
Caitlyn menghela napasnya keras-keras, saat mobil yang dikendarai Luna telah menghilang dari pandangan. Wanita itu kini dapat bernapas lega dan bersikap seperti biasa lagi.
"Aku benar-benar takjub kau bisa berlaku sedemikian rupa. Dia bahkan sampai memutuskan pulang lebih cepat dan menolak tawaran makan malam kita." Owen memberikan tepuk tangan kecil.
Caitlyn meringis. "Aku pasti terlihat angkuh sekali ya?" tanyanya dengan raut tak enak.
"Tidak. Kau anggun, Sayang." Owen tersenyum. Dia menekan kalimat terakhirnya dengan sangat jelas dan gamblang.
Mendengar itu, wajah Caitlyn berubah merah.
Owen tersenyum manis. Dia merangkul pinggang Caitlyn dan mencium keningnya mesra. "Kau sangat cantik, istriku," bisik pria itu. Gaun malam yang dikenakan Caitlyn benar-benar pas membentuk tubuhnya.
Owen tak ingat kapan terakhir kali sang istri memakai pakaian seperti itu dulu.
"Terima kasih, suamiku," balas Caitlyn.
...**********...
"Berjanjilah untuk tidak bertengkar, Sayang," pinta Caitlyn pada Chloe. Hari ini, Caitlyn dan Owen akan pergi berbulan madu ke Belanda.
Beruntung, mereka memiliki dua putra-putri yang pengertian, meski masih berusia kanak-kanak.
Chloe dan Wayne sama sekali tidak merajuk. Mereka hanya meminta ayah ibunya membawa banyak oleh-oleh saja, permintaan khas anak kecil.
Chloe mengangguk. "Aku berjanji, kami akan saling menjaga, Bu," jawab gadis cantik itu.
Caitlyn mengusap kepala sang putri dan memeluknya erat. Kemudian, dia beralih pada sang putra yang baru saja turun dari gendongan ayahnya.
"Jaga nakal ya, Sayang," pesan sang ibu.
Wayne mengangguk semangat. "Kata Papa, seorang pria harus bisa menjaga gadis mereka, dan aku akan menjaga Chloe, Bu."
Caitlyn sontak tertawa kecil mendengar penuturan Wayne. Wanita itu mengangguk dan memeluk pria kecilnya seerat mungkin, lalu berkata, "Ibu percayakan padamu."
Tidak lupa mereka berdua juga menitip pesan pada seluruh pekerja di rumah, untuk menjaga Chloe dan Wayne, sekaligus tidak membiarkan siapa pun masuk ke dalam rumah tanpa izin.
Khusus untuk Anna dan Marrie yang bertugas menjaga dua anak itu, mereka harus melaporkan setiap kegiatan pada Caitlyn secara rutin.
__ADS_1
Selesai berpamitan, Caitlyn dan Owen pun pergi meninggalkan rumah menggunakan taksi.
Ada raut kesedihan yang terpancar di wajah cantik Caitlyn. Matanya tak lepas memandangi luar jendela, meski Chloe dan Wayne sudah tak lagi terlihat.
"Kau baik-baik saja? Apakah keputusanku untuk membawamu pergi hari ini salah?" tanya Owen cemas.
Caitlyn refleks menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya pada sang suami sambil tersenyum. "Tidak, tidak! Maaf, aku bukan bermaksud demikian. Hanya saja selama ini aku tidak pernah meninggalkan mereka dalam waktu yang lama."
Owen merangkul tubuh Caitlyn dan mencium keningnya lembut. "Setelah ini kita akan berjalan-jalan bersama anak-anak juga."
Caitlyn mengangguk. Dia membalas rangkulan sang suami dengan sebuah pelukan hangat. Demi mempererat tali pernikahan, mereka memang membutuhkan waktu berdua, dan Caitlyn sudah bertekad untuk melakukannya.
Perjalanan yang harus mereka tempuh dari London ke Amsterdam, Belanda, hanya dibutuhkan waktu satu jam lima belas menit saja.
Sesampainya di sana, mereka langsung mendatangi hotel yang sudah dipesan Owen sebelumnya.
"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Owen, begitu mereka sampai di kamar hotel.
"Aku suka sekali!" seru Caitlyn tanpa melepaskan pandangannya pada kamar hotel yang mereka tempati. Dekorasi hotel yang unik membuat wanita itu merasa seperti kembali ke masa lalu.
"Jadi, mau ke mana kita? Istirahat dan makan siang dulu, atau langsung pergi? Ada banyak tempat bagus yang bisa kita kunjungi," kata Owen.
"Aku ingin pergi ke luar," pinta Caitlyn.
Owen pun setuju. "Kebetulan ada restoran yang enak di sini. Kita bisa menempuhnya dengan berjalan kaki."
Setelah selesai membereskan koper, pasangan suami istri itu pun pergi untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum kemudian mengunjungi beberapa tempat yang ada di sana.
...**********...
New York City.
Seorang wanita berusia enam puluh tahunan terlihat keluar dari kamar bersama seorang pria berjas putih.
Helaan napas keluar dari mulut si pria, begitu mereka tiba di luar. "Keadaan Tuan Jacob semakin memburuk. Sel kankernya sudah menyebar ke seluruh organ-organ penting. Untuk dilakukan kemoterapi pun saya rasa sudah terlambat."
Mendengar hal tersebut, wanita bernama Ariana itu menangis. Dia menyesalkan keputusan sang suami yang enggan menjalani pengobatan sejak awal didiagnosa kanker darah. Hidup pria itu memang seolah sudah berhenti total setelah putra kembarnya yang tersisa meninggal.
__ADS_1
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Dokter Andreas?" tanya Ariana dengan suara parau.
Sang dokter dengan jujur menggelengkan kepalanya. "Kalau pun ada satu hal yang harus kita lakukan adalah mengabulkan satu keinginan terakhir Tuan Jacob secepatnya." Hanya itu yang bisa disarankan dokter tersebut.
Ariana bungkam. Raut wajahnya yang semula sedih tiba-tiba berubah dingin.
Bagaimana tidak, satu-satunya hal yang diinginkan sang suami adalah bertemu dengan kedua cucunya. Itu berarti, mereka harus mencari keberadaan Caitlyn yang telah diusir dari rumah, sesaat setelah jasad putra sulung di keluarga itu terkubur.
Sejak dulu Ariana memang sangat membenci Caitlyn. Dia tidak pernah benar-benar merestui pernikahan Sean dan wanita itu, hanya karena hidup Caitlyn berada di bawah mereka.
Andai saja Caitlyn tidak membawa kedua cucunya, dia jadi tak perlu repot-repot memikirkan ini semua.
"James!" Ariana berteriak memanggil salah seorang suruhan Jacob yang paling dipercaya.
James segera menghadap.
"Cari keberadaan wanita itu. Ambil kedua cucuku darinya, tak peduli dia memberontak dan membuat perlawanan. Aku menginginkan kedua cucuku tiba di sini secepatnya!" perintah Ariana.
James mengangguk hormat. Pria itu pergi meninggalkan mereka.
...**********...
Caitlyn dan Owen baru saja kembali ke hotel setelah jam makan malam. Di hari pertama ini mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling kota menggunakan canal cruise.
Caitlyn benar-benar takjub dengan pemandangan di sekitar kanal yang sangat menarik. Terutama pada bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur yang sangat indah.
"Besok aku akan mengajakmu ke tempat indah lainnya," ujar Owen membuka suara.
"Tak ada yang tak indah di sini, dan aku jatuh cinta dengan kota ini," kata Caitlyn, seraya memamerkan gigi putihnya.
"Lalu, bagaimana denganku, pria yang telah mengajakmu ke sini?" tanya Owen.
Caitlyn yang hendak masuk ke kamar mandi sontak menghentikan langkahnya. Wanita itu tersenyum kecil, lalu memilih meninggalkan Owen tanpa jawaban.
Owen menghela napas pasrah. Pria itu sepertinya masih harus berusaha meyakinkan hati Caitlyn untuk bisa membalas perasaan tulusnya.
"Aku sangat mencintaimu, Cait," gumam Owen.
__ADS_1