
Caitlyn menatap takjub bangunan sekolah di depannya. Sebenarnya, sejak dulu Chloe memang bersekolah di tempat elit yang tak jauh berbeda. Namun, Caitlyn tidak pernah merasakan kesenangan seperti ini. Mungkin karena sang ibu mertua selalu saja ikut campur, dan sering tidak mengizinkannya untuk pergi ke sekolah.
"Bagaimana menurutmu, bagus tidak? Kalau tidak, biar kucarikan yang lain lagi," ujar Owen.
"Yang benar saja. Ini bagus sekali!" seru Caitlyn. "Anak-anak sepertinya akan suka dengan sekolah ini," sambungnya sembari menatap Chloe dan Wayne yang sedang berjalan riang di depan mereka sambil bergandengan tangan.
Owen mengangguk. Ternyata butuh waktu bagi pria itu untuk mencari sekolah yang nyaman untuk Chloe dan Wayne. Owen menginginkan sekolah yang sehat, dalam artian bebas dari orang-orang dan lingkungan buruk, seperti peruunduungan dan segala macamnya. Dia juga menginginkan tenaga pengajar profesional yang mampu menilai setiap murid secara adil.
Itu lah mengapa Owen menjatuhkan pilihannya pada sekolah ini.
Selain itu, sekolah ini juga terdiri dari Kindergarten hingga Senior High School, jadi mereka tidak perlu lagi bersusah payah mencari sekolah lain.
Dipandu salah seorang security, keempatnya diantar menuju ruang kepala yayasan.
"Mengapa repot-repot bertemu dengan kepala yayasan? Kita, kan, hanya mau mendaftarkan anak-anak sekolah," ujar Caitlyn berbisik.
Owen hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaan sang istri.
Sesampainya di ruang kepala yayasan, Caitlyn benar-benar takjub melihat beliau pada Owen. Meski jauh lebih tua, tetapi beliau sangat menghormati Owen. Mungkin, karena selain anak dari pemilik universitas cukup terkenal, Owen juga merupakan pria berpengaruh di universitas tersebut.
Namanya bahkan beberapa kali tersemat di website lokal khusus pendidikan. Jadi, dia tidak sepenuhnya menanjak karena nama sang ayah saja.
"Selamat datang di Yayasan Pendidikan Golden Hour, Tuan dan Nyonya Kenric!" Kesepakatan selesai. Mr. Donald Cedric berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangan pada sepasang suami istri itu.
Owen dan Caitlyn ikut berdiri dan menyambut uluran tangan sang kepala yayasan. Tak lupa, pria berusia enam puluh tahunan tersebut juga menyapa Chloe dan Wayne ramah.
"Semoga kalian senang bersekolah di tempat ini," ucap Mr. Donald.
"Terima kasih." Chloe dengan sopan santun membalas perkataan Mr. Donald.
Mr. Donald terkesiap, lalu tertawa kecil. "Anak yang luar biasa," pujinya tulus
__ADS_1
Tanpa berlama-lama lagi, keempatnya segera pamit pergi meninggalkan ruangan. Namun, Mr. Donald menawarkan mereka untuk mengelilingi sekolah terlebih dahulu, sebelum benar-benar pergi meninggalkan lokasi.
Mereka setuju. Ditemani Silvia, sang asisten kepala yayasan, keempatnya mengelilingi tempat-tempat yang kelak akan menjadi wilayah belajar kedua putra-putrinya.
Jarak antara gedung taman kanak-kanak dan sekolah dasar yang akan ditempati kedua anak mereka hanya bersebelahan. Bahkan, ada sebuah jembatan di lantai tiga yang menghubungkan kedua gedung tersebut. Sementara untuk gedung jenjang sekolah menengah pertama dan menengah atas, masuk lebih jauh ke dalam.
Setelah puas berkeliling sambil menghafal tempat-tempat tertentu, —terutama kelas yang akan ditempati Chloe dan Wayne—, mereka pun pamit pergi.
"Aku sudah menyiapkan supir pribadi yang akan mengantar jemput mereka nanti," ujar Owen. Keempatnya kini berada di jalan menuju ke rumah.
Saat di ruang kepala yayasan, Owen memang menolak jasa bus jemputan sekolah. Namun, Caitlyn pikir, dia akan memintanya untuk mengantar jemput mereka.
"Bolehkah, sesekali aku ikut mengantar jemput mereka," pinta Caitlyn dengan tatapan ragu. Wanita itu takut, Owen akan bersikap sama seperti ibu kandungnya dulu, yaitu melarang dirinya untuk ikut terjun mengurus anak-anak di sekolah.
"Tentu saja. Kau ibunya, kau bebas melakukan apa pun. Aku hanya ingin, kau tidak terlalu terbebani dengan tugas antar jemput setiap hari." Owen menoleh ke arah Caitlyn, lalu tersenyum simpul.
Caitlyn senang bukan kepalang. Wanita itu mengucapkan terima kasih pada sang suami dengan raut antusias. Saking antusiasnya, tanpa sengaja dia menggenggam tangan Owen yang sedang berada di perseneling.
Mendapati raut tak enak sang istri, Owen pun tersenyum simpul. "Bukankah hal yang wajar bagi suami istri melakukan hal ini?" Tanpa disangka, Owen malah menggenggam tangan kiri Caitlyn dan membawanya ke pangkuan.
Semburat merah hadir menghiasi pipi Caitlyn. Setidaknya dengan begini, hubungan mereka tak lagi kaku seperti sebelumnya.
Akan tetapi, sepertinya hal itu tak berlangsung lama, karena lagi-lagi Caitlyn tanpa sengaja melakukan kesalahan lain.
...**********...
Owen tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, tatkala mendapat serangan dadakan dari Caitlyn.
Wajah pria itu memerah. Di kakinya tampak sebuah bantal tidur teronggok tanpa daya.
"Anu, Owen, ma—maafkan aku," ujar Caitlyn tergagap. Wanita itu ingin maju menghampiri Owen, tetapi kondisinya yang cukup berbahaya, membuat Caitlyn harus mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Caitlyn kini hanya mengenakan sehelai handuk saja. Selain lupa membawa pakaian ganti ke kamar mandi, dia juga lupa mengunci pintu kamar. Itu lah mengapa Owen bisa masuk ke dalam, saat dirinya hendak berganti pakaian.
Owen sebenarnya tidak terlalu tersinggung dengan serangan brutal yang diberikan Caitlyn. Namun, mendengar nama Sean kembali disebut, dadanya menjadi sedikit panas.
"Sean, kau tak boleh melihatku begini!"
Caitlyn mengerutkan keningnya dalam-dalam, tatkala mendapati Owen diam saja tidak bergerak seinci pun. "O—owen?" panggil wanita itu kebingungan.
Tak lama, seulas senyum simpul terpatri di wajah Owen. "Kau sangat mencintainya, ya?" kata pria itu tiba-tiba. Fakta bahwa sudah hampir dua minggu mereka menikah, membuat hati Owen semakin teriris.
Caitlyn sontak mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Mencintai apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu," ujar Caitlyn.
Alih-alih menjawab, Owen justru berbalik menuju pintu kamarnya lagi.
Detik itu lah, Caitlyn sadar, bahwa tadi dia sempat menyebut nama Sean secara tidak sengaja.
Caitlyn refleks berlari menghampiri Owen. Tanpa merasa takut, wanita itu memeluk tubuh sang suami dari belakang.
Owen tersentak kaget. Namun, dia berusaha tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Maafkan aku," ucap Caitlyn lirih. Perasaan bersalah benar-benar menyelimuti dirinya saat ini.
Selama hampir dua minggu menikah, Owen tak pernah menuntut apa pun darinya, terutama hak sebagai suami. Owen cukup tahu diri akan posisinya yang hanya sebagai pengganti Sean.
Caitlyn yang seharusnya berusaha membuka diri, justru semakin melukai hati Owen, dengan kembali menganggapnya sebagai orang lain.
"Tidak masalah. Aku mengerti dan aku masih bisa menunggu." Perlahan, Owen melepaskan tautan tangan Caitlyn pada pinggangnya. Pria itu sungguh tidak tahan dengan situasi menyebalkan ini.
Akan tetapi, baru saja Owen hendak melangkah pergi, Caitlyn sudah memegangi belakang kaosnya.
"Ajari aku," pinta Caitlyn dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Owen mengernyitkan dahinya, tampak tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Caitlyn.