Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
26. Ancaman Ariana.


__ADS_3

Ariana bersandar lemas di dinding dapur. Wanita itu benar-benar syok mendengar semua cerita yang keluar dari mulut pria di hadapannya ini. Pria yang baru saja diketahui sebagai Owen, putra bungsunya yang hilang.


Akan tetapi, apa yang mereka yakini selama ini ternyata salah. Alih-alih Sean yang telah menikah dan hidup bersama Caitlyn, ternyata merupakan Owen, yang menyamar menjadi sang kakak. Sementara Sean yang asli hidup di belahan bumi lain sebagai orang baru.


"Ketika akhirnya ingatan itu kembali, aku memilih mengikuti permainan anak bungsu Mama tersebut. Aku merubah namaku menjadi Owen dan berperilaku seperti dirinya."


Ariana tak mampu berkata-kata. Dulu, sesaat setelah Owen menghilang, Ariana sebenarnya memiliki sedikit kecurigaan, sebab Sean terkadang suka berperilaku seperti adik kembarnya. Namun, wanita itu tidak pernah memikirkan hal yang aneh sekali pun. Mustahil rasanya memikirkan diri Sean yang sebenarnya adalah Owen.


"Lalu, mengapa kau tidak kembali pada Mama, Sean?" tanya Ariana.


"Karena aku ingin bersama Caitlyn. Aku hanya ingin kembali padanya, meski harus hidup sebagai Owen!" jawab Sean tegas.


Ariana menangis sesenggukkan. "Mengapa, mengapa hanya karena satu orang wanita rendahan, kalian saling menghancurkan seperti ini?"


"Jangan hina Caitlyn, dan jangan tanya aku! Tanyakan pada putra Mama yang telah tiada! Selama ini dia sudah merenggut semua milikku. Dia bahkan dengan lancang menikahi wanita yang kucintai, sedangkan aku harus menghadapi jerat keputusaan!"


Saat Ariana hendak bersuara kembali, Chloe dan Wayne tiba-tiba datang bersama James. Kedua anak tersebut langsung berlari memeluk Sean.


"Papa belum selesai masak?" tanya Chloe polos.


Sean menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kita pesan antar makanan saja ya?"


Chloe dan Wayne mengangguk. "Baiklah!" jawab keduanya serempak. Sean pun menurunkan Chloe dan Wayne dari gendongannya, lalu menyuruh mereka untuk pergi bermain di luar.


"Apa Caitlyn sama sekali tidak tahu soal hal ini, Sean?" tanya Ariana lagi.


Sean tersenyum tipis. "Dia tak pernah tahu apa pun, dan kuharap, Mama tidak memberinya kejutan!" Kendati nada bicaranya terdengar biasa, tetapi Ariana bisa dengan jelas mendapati sirat ancaman di sana.


"Kini, biarkan aku hidup bersama Caitlyn dan anak-anak. Sebenci apa pun aku pada Owen, aku tetap mencintai anak-anaknya." Setelah berkata demikian, Sean pergi meninggalkan sang ibu.


Ariana yang masih syok, sontak menjatuhkan dirinya di lantai.

__ADS_1


"Nyonya!" seru James. Pria itu dengan sigap memegangi kedua lengan Ariana.


"Bagaimana ini James? Apa yang sebenarnya terjadi pada kedua putraku!" jerit Ariana.


...**********...


"Tuan tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam ruangan ini, Nyonya."


Itu lah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Merry, wanita paruh baya yang memang telah lama mengabdi pada Keluarga Kendric.


Caitlyn menghela napasnya. Pintu tersembunyi yang tanpa sengaja ditemukannya saat sedang membersihkan ruang kerja Owen tersebut, membuat rasa penasaran Caitlyn menggebu-gebu.


Apa yang menyebabkan Owen begitu merahasiakan ruangan tersebut? Pria itu juga tak pernah sekali pun menyinggung soal ruangan itu padanya.


Mau bagaimana lagi, keduanya memang baru saja menyicipi kehidupan rumah tangga yang sebenarnya akhir-akhir ini. Namun, rasanya tetap aneh, mengingat Owen adalah pria yang cukup terbuka demi menarik perhatiannya.


"Mungkin, dia akan mengatakannya padaku sepulang nanti," gumam Caitlyn sembari berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Ya, Nyonya!" Anna buru-buru meletakkan kanebonya.


"Antarkan aku berbelanja bahan makanan ya?" kata wanita itu sumringah.


"Baik, Nyonya. Saya ganti pakaian dulu." Secepat kilat, Anna membawa peralatan kebersihannya dan pergi melesat ke kamar belakang.


Caitlyn mengangguk. Wajahnya saat ini terlihat lebih cerah dari biasanya. Wajar saja, sebab tiga hari lagi Owen, Chloe, dan Wayne akan kembali pulang ke rumah. Owen sendiri sudah menghubunginya dari semalam untuk memberitahu. Anak-anak pun berseru antusias. Mereka bahkan menanyakan oleh-oleh yang diinginkan Caitlyn.


Caitlyn tentu saja tidak menginginkan apa-apa selain kepulangan mereka bertiga.


Kini wanita itu dapat berlega hati, sebab rasa takuf akan kehilangan keluarga kecilnya ternyata sama sekali tidak terbukti.


...**********...

__ADS_1


"Tidak, Sean! Kau tidak boleh pulang!" sentak Ariana keras. Wanita itu berdiri dan menatap Sean marah.


"Ma, aku harus kembali pada Caitlyn. Bukankah aku sudah mengatakan pada Mama, untuk membiarkanku hidup bahagia bersama Caitlyn?" Sean membalas tatapan sang ibu dingin. Pria itu berusaha menahan emosinya yang mulai terkumpul.


"Sean, dengar! Wanita itu lah penyebab kehancuran hubunganmu dan Owen, tapi kau masih saja mencintainya? Yang benar saja, Sean! Kau ini bodoh apa bagaimana!" Ariana berteriak keras. Melihat bagaimana Sean sedang berusaha melawannya saat ini, membuat Arian benar-benar terkejut.


Bila saja wanita itu tidak memergokinya di dapur tempo hari, mungkin Ariana masih memercayai, bahwa pria yang ada bersamanya sekarang adalah Owen, putra bungsunya.


Pasalnya, sikap Sean saat ini benar-benar seperti Owen. Pria itu berhasil merubah dirinya menjadi sang adik kembar yang pandai membangkang, dan membalas perkataannya.


"Caitlyn tidak ada hubungannya dengan semua ini, Ma. Dia bahkan tidak tahu apa pun soal perasaan Owen! Owen lah yang menyebabkan semua tragedi ini! Andai saja manusia itu masih hidup, tentu aku akan membunnuhnya dengan tanganku sendiri!"


Ariana murka. "Sean, berhenti menyalahkan adikmu! Hormati jasadnya yang sudah terkubur!" teriaknya marah.


Sean mendengkus. "Lalu, bagaimana denganku? Jasadku memang tidak terkubur, tapi hatiku sudah mati, terkubur oleh rasa sakit yang telah Owen buat!" balasnya sengit.


Ariana terdiam. Netra biru wanita itu sudah basah oleh linangan air mata.


"Mama tidak mau tahu, Sean. Kalau kau berani melangkahkan kaki dari rumah ini, Mama terpaksa akan membongkar rahasiamu pada Papa dan Caitlyn. Papamu mungkin akan mengerti, tetapi bagaimana dengan wanita itu?" Seulas senyum sinis terpatri di wajah Ariana kemudian.


Mendengar ancaman tersebut, Sean naik pitam. "Caitlyn sudah banyak menanggung beban penderitaan dari Mama, dan aku tidak akan membiarkan Mama melakukannya lagi!" Setelah mengatakan demikian, Sean pun beranjak pergi meninggalkan Ariana.


"Mama tidak peduli, Sean! Ancaman Mama tidak main-main. Akan Mama beritahu pada semua orang, bahwa kau adalah Owen palsu!"


Sean yang baru saja melangkah pergi sontak terkejut. Langkah kaki pria itu tiba-tiba terhenti, tatkala mendapati sosok sang ayah yang berada di atas kursi roda, muncul dengan raut wajah terkejut.


Jacob bukan orang tuli. Dia jelas mendengar semua keributan yang timbul dari ruang teh di lantai dua.


"Pa," panggil Sean, nadanya terdengar lirih dan takut.


Jacob memandang Sean dengan mata nanar. "Kau ... siapa? Benarkah, kau Sean, putra sulungku?"

__ADS_1


__ADS_2