
Selepas makan malam Eyang segera pamit untuk beristirahat, hari ini cukup melelahkan untuknya. Maka dari itu Eyang Sari beristirahat lebih awal, padahal waktu baru menunjukan pukul 8 malam belum terlalu malam.
Sementara sepasang pengantin baru yang dia tinggalkan terlihat saling lirik, terlihat malu malu dan curi curi pandang. Keduanya masih saling diam, bahkan sangat istri memalingkan wajahnya saat melihat pria yang ada disisinya terus saja menatap lekat terkesan nakal ke arahnya.
"Aku mau ke dapur dulu,"
Galexia bangkit, dia meraih piring kotor yang sudah terkumpul rapih di hadapannya. Tanpa ingin menoleh pada Pradivta yang masih menatap dalam kearahnya, gadis itu bergegas pergi sebelum Komandan Black Mamba itu mematuk nya dan meracuninya dengan bisa cinta.
Galexia menyibukan diri dengan berkutat di depan wastafel, dinginnya air kran sedikit mampu meredam detak jantungnya yang tidak biasa. Baru kali ini dirinya merasa takut, jujur dari dulu Galexia tidak memiliki rasa takut kecuali pada Tuhan dan kedua orang tuanya, walaupun sering membantah.
Tapi entah mengapa saat melihat tatapan tak berekspresi yang Pradivta tunjukan membuat nyalinya menciut. Desa*han lelahnya kembali terdengar, dia bergegas mematikan kran air setelah semua piring kotor selesai dia bersihkan.
Tapi belum sempat berbalik Galexia merasakan ada yang janggal, dan benar saja tidak lama setelah larut dengan perasaannya dua buah lengan besar melingkar begitu saja di perut rampingnya.
Bahkan saat ini Galexia merasa bahunya cukup berat, tidak perlu menoleh dia sudah tahu penyebabnya.
"Belum selesai hm?"
Suara bisikan yang malah terdengar seperti desa*han itu kian membuat bulu kuduk Galexia berdiri. Kedua matanya terpejam pasrah, sepertinya memang tidak bisa lagi untuk menghindar.
Dengan pelan dia melepaskan belitan tangan Pradivta, Galexia berbalik menghadap pada pria yang saat ini tengah mengembangkan senyumannya. Senyuman nakal yang entah mengapa malah terlihat mengerikan sekaligus manis dimatanya
Dasar gak singkron nih otak!
"Mas-,"
"Kalau belum siap enggak apa apa, kita nunggu besok aja. Mas bakalan pergi ke-,"
"Aku siap!" sahutnya tanpa ragu.
Tidak, Galexia tidak akan membiarkan Pradivta kelayapan malam ini. Dia tahu pria itu pasti akan ke kamarkas Black Mamba kalau mereka tidak melakukan sunah rosul malam ini.
Dan pastinya akan bertemu dengan perawat centil yang kemarin terlihat sok asik pada suaminya. Bukan, bukan karena dirinya cemburu tapi tidak suka saja saat melihat wanita lain terlihat lemah gemulai di depan suaminya, elaknya dalam hati.
"Beneran? Kamu enggak-,"
"Sekarang, atau enggak sama sekali!" putusnya sedikit mengancam.
Oke dia mulai gila, Galexia menurunkan ego dan rasa malunya. Bodoamat, dia mengajak mencari pahala dengan suaminya sendiri bukan dengan suami orang.
__ADS_1
Abaikan rasa malu dulu sekarang!
Tanpa menunggu lagi Pradivta segera mengangkat tubuh Galexia, menggendongnya di depan layaknya anak koala. Sementara Galexia reflek mengalungkan kedua tangannya pada leher Pradivta, mengikuti naluri nya sendiri. Keduanya berjalan pelan menuju kamar, entah siapa yang memulai duluan, kedua bibir yang biasanya saling diam dan mencibir satu sama lain itu sudah berpagutan. Pradivta tidak perlu memakai mata untuk berjalan baik menuju peraduan mereka tanpa harus melepaskan belitan bibir keduanya. Hingga akhirnya sampailah di tempat yang keduanya butuhkan, malam pertama yang sempat tertunda beberapa waktu karena insiden tidak terduga itu kini sedang mereka nikmati.
Tidak ada keterpaksaan, keduanya melakukan dengan ikhlas. Sadar atau tidak cinta itu sudah tumbuh dan mulai berkembang di dalam hati masing masing, rasa cemburu yang menerpa menambah subur rasa itu.
SKIPPPP.... 💔💔
🥀
🥀
🥀
Beberapa hari setelah malam panjang, Pradivta baru saja masuk kedalam kamar setelah membersihkan diri. Hari ini dia kembali bertugas, buka tugas di lapangan maka dari itu dirinya harus memakai seragam lengkap.
Sudut bibirnya terangkat saat melihat kebutuhannya sudah tertata rapi diatas tempat tidur. Ekor matanya melirik ke arah jendela, cuaca hari ini cukup cerah pantas saja sama seperti suasana hatinya. Beberapa hari mendapatkan asupan gizi dari Galexia, Pradivta merasa hidupnya lebih berbeda dari pada sebelumnya.
"Ternyata enak punya istri, kenapa enggak dari dulu aja!" gumamnya.
Pria itu terkekeh, dengan cepat memakai seragamnya dan harus bergegas menuju meja makan sebelum sangat Nyonya kembali berteriak. Entah mengapa Galexia akhir akhir ini suka sekali berteriak saat memanggilnya, padahal dulu tidak. Bahkan di hadapan Eyang pun istrinya itu tidak peduli.
"Pagi Sayang,"
Galexia mendelik saat Pradivta mengecup pipinya secara brutal, padahal di dekat mereka ada Eyang Sari yang tengah menikmati susunya.
"Ada Eyang!" tegur Galexia.
Tangannya sudah mencubit paha Pradivta, membuat sangat empu meringis tapi masih terkekeh. Pradivta terlihat menyukai raut wajah sangar Galexia saat marah, entah sejak kapan dia candu dengan itu.
Aneh bukan!
"Biarin aja, Eyang juga gak masalah. Iya kan Eyang?"
Bukannya berhenti Pradivta malah makin menjadi, Galexia bahkan harus menahan wajah suaminya agar tidak semakin brutal menngecupinya.
"Iya gak masalah, biar Eyang cepet punya cicit. Tapi jangan bikin cucu menantu Eyang kesel juga, bisa abis nanti kamu!"
Eyang Sari mencebik, wanita sepuh itu kembali menyeruput susu hangat yang Galexia buat sembari membolak balikan undangan di tangannya.
__ADS_1
"Nanti siang Eyang mau minta antar Nak Dia ke undangan. Gak apa apa kan Div?"
Pradivta mengangguk tanpa menatap kearah Eyang Sari, dia sedang menikmati sarapan yang dibuat oleh istrinya.
"Aku juga kayaknya pulang agak sore Eyang, ada hal yang harus diselesaikan. Kamu hati hati bawa mobilnya ya, kalau ada apa apa kabarin Mas!" ucapnya lembut namun penuh dengan ketegasan.
Tangan Pradivta yang menganggur mengusap pucuk kepala Galexia saat istrinya itu belum menyahuti ucapannya. Gadis yang sudah kehilangan keperawanannya beberapa hari yang lalu itu hanya mengangguk pelan tanpa menyahuti ucapan suaminya.
Akhirnya ada hari yang bisa membebaskannya dari kunkungan si Black Mamba yang terus saja meracuni dirinya dengan bisa mematikan namun mampu membuatnya kecanduan.
Brengsek memang!
🐍
🐍
🐍
Beberapa belas menit Pradivta butuhkan untuk sampai ditempat tujuan. Beruntung dia memakai motor mungkin kalau memakai kendaraan roda empat akan lebih lama sampainya.
Pria itu bergegas, dia bersama rekannya sudah di tunggu di titik berkumpul. Benar saja disana seluruh anggota Tim Black Mamba sudah berkumpul, beruntung Pradivta belum ketinggalan acara.
"Baiklah, karena ini merupakan misi Tim Black Mamba jadi semua anggota harus ikut serta. Ayo kita mulai pembahasannya, silahkan Komandan Tim!"
Kaki berbalut sepatu boot itu mendekat, kedua matanya memindai deretan manusia yang berjajar rapih di hadapannya.
"Kelompok itu mulai bergerak, dia mengincar chip yang kita dapatkan waktu itu. Aku harap kalian selalu bersiaga dan bersiap dengan sesuatu yang tidak memungkinkan, aku yakin mereka sedang merencanakan hal besar demi bisa mendapatkan chipnya kembali. Sayangnya kita belum bisa membuka isinya dengan cepat, aku harap Sigit akan segera menyelesaikan tugasnya tepat waktu."
Helaan napas kasar terdengar, Pradivta terus saja memberikan arahan untuk para anggotanya. Sedangkan di tempat lain, Galexia baru saja tiba di tempat tujuan dia dan Eyang Sari segera turun dan bergegas masuk kedalam area pesta.
Dia tidak menyadari kalau di bawah bemper mobil yang di bawanya ada sebuah benda yang terus saja berkedip. Seperti sebuah sinyal, dan sinyal itu dapat di tangkap oleh seseorang nun jauh disana.
"Target sudah keluar, eksekusi dengan baik. Biarkan dia menukarnya sendiri, katakan itu pada mereka!" titahnya.
"Baik, Mister!"
BLOM PERNAH KENA TABOK GER TRONTON KALI TUH ORANG YA
__ADS_1
BINIKNYA MAS INTEL BERDEMAGE SETELAH KERACUNAN BISA BLACK MAMBA🤣🤣🤣🤣