
Jadi dari pada Galexia kehilangan kesenangan, lebih baik menikmatinya saja. Tapi sepertinya kesenangan para penonton sedikit terganggu saat mereka mendengar suara gaduh dari arah bawah dan teriakan beberapa ibu ibu.
"COPEETTTT!"
Telinga Pradivta yang peka seketika menoleh, biarpun suasana di arena motor gila sedang gila gilanya dan suara bising itu mampu meredam teriakan para ibu ibu, tapi tetap saja pria itu dapat mendengarnya.
"Kita turun!"
Tanpa memberi asalan yang pas Pradivta segera membawa istrinya turun, terlihat begitu tergesa terlebih saat melihat seorang pria muda tengah berlari menjauh dari kejaran beberapa orang.
"Kenapa? Kita belum selesai lihatnya!" Galexia mulai protes tapi Pradivta tetap membawa gadisnya keluar dari area itu.
Pradivta membawa Galexia memutar, entah apa yang sedang dia rencanakan, yang jelas saat ini keduanya sudah menjauh dari keramaian dan berjalan menuju belakang tenda para pedagang dan permainan.
"Kita mau kemana sih-,"
Ucapan Galexia terhenti saat Pradivta menempelkan telunjuknya di bibir sangat gadis. Langkah mereka perlahan mulai memelan, setelah tidak bersuara lagi pasangan itu kembali melangkah dengan hati hati.
"Lo dapat apa?"
"Dih, cuma gocap! Miskin amat nih ibu ibu, perasaan dandannya menor amat kayak sosialita!"
Pradivta dan Galexia mengintip kedua pria muda yang saat ini tengah sibuk membongkar tas milik ibu ibu yang berhasil mereka gasak.
"Makanya lo jangan lihat penampilan, sekarang banyak yang menipu. Udah tenang aja gue dapat banyak hari ini, beruntung lo gak jadi pepes bakar pas tuh emak emak teriak,"
Terdengar decakan dari salah satu mereka, kedua pria muda itu terlihat membagi hasil copetannya hari ini dan hendak pergi dari sana setelah membuang barang bukti ke tempat sampah. Tapi sayang langkah keduanya terhenti saat mendengar suara seseorang dari arah belakang.
"Mau kemana kalian?" tanyanya dengan suara tenang.
__ADS_1
Ekspresinya pun begitu tenang saat melihat dua pria muda itu berbalik dan menatap orang itu dengan wajah terkejut.
Merasa terpergok, keduanya berancang ancang untuk lari dari kenyataan, hingga akhirnya.
Dor!
Letupan senjata api terdengar menembus langit, kedua pria muda itu memekik sembari menutup kedua telinga. Mata mereka terpejam, detak jantungnya seperti habis maraton, itu pertama kalinya mereka berdua mendengar letupan senjata api.
"Nyali kerupuk." cibir seorang gadis yang tengah menikmati catton candy yang sejak tadi dibawanya.
"A-ampun Bang, eh Pak," ringis salah satunya. Dia menyadari kalau pria yang ada dihadapan mereka saat ini bukan orang biasa.
Pradivta menghela napas, dia mendekat pada keduanya, tangannya yang terluka merogoh sesuatu dari balik kaos biru yang dipakainya.
Sebuah borgol.
Tak Tak!
"Berdiri dan jalan!" titahnya.
Tanpa melawan mereka berdua segera berdiri, berjalan berdampingan dengan tangan terborgol dan saling mengikat. Di belakang Pradivta dan Galexia mengikuti kedua pria itu, mereka keluar dari tempat sepi tersebut dan masuk kearea ramai. Ternyata di sana orang orang sudah berkumpul, ada sebuah mobil patroli yang terpatkir di tepi jalan.
"WAH ITU ORANGNYA!" Seru salah satu warga mengundang warga lainnya.
Mereka mendekat dengan cepat, hendak meraih kaos salah satu copet tapi Pradivta segera menghalanginya.
"Jangan main hakim sendiri, biarkan pihak berwajib yang bertindak. Segera bawa mereka, dan ini barang buktinya."
Pradivta memberikan tiga buah tas dan satu dompet pada petugas polisi berpakaian lengkap yang datang ke lokasi. Barang barang itu tentunya di bawa oleh Galexia, karena Pradivta tidak sempat mengambiknya tadi.
__ADS_1
"Baik, terimakasih Ndan!"
Setelah itu petugas segera memboyong kedua pencopet masuk kedalam mobil patroli, di soraki langsung oleh para warga. Suasana kian ramai dan memanas saat beberapa warga terlihat tidak puas karena tidak bisa memberikan pukulan pada keduanya.
Tapi Pradivta tidak mau ambil pusing, dia segera meraih tangan Galexia dan membawa gadisnya pulang dengan berjalan kaki seperti tadi.
Memang dasar suami kejam!
"Kita mau kemana lagi?" tanyanya.
"Pulang," sahut Pradivta.
Raut masam tercipta di wajah Galexia, dia memakan catton candy nya dengan rakus karena kesal. Padahal dirinya masih ingin berada di tempat ini dan melihat motor gila lagi.
"Lain kali kita kesini lagi,"
Gadis itu hanya berdehem menanggapinya, keduanya berjalan pelan menyusuri jalanan yang cukup ramai. Ekor mata Pradivta terlihat bergerak ke satu sisi, dahinya mengernyit saat melihat sesuatu yang-
Sreettt!
Dengan cepat dia menarik tubuh Galexia saat melihat sebuah mobil jeep tiba tiba saja mengebut dan hendak menabrak istrinya. Beruntung dirinya sigap dan segera mengamankan Galexia, walaupun harus mengorbankan lengannya yang terluka, karena dia gunakan untuk meraih tubuh Galexia.
Perban putih yang membelit lengannya terlihat memerah menandakan kalau luka jahitan itu kembali terbuka. Tapi Pradivta tidak peduli, dia tetap memeluk erat tubuh Galexia dan menatap tajam pada mobil jeep yang sudah menjauh dari pandangannya.
Siapa? Dan kenapa pengendara itu ingin mencelakai istrinya? Jelas sekali itu di sengaja.
NONGKI DULU NENGπππ
__ADS_1