Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
14. Pertemuan Luna dan Caitlyn.


__ADS_3

"Please! Aku hanya ingin berterima kasih, terutama pada istri Anda yang telah memberikan izin untuk dapat membimbing saya."


Owen nyaris mengacak rambutnya frustrasi. Wajah pria itu kini bahkan terlihat kusut. Pasalnya, ini adalah kali keempat Luna memohon padanya untuk diundang ke rumah.


Seperti yang dikatakan gadis itu, dia ingin menemui Caitlyn untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


Owen tentu saja menolak. Rumah adalah area paling privasi pria itu. Sebisa mungkin, Owen tidak akan membawa apa pun yang menyangkut urusan kampus ke dalam sana, termasuk orang-orangnya.


Akan tetapi, Luna terus mendesak pria itu untuk mau mengabulkan satu permintaan tersebut, dengan dalih demikian.


Owen benar-benar tidak mengerti akan perubahan sikap Luna. Gadis yang selama ini dikenalnya sebagai gadis penyabar, kini berubah menyebalkan.


...**********...


Luna melambaikan tangannya pada mobil Owen yang baru saja pergi berlalu meninggalkan restoran terlebih dulu.


Senyum yang semula merekah dari bibir tipis gadis itu, kini berubah seketika. Wajahnya tak lagi menampakkan keramahan seperti tadi. Dalam hati, Luna terus mengutuk sosok Caitlyn yang menjadi istri Owen sekarang.


Gadis yang telah menaruh perasaan pada pria itu sejak setahun lalu, kembali mengingat soal berita pernikahan Owen yang tiba-tiba menyebar seantero kampus. Hal tersebut membuat Luna menghabiskan waktu di toilet hanya untuk menangis, meratapi perasaan cintanya yang kandas.


"Apa bagusnya dari menikahi seorang janda beranak dua!" seru Luna ketus.


Owen bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Selain dirinya, ada banyak sekali gadis yang mengincar dosen tampan yang menjadi idola tersebut. Namun, Owen tidak pernah benar-benar menanggapi mereka, selain hanya profesionalisme kerja. Padahal, bisa saja dia memanfaatkan ketenaran dan ketampanannya untuk menjerat gadis-gadis nakal di kampus, guna dijadikan teman satu malam pria itu.


Sayangnya, Owen bukan tipe pria demikian. Itulah mengapa Luna memiliki ketertarikan padanya. Namun, bukan berarti dia akan menghalalkan segala cara demi mendapatkan keinginannya. Luna tidak suka merebut barang milik orang lain.


Setidaknya sampai dia benar-benar melihat, apa benar sosok Caitlyn merupakan wanita yang pantas mendampingi Owen. Jika ya, dia akan pergi melepaskan pria itu, tetapi jika tidak ... ini adalah kali pertama dia akan merebut milik orang lain.


...**********...


Caitlyn mengangkat alisnya tinggi-tinggi, begitu mendengar perkataan Owen, soal kedatangan Luna esok hari ke rumah, untuk berterima kasih pada Caitlyn.


"Tidak perlu repot-repot, aku bahkan tidak mengenalnya!" tolak wanita itu.


Owen meringis. Dia sebenarnya sudah dapat menebak, bahwa Caitlyn pasti akan menolak kehadiran Luna. Namun, mau bagaimana lagi, gadis itu pasti akan terus memaksanya bila tidak dikabulkan.


"Setelah ini, aku akan mengambil cuti," ujar Owen kemudian.

__ADS_1


"Cuti? Untuk apa?" tanya Caitlyn. Pasalnya, pria itu baru saja cuti menikah beberapa minggu lalu, jadi untuk apa dia mengajukan cuti lagi. "Aku tahu, kau memang pemiliknya. Namun, alangkah lebih baik bila kau tidak memanfaatkan hal tersebut untuk mengambil liburan sesukamu, Owen," sambung wanita itu.


"Tidak, Cait. Aku memang masih memiliki cuti yang tersisa, karena selama ini aku tak pernah menggunakannya," kata Owen memberi jawaban.


Caitlyn mengerutkan keningnya. "Lalu, untuk apa cuti itu kau ambil?"


Owen tersenyum simpul. Dia mengeluarkan dua buah tiket pesawat dan hotel di Belanda.


"Apa ini? Kau ingin liburan? Mengapa hanya dua tiket?" Rentetan pertanyaan seketika terlontar dari mulut Caitlyn.


"Setelah menikah, kita kita belum pernah benar-benar menghabiskan waktu bersama. Jadi, aku ingin mengajakmu menikmati bulan madu kita yang sempat tertunda. Untuk anak-anak, kita bisa memercayakan mereka pada Anna dan yang lainnya."


Mendengar kata 'bulan madu', membuat pipi Caitlyn sedikit salah tingkah. "Kau yakin?" tanya wanita itu.


Owen menganggukkan kepalanya. Sejak gangguan-gangguan tersebut datang, Owen bertekad untuk membawa pergi Caitlyn secepatnya. Dia sadar, bahwa bulan madu yang semula dianggapnya tidak penting, ternyata memiliki peran mumpuni untuk mempererat tali kasih di antara mereka berdua.


"Kau mau, kan?" tanya Owen sekali lagi.


Caitlyn mengalihkan pandangannya pada Owen, seraya mengangkat kedua bahu tinggi-tinggi. "Aku tidak bisa menolak, kan?" ujar wanita itu. Senyum simpul merekah di wajah cantiknya.


Langkah Owen benar. Mungkin saja dengan begini, perasaannya bisa tumbuh.


...**********...


"Nyonya, tamunya sudah datang." Anna menghampiri Caitlyn yang sedang berada di kamar Chloe untuk menemaninya tidur.


Sementara Owen baru saja keluar dari kamar Wayne.


"Tolong, gantikan aku," pinta Caitlyn pada sang asisten rumah tangga.


Anna pun mengangguk. Dia masuk ke dalam kamar Chloe yang masih belum tertidur.


"Aku akan berganti pakaian dulu, kau duluan saja menemuinya," titah sang istri pada Owen.


Owen menolak, tetapi Caitlyn memaksa. Meski Luna adalah gadis yang tidak dia sukai, tetapi sebagai pemilik rumah, mereka wajib menyambut tamu dengan baik. Dia tak mungkin membiarkan Luna menunggu lama.


Alhasil, Owen pun menurut. Dia berjalan menuruni tangga untuk menemui Luna, sementara Caitlyn masuk ke dalam kamar mereka untuk berganti pakaian.

__ADS_1


...**********...


Luna tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita cantik yang baru saja menuruni tangga. Pasalnya, istri dari dosen yang disukainya itu tampak sangat glamour dan elegent. Belum lagi wajah cantiknya yang tajam dan sedikit seensual.


Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan foto besar pernikahan mereka yang terpasang apik di dinding.


Tak hanya Luna saja yang terkesiap dengan penampilan Caitlyn, tetapi Owen juga. Pria yang selama ini mengenal Caitlyn sebagai wanita anggun berpenampilan sederhana, sama sekali takjud dengan penampilan baru sang istri.


Owen paham benar, Caitlyn sedang menunjukkan kekuasaannya. Secara tidak langsung, Caitlyn hendak memberikan Luna pemahaman sekaligus penegasan soal statusnya sebagai istri sah.


"Inikah Luna? Hai, aku Caitlyn." Mencoba bersikap ramah, Caitlyn mengulurkan tangannya lebih dulu ke arah gadis itu.


Luna dengan canggung menerima uluran tangan Caitlyn. "Salam kenal, Mrs. Kenric," sapanya sopan.


Caitlyn menggelengkan kepala. "Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku, Caitlyn," titah wanita itu.


"Oke, Mrs. Caitlyn," ujar Luna.


Caitlyn tertawa kecil. Dia pun mempersilakan Luna untuk duduk di sofa kembali.


"Aku dengar, kau adalah salah satu mahasiswi terbaik di kampus, sekaligus kesayangan para dosen?" Tanpa basa-basi, Caitlyn langsung mengajukan pertanyaan pertamanya.


"Tidak juga. Saya hanya mahasiswi biasa." Luna yang semula hendak menyombongkan segala hal soal pendidikan dan pencapaiannya, kini mendadak hilang tak berbekas.


"Ahh, kau terlalu merendah, Luna. Aku sudah mendengar beberapa ceritanya dari suamiku."


Entah mengapa, hati Luna sedikit tersentil, mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Caitlyn secara spesifik.


Luna tertawa canggung. "Ahh, kalau begitu, Anda pasti tahu tujuanku kemari." Luna mengulurkan kotak kue yang sedari tadi dia bawa ke hadapan Caitlyn.


"Hanya kue biasa, sebagai ucapan terima kasih, karena Anda telah sudi mengizinkan Mr. Owen untuk memberikan bimbingan," ujar gadis itu.


"Tidak perlu repot-repot, Luna. Bukankah itu sudah menjadi tugas seorang dosen? Benar, kan, Sayang?"


Owen tersentak, tatkala Caitlyn tiba-tiba memanggil dirinya demikian, padahal selama ini wanita itu selalu memanggil namanya.


"Ya, itu benar, Sayang." Berusaha bersikap biasa, Owen pun menimpali perkataan Caitlyn.

__ADS_1


Melihat interaksi keduanya, mendung langsung menghiasi raut wajah Luna. Belum lagi dari caranya bersikap, Caitlyn seperti bukan wanita sembarangan. Meski sorot matanya tajam, tetapi wanita itu terlihat sangat hangat dan bersahabat.


Diam-diam Luna mengembuskan napasnya. Dia baru saja mengakui kekalahannya.


__ADS_2