta sibuk ya pergi aja, aku bakalan pulang ke rumah Papi. Besok pagi aku sama Eyang bakalan pulang kesini,"


Pradivta mengulum senyumannya, dia hanya mengangguk sembari mengunyah nasi uduk yang sudah Galexia siapkan untuknya. Ekor matanya diam diam memindai penampilan gadis berwajah bule yang ada di hadapannya saat ini, jujur Pradivta masih tidak menyangka kalau dirinya akan memiliki istri campuran super premium seperti ini. Dia jadi tidak sabar untuk melihat bagaimana rupa anak anaknya nanti, lebih mirip Galexia atau-


Galexia yang tadi tenang menikmati sarapannya, tidak sengaja melihat kelakuan Pradivta lewat sudut matanya. Gadis itu mengernyit kala melihat senyum senyum malu yang di tunjukkan oleh suaminya.


Pradivta kenapa lagi? Pikirnya.


Tidak mau ambil pusing dia segera menghabiskan sarapannya dan bergegas membereskan meja makan, setelah itu dirinya harus mandi karena ini sudah terlalu siang.


Galexia bangkit, dia berjalan menuju arah wastafel untuk mencuci piring kotor. Tentu setia gerakan yang Galexia ambil tidak pernah lepas dari pandangan mata tajam seorang Pradivta, dia bahkan menyudahi makannya saat kedua matanya melihat penampilan Galexia dari arah belakang.


Kenapa dia baru sadar kalau istrinya itu hanya memakai celana pendek yang lebih pantas dikatakan sebagai celana da*lam menurutnya. Shortpans yang Galexia pakai hanya berada beberapa centi dari kedua bokong bulatnya, walaupun bokong indah itu tertutup oleh kaos kebesaran yang dipakainya tapi tetap saja paha serta kaki jenjang mulus itu berhasil memanjakan mata Pradivta.

__ADS_1


Sadar atau tidak Pradivta bangkit, dia tidak lupa membawa piring bekas makannya. Pria itu mendekat pada Galexia yang kini sedang mencuci tangannya dan berdiri tepat di belakang tubuhnya.


Tanpa aba aba dan cukup berani Pradivta mengulurkan kedua tangannya dari belakang, terlihat seperti tengah memeluk tubuh Galexia dan posisi mereka sangat intim dan mesra. Jadi kalau ada orang yang melihatnya pasti akan berpikiran yang iya iya.


"Mas!" serunya saat Galexia merasakan ada dua tangan melingkat di perut ratanya.


Tubuhnya terhimpit di antara meja keramik yang menjadi tempat dia membersihkan piring.


"Sebentar saja," pintanya.


Galexia melemah, entah kenapa akhir akhir ini dia selalu merasa kalah saat berhadapan atau pun beradu kata dengan Pradivta, padahal biasanya dia yang merajai.


"Engap Mas!" protesnya saat Pradivta mengeratkan dekapannya.


Bukannya melepaskan pria itu justru kian gemas dibuatnya, dia dengan cepat membalikan tubuh Galexia agar menghadap ke arahnya. Kedua mata beda warna itu bertemu, tidak ada perasaan tremor yang tadi sempat menyerangnya karena Pradivta sudah belajar dari pengalaman.


"Kamu hati hati dirumah nanti. Jangan buka pintu kalau ada tamu malam malam, Mas harus ninggalin kamu malam ini. Maaf, malam pertama kita-,"


Pradivta melipat bibirnya saat melihat pelototan Galexia. Wajah gadis itu memerah saat dirinya terus saja membahas malam pertama yang selalu tertunda, atau bahkan tidak akan ada malam pertama sebelum Galexia siap lahir batin.


"Mas Divta harus pulang dengan selamat kalau mau tau apa itu malam pertama!" cetusnya sedikit jutek.


Setelah itu dia mendorong sedikit tubuh suaminya agar dapat melarikan diri dengan mudah, meninggalkan Pradivta yang masih mematung sendiri. Galexia menghela napas kasar, mau bagaimana pun dia sudah menjadi seorang istri tidak mungkin akan selalu menghindar saat Pradivta meminta haknya.


Lagian kata Tantenya Dia itu dosa, dan Galexia tidak mau menambah dosa karena dosanya sudah sangat banyak.


"Ini yang bikin gue males nikah!" gumamnya pelan.

__ADS_1



MAKAN YANG BANYAK BIAR KUAT 🤣🤣🤣🤣💪💪🙈


__ADS_2