
Galexia masih terjaga, dia terus saja berguling kesana kemari diatas tempat tidurnya. Sudah lewat tengah malam namun kedua mata abu abunya enggan untuk terpejam, bahkan semakin malam dirinya makin terjaga. Sudah dia gelas susu coklat hangat yang masuk kedalam perutnya, tapi tetap saja tidak mempan.
Ekor matanya melirik pada jam dinding yang tergantung di atas pintu. Waktu sudah menunjukan pukul 1 malam lewat 15 menit, Galexia bangkit dia turun dari perasaannya dan berjalan menuju sofa yang ada di pojok kamarnya.
Sebenarnya tangannya sudah gatal ingin meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas nakas. Dirinya sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan pria yang menjadi suaminya di luaran sana, tapi Galexia takut kalau itu akan mengganggu.
"Ayolah mata merem! Kenapa sih melek terus heran deh?" Galexia merebahkan dirinya di sofa, mendekap boneka yang di bawakan oleh Pradivta saat menikahinya waktu itu. Boneka buaya, entah kenapa pria itu memberinya boneka buaya, kenapa bukan macam atau singa saja kan lebih garang.
Galexia menguap, sepertinya kantuk mulai menyerang dan perlahan kedua matanya terpejam hingga akhirnya berselancar ke alam mimpi.
Sedangkan di tempat lain, Pradivta dan timnya sedang menuju perjalanan pulang. Misi mereka kali ini berjalan mulus walaupun tadi ada sedikit drama saat melakukan penggerebekan. Para buronan begal bersenjata api dan tajam itu melakukan perlawanan, dan hasilnya salah satu lengan Sang komandan tim terluka terkena sabetan senjata tajam berjenis pisau cukup besar yang di gunakan salah seorang buronan.
"Ini harus segera di obati Ndan! Kita ke kantor dulu biar tim kesehatan yang menangani,"
Pradivta yang tengah memejamkan kedua matanya sembari bersandar di kursi mobil hanya mengangguk pasrah. Dia juga mulai merasakan sakit diarea tangan kanannya, memang tidak terlalu dalam tapi cukup lebar dan pasti terlihat mengerikan kalau tidak di tutupi. Beruntung Sigit segera membungkusnya menggunakan sapu tangan yang dia temukan di saku celana milik Pradivta.
"Kita menginap di kantor malam ini, besok pagi kalian boleh kembali ke rumah masing masing."
Semua anggota tim mengangguk mereka juga sama lelahnya dengan Sang Komandan, jadi ingin segera beristirahat dengan nyaman setelah sampai nanti. Pradivta pun sama, dia juga tidak mungkin langsung pulang kekediaman mertuanya atau pun kekediamannya.
🥀
__ADS_1
🥀
🥀
Fajar mulai menyingsing, seorang gadis masih meringkuk diatas sofa tanpa ada selimut yang menghangatkan tubuhnya. Dia menggeliat, dahinya mengerut dalam, kedua mata abu abunya perlahan terbuka, menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya.
Kedua tangannya meregang lebar, rasa pegal kini mulai terasa, sepertinya tidur di sofa adalah pilihan yang salah walaupun rasa kantuknya datang saat dia berada di sofa.
Dengan lemas Galexia bangkit, kedua kaki telanjangnya berjalan lunglai menuju kamar mandi. Masih cukup pagi, waktu masih menunjukan pukul 6 lewat lima menit, cuaca diluar sana pasti masih terasa dingin. Padahal sebenarnya Galexia berencana akan jogging pagi ini di halaman rumah Papinya. Tapi sepertinya tidak jadi, tubuhnya terasa sakit, mungkin hanya akan lari di atas treadmill beberapa belas menit saja.
Setelah mencuci wajahnya, Galexia terlihat lebih segar. Dia segera mengganti pakaian tidurnya dengan bra sport dan celana legging selutut berwarna senada. Gadis itu bergegas, kaki jenjang berbalu sepatu sport putih itu berjalan cepat menuju ruangan yang berada tidak jauh dari kamarnya. Tempat itu terletak di lantai dua tepat di dekat kolam renang yang biasa di gunakan oleh Galexia saat berenang.
Keringat semakin bercucuran di dahi serta seluruh tubuhnya, kedua telinganya yang tersimpan headphone tidak dapat mendengar apa pun lagi. Bahkan saat ada seseorang masuk kedalam ruangan itu Galexia juga tidak menyadarinya sama sekali. Orang itu menipiskan bibir saat melihat Galexia terlihat begitu bersemangat berlari di atas treadmill dengan keringat yang kian deras, hingga membuat wajah judes itu terlihat sexy.
Perlahan kedua kaki berbalut sepatu boot hitam itu mendekat ke arah treadmill, kedua matanya menatap lekat tubuh molek milik gadis yang masih belum menyadari kehadirannya.
Dengan tidak sopan dia mematikan alat itu, membuat orang yang tengah menggunakannya menoleh dan tertegun sejenak tanpa menghentikan laju kakinya.
"Pagi istri, suami kamu sudah kembali dengan selamat. Jadi gimana, apa kesepakatan kita masih-,"
"Kenapa lengannya? Siapa yang ngelakuin ini?" sela Galexia cepat.
__ADS_1
Dia segera turun dari treadmill dan meraih lengan pria yang terbalut perban putih, menatapnya lekat penuh tuntutan.
"Ini cuma luka bia-,"
"Pending!" selanya cepat.
"Hah?!"
"Sembuhin dulu lengannya." cetusnya ringan.
Pria itu menghela napas kasar, kedua matanya menatap tidak percaya pada punggung gadis yang sudah semakin jauh darinya.
"Sayang ayolah-,"
"SEMBUHIN DULU ATAU GAK SAMA SEKALI!" skaknya.
Aish macam mana ini, pending lagi pending lagi, ini semua gara gara luka sialan! Rutuknya dalam hati.
GETER GAK MAS 🤣🤣🤣
__ADS_1