
"Ini ada apa? kenapa kalian malah bertengkar?"
Galaska meringis melihat sebuah guci mahal kesayangannya sudah hancur tidak berbentuk. Pria setengah baya itu melirik pada sang istri dengan memelas, dia berharap kalau Crystal akan simpati dan mau membelikannya lagi.
"Tanya saja sama pengawal kesayangan Nonno, jangan mentang-mentang dia bebas di keluarga ini bisa seenaknya. Sampai berani menyuruh ku begini begitu seolah dia punya kuasa. Dengar, kita memang saling mengenal sejak kecil tapi itu enggak bisa dijadikan alasan buat lo ngatur hidup gue. Dia udah jadi suami sah gue, mau enggak mau lo harus ngehormatin dia!" Suara Galexia kembali terdengar rendah. Mata abu-abunya menatap tajam pada pria yang memiliki warna mata sama sepertinya hanya lebih gelap.
"sudah sudah, ini tolong bereskan dulu nanti pecahannya bisa kena kaki!" Titah Galaska.
Beberapa pelayan datang, mereka bergegas membersihkan pecahan keramik tajam yang berserakan dilantai. Pecahan yang membuat mereka menelan salivanya berat, diyakini kalau guci keramik tersebut bukan barang murah.
"Saya tidak melakukan apapun, Tuan. Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Bukankah memang benar kalau pria yang menikahi Nona tidak becus melindunginya, mungkin kalau saya tidak datang tepat waktu Nona bisa saja-,"
"Apa aku memberikan mu perintah untuk mencampuri urusan menantu serta putriku, Edgar?" Sela Galaska dingin.
__ADS_1
Pria yang memiliki darah Mafia serta Alpha tim Serigala Hitam itu terlihat tidak menyukai sikap yang tengah ditunjukkan oleh Edgar. Galaska menatap pengawal kesayangan sang Padre dengan tajam, bahkan raut wajah yang awalnya santai kini berubah 180 derajat.
sudut bibir Galaska terangkat, ekor matanya melirik pada Nagara yang belum melakukan apa pun. Pria tua itu hanya melipat kedua tangannya di dada sembari menatap tak berekspresi pada Edgar.
"Kembalilah ke negaramu malam ini juga. Tugasmu sudah selesai, nanti aku yang akan melaporkan hasil kerjamu pada Melody." Cetusnya lagi.
Galaska berbalik, dia menghela napas kasar dan segera meraih lengan istrinya agar beranjak dari tempat itu. Saat dirinya berpapasan dengan Pradivta yang juga masih belum mengambil tindakan, pria setengah baya tersebut hanya menepuk pundak sang menantu cukup keras.
"Tuntaskan sesuai dengan yang kamu inginkan, Papi akan menunggu kalian di halaman belakang. kalau sudah selesai temui Papi dan Nonno disana!" Ucap Galaska ringan.
"Selesaikan, kau yang memulainya Edgar. Maka kau juga yang harus menyelesaikannya, seharusnya berpikir sebelum berkata dan bertindak seperti orang bodoh!" Sarkas nya tajam.
Nagara dan Galaska pergi meninggalkan ketiganya, mereka berdua bergegas membawa para wanitanya menjauh dari tempat kejadian perkara. Galaska yakin kalau saat ini belum ada hal yang membuat suasana kediamannya heboh, tapi sebentar lagi pasti akan terjadi.
__ADS_1
Edgar terlihat menunduk mendengar penuturan pria yang menjadi panutannya tersebut, dia tidak berpikir kalau Nagara akan mengatakan hal itu dan meninggalkan dirinya disini bersama Cucu menantunya.
"Kau memiliki perasaan lain pada istriku, Tuan Edgar?" Tanyanya tanpa basa basi.
Dan nyatanya pertanyaan yang dia lontarkan berhasil membuat Edgar membulat, terkejut, dan menegang, kedua abu-abunya menatap tajam pada Pradivta terlebih Galexia yang sama terkejutnya seperti Edgar.
"Ayolah tidak perlu terkejut seperti itu. Dari matamu cara memandang istriku, siapa pun bisa melihatnya. Makanya sejak awal kita bertemu kau terlihat sangat tidak menyukai ku. Itu wajar, aku juga tidak bisa melarangmu untuk menyukai wanitaku, tapi aku hanya ingin menegaskan dan membuat kau sadar kalau wanita yang sedang kau sukai itu adalah milikku dan aku sebagai pemiliknya tidak akan sudi berbagai. Maka sekarang pulanglah ke negara asalmu secara baik baik, sebelum aku memberikan cap buruk hingga kau tidak bisa lagi kembali ke negara ini. Dan terimakasih atas bantuannya sudah menyelamatkan istriku, seharusnya tidak perlu berterimakasih sih karena itu memang tugasmu bukan sebagai pengawal kebanggaan Nonno Nagara." Ucap Pradivta santai namun disetiap kata yang dia lontarkan mampu menyentil harga diri Edgar.
Setelah mengatakan hal itu dengan senyuman tipis memikat Pradivta segera marah pinggang Galexia, membawa wanitanya menjauh dari Edgar yang sekarang terlihat mematung tidak mampu melakukan apa pun. Senyuman Pradivta kian melebar, dia tidak perlu beradu otot dan urat leher dengan Edgar cukup membuat egonya longsor sudah dipastikan selesai. Karena kalau mereka beradu otot, sudah dapat dipastikan kediaman mertuanya akan menjadi ring tinju dadakan.
HAJAR MAS💪💪
__ADS_1
TERSEPONA AKUðŸ¤ðŸ¤ðŸ¥°