
Sambil menatap Owen marah, Sean pun berkata, "apa maksudmu? Kau dan Caitlyn sudah saling mengenal?"
Owen menggeleng. "Aku menahan diri untuk tidak mendekatinya sampai sidang selesai. Namun, ternyata keputusanku merupakan kesalahan besar. Kau, saudara kembarku sendiri lah yang telah menghancurkannya!"
Sean mendecih. Dia berjalan mendekati Owen sembari menatapnya sinis. "Kau pasti berbohong! Jangan-jangan kau menyukainya, tepat setelah aku mengenalkan Caitlyn padamu? Kau berkata demikian hanya ingin membuatku merasa bersalah, kan?"
Owen tersenyum sinis. "Jadi, kau merasa bersalah padaku? Kalau begitu, bisa kuambil kembali gadis itu? Tenang saja, aku bahkan bisa lebih baik melawan Mama dari pada kau!"
"Breengsekk!" Sean menarik kerah pakaian Owen tinggi-tinggi. Owen yang tak mau kalah lantas mencengkeram tangan sang kakak kembar sekuat tenaga. Mereka nyaris adu jotos, jika saja sang ayah tidak masuk ke kamar dan memergoki keduanya.
"Sean! Owen! Ada apa ini?" tanya Jacob.
Baik Sean, mau pun Owen tidak menjawab. Mereka hanya saling menatap dengan pandangan sinis, tanpa menghiraukan keberadaan sang ayah.
Jacob akhirnya maju dan melerai mereka berdua dengan kasar. Dia bahkan memaki kedua putra kembarnya tersebut, karena saling bertingkah sok jagoan.
Jacob yang tidak mengerti soal pertengkaran keduanya pun kembali bertanya. Detik lalu dia mendengar dari James, bagaimana Owen membela Sean di hadapan istrinya. Namun, apa yang terjadi sekarang?
Sean dan Owen lagi-lagi tidak menjawab. Alih-alih menanggapi pertanyaan ayahnya, Sean malah pergi meninggalkan kamar sang adik.
...**********...
Sejak saat itu hubungan keduanya merenggang. Selama berminggu-minggu Sean dan Owen tidak lagi saling berinteraksi, kecuali di hadapan Jacob dan Ariana.
Akan tetapi, meski kini Sean memiliki dua musuh di rumahnya, dia tetap tidak goyah menjalin hubungan dengan Caitlyn. Pria itu bahkan berniat menikahi Caitlyn apa pun yang terjadi.
"Apa kau bilang? Menikah! Jangan bermimpi Sean!" teriak Ariana setelah mendengar pernyataan putra sulungnya tersebut.
Sean mengangguk mantap. Tak seperti sebelumnya, dia kini terlihat lebih berani.
Owen dan Jacob yang menyaksikan hal tersebut juga tak kala terkejut. Jacob sendiri melarang Sean menikah agar bisa fokus membantunya di kantor.
"Aku bisa menjalani keduanya sekaligus, Pa!" seru Sean dengan wajah penuh keyakinan. Matanya sesekali melirik ke arah Owen yang tengah menahan diri.
Selain tak ingin berpisah dengan Caitlyn, keputusan Sean menikah juga untuk memperingati Owen secara tidak langsung, agar tidak mendekati gadisnya.
"Tidak, Sean. Sekali tidak tetap tidak!" tegas Ariana, sembari berlalu dari hadapan sang putra.
__ADS_1
Sean hendak mengejar, tapi Owen tiba-tiba menahan lengannya. Sementara Jacob langsung berlari menghampiri sang istri.
"Lepaskan aku, siiaalan!" sentak Sean.
"Berhentilah bersikap bodoh! Kau hanya mengecewakan Mama dan Papa!" seru Owen.
Sean melepaskan tangan adik kembarnya kasar. "Cih, kau tidak akan berkata demikian, bila kau lah yang menjadi kekasih Caitlyn, bukan? Dasar bedebbah munafik!" maki pria itu.
Owen yang tidak terima lantas meninggalkan bogem mentah ke arah pipi Sean.
Sean yang terkejut membalas perlakuan Owen sama kuatnya. Mereka nyaris babak belur, bila James dan beberapa orang asisten rumah tangga tidak memisahkan.
Sambil menyeringai, Sean mengejek adik kembarnya yang tidak bisa memiliki Caitlyn. Dia juga menghina pria itu karena terlalu mementingkan hal lain, sampai-sampai tidak menyadari, bahwa gadis yang sudah setahun disukainya tiba-tiba jatuh ke pelukan orang lain.
Dada Owen seketika panas. Dia sadar, bahwa Sean tengah memprovokasi dirinya ... dan itu berhasil.
"Aku lah yang akan menikahi Caitlyn!" gumamnya sinis.
...**********...
Semula, baik Sean mau pun Owen menolak keras. Namun, akhirnya mereka menurut setelah Jacob bersikeras.
Alhasil, ketiganya ditemani James, kini berangkat menuju salah satu tempat perkemahan yang cukup terkenal dengan beberapa jurang dan aluran sungai yang cukup berbahaya. Namun, karena dulu mereka sering pergi ke tempat tersebut, jadi Jacob memutuskan untuk kembali ke sana saja. Lagi pula tenda yang mereka dirikan cukup jauh dari area berbahaya.
Untuk mencapai tempat perkemahan, mereka harus memasuki hutan terlebih dahulu, dan berjalan kira-kira tiga sampai empat jam.
Sebenarnya, perkemahan ini cukup ramai dikunjungi wisatawan, tetapi karena sekarang bukan musim liburan, jadi hanya segelintir orang saja yang datang ke tempat tersebut.
Dari tempat parkir, Sean termangu menatap hutan tersebut, sembari menggendong tasnya. Ada perasaan sedikit cemas, tatkala mendapati seruan-seruan hewan yang terdengar di dalam hutan.
Sean menggelengkan kepala demi menghilangkan kecemasannya. Mungkin saja perasaan tersebut muncul, karena sudah lama tidak kembali ke tempat itu.
"Ayo!" seru Jacob semangat. Keempat pria berbeda usia itu akhirnyq masuk ke dalam hutan, dengan Jacob sebagai pemimpinnya.
Tak ada siapa pun yang mengobrol. Mereka lebih banyak diam, lalu sesekali menanggapi perkataan Jacob. Namun, saat mereka baru menempuh perjalanan satu jam, tiba-tiba ponsel Jacob berbunyi.
Jacob sontak berhenti diikuti Sean, Owen, dan James.
__ADS_1
Pria itu sepertinya mendapat telepon penting, terkihat dari raut wajahnya yang berubah cemas dan marah. Jacib bahkan tak segan melontarkan kata-kata kasar sebelum akhirnya menutup telepon.
"Sepertinya kita harus membatalkan perkemahan ini," ucap Jacob.
"Memang ada apa, Pa?" tanya Owen penasaran.
"Banyak demonstran yang datang ke kantor tiba-tiba. Papa tidak bisa mengabaikan mereka!" jawab Jacob.
Sejak minggu lalu perusahaan keluarga Edmund memang sedang dilanda masalah, karena isu-isu miring yang keluar dari pihak seberang. Sebagai pemimpin, Jacob tak bisa terus-terusan berdiri di belakang meja.
"Ayo, kita kembali! James, kita ke kantor dulu, baru setelah itu biarkan mereka pulang!" titah Jacob tegas.
"Tidak perlu, Pa!" Owen kembali bersuara. "Biar aku dan Sean saja yang tinggal di sini. Rasanya sayang-sayang uang yang sudah papa keluarkan," sambungnya.
Sean hendak menolak. Namun, sang ayah keburu menyetujui. Tanpa bertanya padanya lebih dulu, pria itu pun pergi meninggalkan mereka.
Jacob yakin, kali ini mereka akan berbaikan. Sejak dulu mereka tak bisa berlama-lama brertengkar.
Akan tetapi, ternyata perkiraan Jacob salah. Di sepanjang perjalanan, keduanya kerap saling memaki dan hampir adu jotos.
Owen yang sebenarnya hendak mengalah, tiba-tiba terpancing saat Sean berusaha memprovokasinya.
"Sadarlah, sejak lahir, takdirmu memang selalu berada di belakangku. Tak ada yang bisa kau gapai sesempurna aku. Pekerjaan, orang tua, bahkan wanita yang kau sukai, semua lebih memilihku!"
Dada Owen bergemuruh. Meski yang dikatakan Sean adalah kebenaran, tetap saja dia merasa tersinggung. Owen memang selalu iri dengan semua pencapaian sempurna sang kakak kembar, dan semua pujian-pujian yang didapatkannya. Pria itu bahkan sesekali berkhayal dan berperilaku sebagai Sean, agar bisa mendapatkan semua itu.
Owen tersentak. Raut wajahnya yang marah tiba-tiba berubah. Seulas senyum misterius terpatri di wajah tampan itu.
Entah setan dari mana, diam-diam, saat Sean tengah memalingkan wajahnya, Owen segera mengambil batu terbesar dan memukul belakang kepala Sean sebanyak tiga kali. Darrah segar sontak mengalir deras.
"K—kau ...!" Sean tak dapat berucap banyak. Pria itu langsung ambruk ke tanah.
Mengetahui kembarannya tak lagi bergerak, Owen membopong Sean ke salah satu tepi jurang dengan aliran sungai yang cukup deras. Di sana, dia menukar seluruh pakaian dan atribut mereka berdua, sebelum akhirnya membuang tubuh kakak kembarnya tersebut ke bawah.
Tidak sulit bagi Owen untuk bersikap mau pun berperilaku sebagai Sean. Meski sang ibu beberapa kali terlihat memandangnya curiga.
Alhasil, dia berhasil menikahi Caitlyn, walau harus berubah menjadi Sean.
__ADS_1