Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
27. Keributan.


__ADS_3

Sean bungkam dan tak bisa berkutik. Kondisi sang ayah membuat pria itu takut untuk bicara.


"Katakan yang sebenarnya? Kau Sean, kan? Papa tidak mendengar semuanya!" seru Jacob dengan suara terengah-engah, menahan sakit di dadanya. Pria itu tidak memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi entah mengapa dadanya terasa sakit.


"Pa, jangan bicara terlalu banyak. Kita kembali ke kamar dulu saja." Hanya itu sebaris kalimat yang bisa diucapkan Sean. Namun, Jacob menolak. Dia meminta Sean untuk tidak membohonginya, hanya karena dia sedang sakit.


"Benar! Semua yang kau dengar adalah kebenaran, Sayang. Pria yang berdiri di hadapanmu itu adalah Sean, dan yang selama ini tinggal dengan kita adalah Owen." Ariana tiba di tempat Sean dan Jacob. Matanya memandang Sean, seolah berkata bahwa dia bisa melakukannya juga pada Caitlyn.


Sean merapatkan gigi-giginya. Sang ibu benar-benar tidak main-main.


Mendengar perkataan istrinya, Jacob terkejut. Tangannya yang ringkih dan gemetaran hebat berusaha memegang wajah Sean.


"Bagaimana ceritanya? Bagaimana kau bisa selamat? Apa hubungannya dengan Owen?" RentetN pertanyaan muncul dari bibir pria tua itu.


Sean tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa, Pa. Owen dulu ha—"


"Ini semua gara-gara Caitlyn, Sayang! Caitlyn lah yang menjadi penyebab utama semua ini. Kalau saja dia tidak hadir, mungkin keluarga kita tidak akan dilanda kehancuran seperti ini!" Belum selesai Sean berbicara, Ariana tiba-tiba memotongnya. Wanita itu sengaja mengatakan hal sebenarnya, agar Jacob turut membenci Caitlyn.


Jacob mengerutkan keningnya. Dia mengalihkan pandangannya pada sang istri guna meminta penjelasan lebih.


Ariana pun tanpa hati menceritakan semuanya pada sang suami tanpa pilah pilih. Hal tersebut tentu saja memancing kemarahan Sean.


"Ma, keadaan papa baru saja membaik!" bentak Sean.


"Justru dengan begini papamu akan membaik. Dia tak perlu lagi mencari-cari menantu biadabnya!" sahut Ariana bengis.


Perdebatan sengit pun tak terelakkan. Keduanya saling berteriak membenarkan peerkataan masing-masing.


Para penghuni rumah lain yang mendengar keributan tersebut pun mulai berkumpul di sana, termasuk James, Chloe, dan Wayne.


Kedua anak itu bahkan sudah menangis keras karena takut melihat keributan antara nenek dan ayah mereka.


Para pekerja di rumah mewah tersebut saling beradu pandang. Mereka hendak melerai, tetapi tak ada satu pun yang berani maju terlebih dulu, apa lagi setelah melihat raut kemurkaan Ariana.


Keributan tersebut akhirnya berhenti, tatkala Ariana menampar keras pipi Sean. "Lihatlah, berkat wanita muraahan itu, kalian berubah. Kau kini berani bersikap kurang ajar pada Mama!"


Suasana hening seketika. Saat Ariana hendak memulai kembali, tiba-tiba James, yang sejak tadi lebih memerhatikan Jacob, berteriak keras.

__ADS_1


Rupanya, Jacob pingsan dan hampir terkulai jatuh dari kursi roda. Beruntung, Sean yang berada tak jaug dirinya, dengan cepat menopang tubuh sang ayah.


"Pa, Kakek kenapa?" tanya Chloe sembari menangis sesenggukkan.


Sean mengelus rambut Chloe, lalu tersenyum tipis. "Kakek hanya kelelahan." Pria itu kemudian meminta dua orang asisten rumah tangganya untuk menjaga Chloe dan Sean. Sementara dia dan James membawa Jacob ke rumah sakit.


Ariana yang panik bergegas menyusul mereka ke luar rumah. Namun, Sean dengan tegas menolak sang ibu untuk ikut masuk ke dalam mobil. Dia meminta beliau untuk menyusul sendiri.


"Sean, Mama istrinya!" sentak Ariana tak terima.


"Katakan itu sepuluh menit yang lalu, saat seharusnya Mama tahu, bagaimana menjaga kondisi papa agar tetap stabil!"


Setelah berkata demikian, Sean pun pergi bersama James, dan perawat pribadi Jacob ke rumah sakit.


...**********...


"Kondisi Tuan Edmund sebenarnya cukup baik selama beberapa hari ini. Jangan biarkan beliau setres dan banyak pikiran."


Sean dan James menganggukkan kepala, setelah mendengar perkataan dokter. Mereka pun membiarkan dokter tersebut keluar dari ruang perawatannya.


Sean terduduk lemas di atas sofa. Berulang kali dia mengusap wajahnya yang tampak frustrasi. "Apa yang harus kulakukan, James?" tanya pria itu tanpa menatap James.


Mendengar nama aslinya disebut orang lain, Sean tertawa kecil.


Bersamaan dengan itu, Ariana datang ke ruang perawatan Jacob dan langsung menghampirinya. Dia menangis sambil menggumamkan kata maaf berkali-kali. Namun, kendati begitu, wanita paruh baya tersebut tetap saja menyalahkan Caitlyn, yang jelas-jelas tidak ada di sana.


Kali ini Sean memilih diam, demi sang ayah.


...**********...


"Maafkan aku."


"Tidak perlu meminta maaf," balas Caitlyn. Meski hatinya tengah dirundung kesedihan karena suami dan anak-anaknya batal pulang, Caitlyn tetap mengerti. Sebab, biar bagaimana pun juga, kondisi sang ayah mertua saat ini di atas segalanya.


"Aku benar-benar tidak perlu datang ke sana?" tanya Caitlyn sekali lagi.


"Tidak perlu, Sayang. Perjalanan ke sini sangat jauh, aku tidak ing—"

__ADS_1


"Aku tahu alasan sebenarnya. Kau tak perlu menutup-nutupi." Tiba-tiba sang istri langsung memotong perkataan Sean.


"Maafkan aku," ucap Sean menyesal.


"Jangan katakan maaf. Aku baik-baik saja. Semoga papa segera pulih, aku turut mendo'akan beliau dari sini." Tanpa diketahui Sean, Caitlyn mengusap air matanya yang jatuh.


"Terima kasih. Soal anak-anak, aku tak perlu mencemaskan mereka ...."


" ... mencemaskan kalian."


Sean tertawa kecil. "Ya, kami. Kau tak perlu mencemaskan kami, oke?"


"Oke. Jangan lupa untuk terus mengabariku setiap saat," pinta Caitlyn.


"Oke. Aku tutup dulu. Aku sangat mencintaimu," ucap Sean.


"Aku juga mencintaimu, Owen."


Sean menutup telepon dengan mata terbelalak. Setelah sekian lama, sepertinya baru sekaranglah, Caitlyn membalas pernyataan cintanya dengan jelas. Meski nama Owen yang tersemat di sana, tetap saja Sean merasa senang.


"Tunggu aku, Cait," gumam Sean.


Sementara itu, Caitlyn sendiri hanya bisa terdiam sembari memandangi hamparan rumput dari balkon kamarnya. Perasaan takut yang sempat hilang, kini kembali datang.


"Mereka pasti akan kembali. Jika tidak, lebih aku yang akan menyusul ke sana."


Selagi Owen pergi, urusan universitas akhirnya diserahkan kepada sepupu angkatnya, Aileen. Hal tersebut diambil atas persetujuan Owen sendiri melalui sambungan telepon, dan juga Caitlyn.


Melihat istri dari sepupu angkatnya begitu kesepian, Aileen memutuskan untuk menawarkan Caitlyn pekerjaan ringan, yaitu membantu mengurus data keuangan kampus.


"Aku tak bisa melakukan apa-apa. Terlebih, pendidikanku tidak selesai," sergah Caitlyn.


Aileen tersenyum ramah. "Tidak apa-apa, Cait. Kau bisa mempelajarinya."


Caitlyn terdiam. Ini memang bukan soal uang, tapi lebih kepada mencari kegiatan lain demi menghilangkan kejenuhannya di rumah.


"Baiklah, aku menerimanya," jawab Caitlyn mantap.

__ADS_1


Aileen tersenyum senang. Wanita cantik itu pun memeluk tubuh Caitlyn erat, dan memintanya untuk datang ke kampus mulai besok.


Caitlyn membalas senyum Aileen. Dia merasa diberkati karena memiliki keluarga baru yang hangat dan menyenangkan. Owen benar-benar beruntung bisa dipertemukan dengan Keluarga Kenric.


__ADS_2