
"Kalian berdua akan tetap menikah. Enggak masalah kalau menikah secara agama dulu, nanti setelah 40 hari Eyang Damar baru kita urus semua keperluan pernikahan resmi kalian, dan resepsinya."
Galexia dan Pradivta saling lirik mendengar penuturan Galaska. Mereka tidak mengatakan apa pun, hanya mengangguk pasrah dan menyerahkan semuanya pada pria paruh baya itu.
"Kita berdua ikut apa kata Papi. Saya sudah menyelesaikan semua berkas pengajuan pernikahan ke kantor, jadi sangat pas setelah 40 hari Eyang Damar selesai."
Pradivta menyetujui, dan dia yakin Galexia tidak akan membantah kali ini. Selain janjinya yang harus di tepati, gadis itu juga pasti sudah lelah bermain kucing kucingan seperti ini bersamanya.
"Gimana dengan kamu?" Galaska menatap lekat pada putrinya.
Satu alisnya naik saat melihat Galexia belum bersuara sedikit pun. Ekor matanya terlihat melirik pada Pradivta yang tengah mengulum senyum, namun Galexia masih bisa melihat senyuman tipis di bibir pria itu.
"Aku setuju, aku nyerahin semuanya sama Mas Divta. Aku ke kamar dulu ya Pi, Mi, kepala ku agak pusing."
Galexia bangkit, dia berlalu pergi meninggalkan ketiganya. Dia tidak berbohong, jujur kepalanya saat ini sedikit berdenyut. Mungkin karena kelelahan dan banyak menangis tadi saat di kediaman Omnya.
"Aku juga mau pamit pulang. Eyang pasti nungguin, dia sendirian di rumah."
Pradivta melakukan hal yang sama, dia bergegas pamit pada Galaska dan Crystal. Dengan sopan dan takzim dia menyalami tangan kedua calon mertuanya.
"Hati hati ya, Nak. Salam buat Eyang Sari, bilangin gak usah mikir apa pun, biar Mami yang urus semuanya." Crystal menepuk pundak kokoh calon menantunya. Dia memberikan semangat pada Pradivta, karena dia yakin keputusan yang mereka ambil ini akan kembali membuat Galexia kesal.
"Aku akan mengingatnya, Mi." sahut Pradivta sopan sebelum dia benar benar keluar dari rumah mewah itu.
__ADS_1
💞
💞
💞
Seminggu berlalu...
Tidak terasa waktu pernikahan yang sudah mereka rencanakan akhirnya sampai juga. Saat ini Galexia sudah bersiap untuk menyambut kedatangan suaminya, dia masih berada di dalam kamar. Sengaja di larang untuk keluar oleh Crystal dan para tetua Dinasty Duren Sawit lainnya.
"Saya Terima nikah dan kawinnya Galexia Ranendra binti Galaska Gavy Ranendra dengan mas kawin satu set perhiasan emas seberat 30 gram di bayar tunai!"
"Sah!"
Galexia memejamkan kedua matanya saat kedua telinganya bisa mendengar samar samar ikrar suci yang Pradivta ucapkan di hari spesial ini. Akhirnya mereka berdua menjadi suami istri secara sah di mata Tuhan, ada satu jalur lagi yang harus mereka tempuh setelah ini. Semoga saja tidak ada hal berat yang akan mereka lalui setelah ini.
Galexia menaikan kepalanya, gadis berkebaya gold simple namun elegan itu menatap orang yang saat ini datang menjenputnya. Dia menarik napasnya dalam sebelum bangkit, meraih uluran tangan sangat Mami yang tengah tersenyum harus ke arahnya.
"Mami jangan nangis. Aku gak bakalan mau keluar kalo Mami nangis!" ancamnya.
Crystal tersenyum, wanita paruh baya itu berusaha menahan tangisannya agar tidak keluar. Dia melirik pada Cia yang juga ikut menjemput Galexia ke kamarnya, ketiga wanita itu berjalan berdampingan dengan langkah hati hati. Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan yang di jadikan sebuah ikrar janji suci seorang pria untuk istrinya.
Galexia belum mau mengangkat wajahnya, dia masih menunduk menatap sepatu kristal yang di pakainya hari ini. Sangat indah menghiasi kedua kakinya, jangan lupa hiasan rambut yang semakin membuatnya bertambah cantik.
__ADS_1
"Pengantin wanitanya sudah datang, sekarang tinggal salim dulu sama suaminya," seorang penghulu yang sudah tidak asing lagi di mata mereka memberikan intruksi pada Galexia.
Gadis itu mengangkat wajahnya, bertepatan dengan Pradivta yang juga menatap ke arahnya dan bersiap untuk mengulurkan tangan kanannya pada istrinya.
Istri?
Pradivta mengulum senyum saat sadar kalau gadis galak dan judes yang ada di hadapannya sekarang ternyata sudah menjadi istrinya, orang yang akan mendampingi hidupnya sekarang, nanti dan selamanya. Padahal beberapa waktu yang lalu gadis ini begitu sulit untuk dia dekati apa lagi dapatkan, sampai akhirnya ada kejadian yang menguntungkan untuk Pradivta dan tidak lagi menyia nyiakan nya.
Dengan tangan bergetar Galexia meraih uluran tangan pria yang sudah menjadi suaminya, mata keduanya bertemu, hingga akhirnya terputus kembali saat Galexia menunduk untuk mencium punggung tangan Pradivta dengan takzim sesuai dengan arahan pak penghulu, Pamamnya sendiri.
Semua orang riuh, bertepuk tangan kala Pradivta dengan berani mengecup dahi Galexia di depan para tamu dan saudara mereka. Eyang Sari sampai gemas di buatnya, dia terlihat sudah tidak sabar untuk menimang cicit.
"Lexi udah nikah, Bang Azka kapan nyusul. Masa keduluan sama adeknya lagi sih," cetus seseorang yang membuat pria berkoko putih dan berpeci itu menoleh, wajah tampannya terlihat memukau para kaum hawa terlebih saat dia tersenyum.
"Insya Allah di segerakan kalau jodohnya sudah ada, Bu." sahutnya sopan.
"Loh bukannya Bang Azka udah mau nikah sama anak di pesantren ya, kok gak ada kabar lagi?"
Pria itu menggaruk lehernya yang tidak gatal mendengar pertanyaan ibu ibu itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan memilih untuk melihat keponakannya yang tengah di pangku oleh Rimba adik iparnya.
"Belum jodoh Bu, enggak jadi." sahutnya pelan.
Tidak ada lagi obrolan diantara mereka, semua fokus pada sepasang pengantin yang tengah bertukar cincin pernikahan di depan semua orang. Mereka semua mendoakan agar kedepannya sepasang pengantin itu segera di berikan momongan dan langgeng sampai maut memisahkan, aamiin.
__ADS_1
pak manten 🤣🤣🤣🤣