Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
22. Bertemu Keluarga Kembali.


__ADS_3

Owen dengan sigap menangkap tubuh ibunya yang hampir terjerembab di tanah berumput. Pria itu menopang tubuh sang ibu lalu memeluknya erat.


Demi Caitlyn yang sudah bersusah payah mengorbankan kebahagiaannya, Owen rela melakukan hal ini. Terlebih, meski sifat sang ibu buruk, tetap saja beliau adalah wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta.


"Owen? Kau benar Owen, Nak?" Ariana dengan tangan gemetaran lantas memegang wajah Owen. Setelah memastikan bahwa pria yang ada di hadapannya ini adalah putranya yang dulu hilang dan dinyatakan meninggal, tangis histeris Ariana semakin membahana.


Owen mengangguk. Tangannya mencengkeram lembut tangan sang ibu. "Ini aku, Owen, Ma," ucapnya.


"Papa!" Tepat saat itu, Chloe dan Wayne berlari menghambur ke arah mereka.


Mendengar teriakan sekaligus panggilan kedua cucunya pada Owen, Ariana sontak terkesiap. "Papa?" gumam wanita itu. Dia mengalihkan pandangannya pada Owen, hendak menanyakan sesuatu. Namun, buru-buru Owen memotong pembicaraannya.


"Biar aku jelaskan di dalam, Ma." Setelah berkata demikian. Owen membantu Ariana bangun dan langsung memeluk kedua putra-putrinya.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Owen, seraya menciumi pipi mereka.


Chloe dan Wayne mengangguk. Keduanya menoleh ke sana kemari, seolah sedang mencari keberadaan seseorang. "Pa, mana Ibu? Ibu tidak ikut?" tanya Chloe penasaran.


Owen tersenyum simpul. "Tidak. Ibu sedang kurang enak badan." Pria itu pun menurunkan kedua anak tersebut dan meminta mereka untuk bermain di luar.


Owen kemudian memandangi ayahnya yang sedang duduk di atas kursi roda.


Seperti halnya sang ibu, Jacob pun terkejut bukan kepalang. Pria itu bahkan sudah menangis sejak tadi. Dia hendak meneriakan nama sang putra, tetapi suaranya tak sanggup keluar.


"Pa!" Owen bergegas menghampiri sang ayah dan berlutut di hadapan beliau. Mereka saling berpelukan guna menyalurkan kerinduan yang telah lama terpendam.


Air mata Owen tidak dapat terbendung lagi. Melihat kondisi sang ayah, membuat hati pria itu hancur sejadi-jadinya.

__ADS_1


"Owen anakku!" jerit Jacob dengan suara nyaris tak terdengar. Sekuat tenaga, dia menghujani kepala sang putra dengan rentetan ciuman.


Ucapan syukur tak lupa Jacob panjatkan pada Tuhan, karena telah mempertemukan mereka kembali disisa hidupnya.


...**********...


Meski awan sudah berubah kelabu, Caitlyn masih enggan beranjak dari teras rumahnya. Ditemani secangkir teh hangat, wanita itu sedang menunggu kabar dari suami dan anak-anak tercinta.


Sebenarnya ada banyak ketakutan di diri Caitlyn. Terlebih, ketika sampai detik ini, Owen belum juga menghubunginya, atau sekadar mengirim pesan. Namun, dia selalu berusaha menyangkal perasaan buruk tersebut. Saat ini, Owen mungkin sedang meluruskan segalanya, dan Caitlyn berharap, sang ibu mertua bisa mengerti hubungan mereka.


"Nyonya, sepertinya akan segera turun hujan. Lebih baik Anda masuk ke dalam." Anna yang sedari tadi memerhatikan majikannya tersebut dari dalam rumah, akhirnya memilih menghampiri beliau.


Gadis itu merasa tidak tega melihat kemelut yang hadir di antara kedua majikannya tersebut. Meski begitu, dia tak berhak ikut campur. Tugasnya kini hanya sebatas menjaga majikannya tersebut, agar selalu baik-baik saja selagi sang suami tidak ada.


"Sebentar lagi saja, An. Aku ingin di sini sebentar lagi," jawab Caitlyn lembut. Walau senyum tipis terpatri di wajah cantiknya, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kerapuhan yang ada di sana.


"Terima kasih, Ann," ucap Caitlyn.


"Sama-sama, Nyonya. Jika Anda membutuhkan saya, jangan sungkan untuk mengatakannya." Anna kemudian pamit undur diri, setelah membantu Caitlyn menutupi tubuhnya dengan selimut.


...**********...


Suasana di ruang keluarga kediaman Edmund berlangsung cukup hening. Tak ada satu pun yang bersuara, saat Owen menjelaskan soal dirinya yang selamat dari insiden maut hampir sembilan tahun yang lalu. Tak lupa, dia juga menceritakan soal amnesia yang sempat dideritanya.


Ariana bungkam. Dalam hati, dia mensyukuri takdir Owen yang selamat dalam kecelakaan tersebut. Namun, ada satu hal yang mengganjal pikirannya, yaitu soal pernikahan Owen dengan Caitlyn. Bagaimana mereka bisa bertemu, dan bukankah berarti Caitlyn menyembunyikan fakta sebenarnya?


"Lantas, bagaimana kau bisa bertemu dan menikah dengan Caitlyn, Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ariana tak sabar.

__ADS_1


Owen menghela napasnya. Dia sudah menduga, sang ibu akan langsung menanyakan hal demikian.


"Saat ingatanku kembali, satu-satunya orang yang aku cari adalah Sean, Ma. Namun, setelah tahu bahwa dia telah tiada, aku.langsung mencari tahu keberadaan Caitlyn. Dari sana lah kami bertemu, dan aku memutuskan melamarnya." Owen menjawab pertanyaan Ariana dengan sangat hati-hati. Dia tak ingin kelepasan bicara.


Ariana tentu saja terkejut. Alih-alih mencari keluarganya, Owen malah memilih mencari Caitlyn. "Di antara banyak wanita, mengapa harus dia, Owen? Kakakmu sudah terjebak dengan Caitlyn, dan kini kau mengulangi kesalahan yang sama!" seru wanita itu.


Owen tersenyum tipis. "Ma, kita sudah tahunan tidak bertemu, alangkah baiknya bila kita membicarakan hal-hal lain dulu," pintanya lembut.


Ariana terdiam sejenak. "Mama hanya ingin tahu alasanmu, Owen? Apa yang sebenarnya terjadi? Sejak dulu, Sean selalu Mama tekankan untuk tidak memiliki istri yang asal usulnya kurang jelas, karena itu bisa menurunkan harga diri keluarga Edmund! Dia sudah betul-betul Mama buang ke jalan, tapi kau malah mengambilnya!"


Dada Owen seketika panas mendengar hinaan yang keluar dari mulut Ariana. Benar kata Caitlyn, sang ibu sama sekali tidak berubah.


Diam-diam, pria itu berusaha mengontrol emosinya agar tetap stabil. "Tak ada yang salah dengan diri Caitlyn, Ma. Seharusnya Mama tahu, jika perbuatan Mama telah membuat hidup mereka bertiga berantakan dan penuh penderitaan. Andai aku terlambat sedetik saja, mereka bertiga pasti tidak akan selamat."


"Apa maksu—"


"Ma," potong Owen. "Berkat Caitlyn juga lah, aku bisa pulang ke sini. Dia lah yang sudah membujukku untuk datang, disaat aku memutuskan untuk memulai hidup baru, dengan identitas yang baru."


Ariana bungkam. Entah mengapa, wanita itu merasa tak sanggup berkata-kata. Owen jelas berbeda dari yang dia kenal. Meski Owen tidak sependiam Sean, tetapi pria itu tak pernah membalas perkataannya.


Sementara itu, Owen memilih pamit untuk membantu sang ayah kembali ke kamar.


"Beristirahatlah, Pa," ucap Owen, setelah selesai mengembalika tubuh ringkih Jacob ke atas ranjang.


"Caitlyn, suruh Caitlyn kemari, Nak. Papa belum bertemu dan meminta maaf padanya," ujar Jacob tiba-tiba. Sejak sakit, ingatannya memang terkadang suka terganggu.


Owen menaikkan selimut di tubuh sang ayah, lalu tersenyum simpul. "Nanti ya, Pa. Sekarang Papa istirahat dulu."

__ADS_1


Jacob menganggukkan kepala. Perlahan, dia kembali mengelus wajah Owen, sembari menggumamkan beberapa kata penuh rasa syukur atas kembalinya sang putra tercinta, yang telah lama dia rindukan.


__ADS_2