
Braaak!
Pradivta berlari setelah menutup pintu mobil cukup keras. Pria berpakaian serba hitam itu segera memasuki sebuah klinik kesehatan yang buka 24 jam.
Dia panik setengah mati setelah mendapatkan kabar kalau rumahnya dimasuki oleh orang yang tidak dikenal, bahkan berhasil membuat istrinya kembali terluka dan Eyangnya shock.
Pradivta tidak tahu siapa yang menghubunginya, beruntung tugas berat yang sedang dia dan timnya jalankan sudah berhasil. Para kriminal itu berhasil mereka amankan dan bersiap menanti hukuman.
"Pasien atas nama Galexia Agas!"
Napasnya masih terengah, Pradivta terlihat tidak peduli dengan keadaannya sekarang yang terpenting kondisi sang istri.
"Ada di ruang kemuning, silahkan lewat sana Mas." ucap perawat itu sopan.
Tanpa menunggu lagi Pradivta melebarkan langkahnya, kedua tangan menggenggam erat, sedikit berkeringat karena terlalu khawatir. Tadi sepanjang perjalanan menuju klinik, dia berulang kali mengumpat kasar saat harus menyalip beberapa kendaraan besar yang melintas di tengah malam.
Dia kembali menyayangkan dengan keadaan yang sudah terjadi, andai saja dirinya tidak bertugas hari ini, andai ada orang yang mau menjaga keluarganya saat dirinya bertugas, andai jabatannya bisa dia pergunakan sesuka hati andai andai andai. Masih banyak perandaian yang lain di dalam otak sang komandan Black Mamba. Tapi sayang dirinya tidak memiliki jabatan tinggi yang bisa disalah gunakan seenaknya.
Pradivta menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan sebelum dia meraih handle pintu. Sudah terdengar suara obrolan dari dalam ruangan, sepertinya dokter tengah memeriksa Galexia.
__ADS_1
Pria berpakaian serba hitam itu masuk dengan hati hati. Bahkan tidak terdengar langkah kakinya hingga tidak disadari oleh orang orang disana termasuk Eyang Sari dan istrinya, tapi sepertinya tidak untuk pria tinggi tegap yang tengah bersandar di dinding sembari menatap lekat pada Pradivta.
Bila mata Emerald nya terus saja mengikuti gerakan tubuh sang komandan hingga Pradivta sampai di belakang tubuh Eyang Sari.
"Jadi putri saya boleh pulang malam ini atau besok, Dok?" wanita paruh baya yang miliki wajah khas Asia itu menatap sendiri pada Galexia yang tengah memejamkan kedua matanya. Sepertinya wanita itu tertidur setelah meminum obat yang di berikan oleh dokter.
"Besok saja Nyonya, malam ini biarkan putri anda beristirahat disini. Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa apa panggil saja."
Crystal mengangguk, dia tidak bersuara sedikit pun, pandangannya kembali teralih pada Galexia. Matanya terlihat memerah, wanita itu pasti menangis melihat keadaan putri semata wayangnya. Putri yang sejak dulu sangat sulit dia dan Galaska dapatkan, tapi selang 5 tahun setelah pernikahan mereka akhirnya Tuhan membayar semua kesabaran sepasang suami-istri tersebut.
Pradivta bahkan tidak kuasa saat melihat wajah sendu ibu mertuanya. Dia sangat yakin kalau wanita paruh baya itu pasti sangat terpukul melihat keadaan putri kesayangannya.
Kedua wanita beda usia itu menoleh, mata keduanya terlihat memerah dan sembab karena menangis. Dan itu semakin membuat Pradivta dilanda rasa bersalah.
"Kamu disini? Eyang kira-,"
"Gimana keadaan istri Cinta, Eyang?" Pradivta menyelama cepat, dia bahkan segera mendekat pada Galexia yang terbaring di tempat tidur klinik.
Satu tangan Galexia digenggam erat oleh Pradivta, bahkan pria itu membawanya ke arah bibir untuk dia kecup lembut. Bibir sang komandan Black Mamba terlihat bergerak, menggumamkan banyak kata maaf pada Galexia yang masih menutup mata sejak tiga puluh menit yang lalu.
__ADS_1
"Galexia enggak apa apa, Nak. Kamu jangan khawatir ya, kamu istirahat dulu. Mami yakin kamu juga capek, Mami mau nelpon Papi dulu ya," Crystal mengulas senyuman lembut pada menantunya. Bahkan wanita itu mengusap pucuk kepala Pradivta dengan sayang.
Crystal berpikir jernih, apa yang terjadi pada Galexia adalah salah satu resiko saat menjadi istri seorang Pradivta Agas. Dia dan Galaska sudah khatam, karena mereka juga memiliki Opa serta Oma yang dulu pernah di posisi Galexia dan Pradivta, bahkan lebih parah dari pada ini bukan. Sayang Galaska tadi harus pulang karena ada sesuatu yang harus diselesaikan.
"Ayo Eyang, kita keluar. Biarin Divta yang nungguin Xia," Crystal mengait lengan Eyang Sari, kedua wanita beda usia itu keluar dari ruang rawat Galexia meninggalkan Pradivta dan istrinya.
Tapi sepertinya mereka melupakan pria yang masih berdiri tegap bersandar di tembok klinik. Kedua matanya terus saja menatap interaksi antara Pradivta dan Galexia yang belum terbangun.
"Aku sarankan, kalau kau tidak bisa menjaganya biar aku saja yang menjaganya. Sudah kesekian kalinya kau membuat Nona terluka, dasar tidak becus!" tukasnya tajam.
Suara dalam dari arah belakang tubuhnya membuat Pradivta menoleh. Dahi pria itu mengerut saat melihat seorang pria berwajah asing terlihat begitu mengintimidasi menatap kearahnya.
Sangat terlihat sekali aura ketidaksukaannya, dan itu semakin membuat Pradivta mengernyit heran.
Siapa pria itu?
BAYANGIN AJA MAS DIVTA GENDONG GALEXIA 😌😌😌
__ADS_1