Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
21. Perpisahan Sementara.


__ADS_3

Pelukan hangat langsung diberikan Owen, ketika Caitlyn tiba di rumah. Namun, kening pria itu sontak berkerut, tatkala tidak mendapati sosok kedua putra-putri mereka turun dari taksi.


Matanya terbelalak saat taksi tersebut malah pergi begitu saja.


"Ke mana Chloe dan Wayne? Mengapa kau hanya sendirian?" tanya Owen khawatir.


Caitlyn tersenyum sendu. Tangannya mengelus lembut pipi Owen. Tak lupa, sebuah kecupan singkat didaratkan Caitlyn pada bibir pria itu. "Mereka masih di sana ... kita bicara di dalam saja." Caitlyn buru-buru menambahkan kalimatnya, ketika Owen hendak bicara kembali.


Owen pun mengangguk. Dia pun merangkul pundak Caitlyn dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Keduanya berjalan menaiki tangga lantai dua menuju kamar pribadi mereka.


Caitlyn dan Owen tidak langsung bicara. Sebab, Owen membiarkan sang istri beristirahat terlebih dahulu. Pria itu tahu benar, Caitlyn tengah menanggung beban cukup besar, entah soal apa. Mungkin saja soal Chloe dan Wayne yang tidak berhasil dibawa pulang, atau pun soal perdebatan sengit yang terjadi antara dirinya dan sang ibu.


Tepat pukul setengah tujuh pagi, Owen terbangun dari tidurnya. Pria itu mendapati sang istri tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


"Terima kasih, Mrs. Pevita," ucap Caitlyn, sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.


Melihat sang suami telah bangun, Caitlyn bergegas menghampirinya. "Aku baru saja menelepon sekolah untuk meminta izin libur selama beberapa hari. Bersiaplah, aku sudah menyiapkan air mandi untukmu," katanya sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Owen.


Saat Caitlyn hendak meninggalkan ranjang tidur mereka, Owen bergegas memegang tangan wanita itu dan mengusapnya lembut. "Bicaralah. Semalam tidurmu gelisah. Apa yang terjadi di sana?" tanyanya.


Caitlyn terdiam. Wajahnya yang semula tertunduk, kini menatap Owen dengan mata berkaca-kaca.


"Hei, ada apa, Sayang?" tanya Owen khawatir.


"Pulanglah!" kata Caitlyn tiba-tiba. "Pulanglah ke rumah orang tuamu, Owen. Katakan pada mereka, kalau kau masih hidup," sambung wanita itu.


Owen mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Memangnya apa yang terjadi? Apa merrka tahu sesuatu tentang aku?" desak Owen tak sabar.


Caitlyn menggeleng. "Tidak ada yang tahu. Hanya saja terjadi sesuatu dengan ayahmu. Pikirku, mungkin saja dengan kehadiranmu, kondisi beliau bisa jauh lebih baik."


Mendengar jawaban sang istri, Owen malah semakin bingung. Dia pun mendesak Caitlyn untuk berkata dengan sejelas-jelasnya.

__ADS_1


Setelah terdiam selama beberapa saat, Caitlyn pun akhirnya buka suara. Dia menceritakan secara gamblang kondisi sang ayah yang tengah dihinggapi penyakit mematikan.


"Leukimia-nya sudah menjalar ke seluruh organ dalam Papa. Itulah mengapa, Mama dan James membawa pergi mereka, sebab Papa ingin bertemu dengan kedua cucunya," kata Caitlyn.


"Kondisi Papa menurun setelah dia kehilangan kalian berdua. Hal itu jugalah yang membuat diriku berspekulasi, mungkin dengan kehadiranmu, kondisi beliau bisa jauh lebih baik. Walau pun tidak membawa perubahan signifikan, tetapi setidaknya beliau tahu, bahwa kau masih hidup dan sehat. Papa pasti memiliki beban penderitaan tersendiri, karena tidak bisa menemukan jasadmu hingga sekarang, Owen." Caitlyn mematri senyum terbaik yang dia miliki.


Dia paham benar hal ini memiliki resiko sangat besar, yaitu kehilangan sosok Owen. Ariana pasti tidak akan merestui pernikahan mereka, seperti yang terjadi pada Sean. Namun, Caitlyn tidak bisa bersikap egois. Dia tak ingin Owen sampai kehilangan kesempatan untuk bertemu sang ayah, begitu pula sebaliknya.


Owen sendiri terlihat mematung tidak bergerak. Pria itu tampak syok dengan semua penuturan Caitlyn soal kondisi ayahnya. Di satu sisi, dia ingin menemui beliau, tetapi di sisi lain, dia pasti harus menghadapi tingkah jahat Ariana.


Wanita tua itu pasti tidak akan membiarkan mereka bersama, setelah mengetahui semuanya ... dan Owen tidak ingin hal tersebut sampai terjadi.


"Aku ... tidak akan ke mana-mana!" tegas Owen sungguh-sungguh. "Aku tidak ingin mengambil resiko. Aku tidak mau kehilangan dirimu atau anak-anak!" sambung pria itu.


Caitlyn menggeleng keras. "Kondisi ayahmu di atas segalanya, Owen. Soal bagaimana Mama bertindak, itu bisa kita pikirkan nanti. Aku tak ingin menjadi alasan bagi kalian untuk tidak saling bertemu."


"Caitlyn, aku tak bisa. Aku akan menyuruh seseorang untuk menjemput anak—"


Owen mengusap wajahnya kasar. Pria itu dilanda frustrasi. Tanpa berkata apa-apa, dia mendekap erat tubuh sang istri dan menciumnya penuh perasaan.


Di antara lelehan air mata, Caitlyn membalas ciiuman Owen sama kuatnya. Mereka saling memagut dan berbagi perasaan, seolah-olah hal tersebut tidak dapat lagi mereka lakukan dalam waktu yang lama.


...**********...


"Kau benar-benar tidak ingin ikut denganku? Kita bisa langsung kembali bila kau ikut." Owen lagi-lagi mengutarakan ajakannya pada sang istri. Keduanya kini berada di halaman rumah, untuk melepas kepergian Owen.


Butuh waktu bagi Caitlyn untuk meyakinkan Owen sekali lagi.


Caitlyn menggelengkan kepala. Dia tak ingin kehadirannya membuat sang ibu mertua kembali meradang. Biarlah momen pertemuan mereka dihiasi kebahagiaan tanpa ada sosok dirinya.


"Pergilah, terlalu lama di sini membuatku semakin berat melepaskanmu," ucap Caitlyn lirih.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu, Caitlyn. Aku berjanji akan membawa anak-anak pulang," ucap Owen penuh keyakinan.


Caitlyn mengangguk. Dia membiarkan Owen mengecup dan memeluknya sekali lagi, sebelum kemudian masuk ke dalam mobil di mana Aiden telah menunggu.


...**********...


"Kakek hebat!" pekik Chloe kegirangan, saat Jacob berhasil duduk di kursi roda.


Sejak kemarin pria itu memang bersikeras meminta keluar dari kamar, atau sekadar berjalan-jalan di halaman rumah.


Ariana sebenarnya melarang keras, tapi sang perawat berkata, bahwa kondisi Jacob sudah lebih baik. Porsi makannya pun bertambah tiga sendok. Hal tersebut mungkin terjadi setelah kedatangan kedua cucu kesayangannya.


Alhasil, atas izin dokter, beliau pun diperkenankan keluar dari kamar paling lama setengah jam.


"Kek, Kakek mau ke mana? Biar Chloe antar," tawar gadis manis itu ramah.


Jacob tersenyum. "Kakek ingin melihat ikan peliharaan Kakek, Nak," jawabnya lembut.


Chloe mengangguk semangat. Dibantu perawat pribadi sang kakek, dia mendorong kursi roda keluar dari kamar. Sementara Wayne berjalan bergandengn dengan James.


Ariana sendiri menunggu di kolam ikan, sembari memangkas tanaman-tanaman hias miliknya.


Akan tetapi, saat Jacob dan yang lainnya hampir sampai di halaman, mereka mendengar jeritan Ariana yang sangat keras.


James bergegas lari menghampiri sang majikan, sedangkan Chloe, Wayne, dan Jacob, menyusul perlahan bersama sang perawat.


"Nyonya, apa yan—" Perkataan James terhenti seketika, tatkala matanya tiba-tiba menangkap sesosok pria yang berdiri persis di hadapan Ariana.


Raut wajahnya tampak sangat syok, sama seperti yang terpatri di wajah sang majikan. Sekujur tubuhnya kini bahkan meremang ketakutan.


Satu-satunya nama yang terlintas di benak pria itu hanya satu, "T—tuan ... Owen?"

__ADS_1


__ADS_2