
Caitlyn memulai hari pertamanya bekerja di universitas milik keluarga Kendric. Tidak seperti yang dicemaskan sebelumnya, ternyata semua rekan-rekan kerja sang suami sangat antusias meyambut kedatangan Caitlyn.
Wanita itu merasa sangat dihargai. Rasanya sudah lama dia tak lagi mendapatkan perhatian dan kebaikan seperti ini.
Setelah mengenalkan diri di ruangan dosen, Aileen segera membawa Caitlyn berkeliling kampus, sembari menjelaskan beberapa hal.
"Kampus ini sudah dibangun sejak tahun 1900-an awal oleh generasi pertama keluarga Kendric, dan sudah menjadi peraturan mutlak di keluarga kami, bahwa setiap pewaris adalah anak laki-laki," kata wanita berusia 40 tahun itu.
"Bagaimana jika di keluarga tersebut tidak memiliki anak laki-laki?" tanya Caitlyn.
"Seperti halnya paman dan bibiku yang bahkan tidak memiliki anak. Bila mereka mengadopsi seorang anak, anak tersebut lah yang akan mewarisi ini semua." Jawab Aileen.
Caitlyn mengangguk-anggukkan kepala. Pantas saja Owen akhirnya didapuk sebagai pewaris selanjutnya, walau dia hanya seorang anak angkat. Padahal jelas-jelas Aileen bisa saja mewarisinya.
Selain itu, kerukunan keluarga Kendric memang patut diacungi jempol. Sebab, tak ada satu pun yang merasa keberatan dengan keputusan tersebut. Hubungan antar keluarga terlihat sangat harmonis.
Aileen pun mengajak Caitlyn melewati lorong yang jarang dilewati orang.
Lorong tersebut memang tampak berbeda dari tempat lainnya, karena di sisi kiri kanan lorong terdapat display kaca beserta foto sang pemilik dari generasi ke generasi. Tak hanya itu saja, penampilannya pun cukup mewah dengan karpet merah yang membentang di sepanjang lorong.
"Ini adalah ruang kerjamu." Alieen berhenti tepat di depan sebuah pintu besar. "Ruangan Owen yang sekarang aku pakai, berada di ujung sana." Wanita itu kemudian menunjuk pintu besar lainnya.
__ADS_1
Caitlyn mengerutkan keningnya. Sebab, seingatnya tadi, mengurus data keuangan kampus ada di ruangan sebelah loket.
"Bukankah ruanganku ada di samping loket, bersama dengan yang lainnya?" tanya Caitlyn keheranan.
"Memang, tapi khusus untukmu tidak demikian. Mau bagaimana pun, kau adalah istri Owen, Cait, istri pemilik kampus. Jadi, sudah seharusnya kau mendapatkan keistimewaan."
Caitlyn hendak menolak, tetapi Aileen tidak membiarkannya. Tanpa menghiraukan raut tak enak Caitlyn, Alieen segera menariknya masuk ke dalam.
Caitlyn benar-benar tercengang melihat ruangan megah tersebut. Sejenak dia merasa seperti kembali ke zaman eropa kuno.
Yah, kampus ini memang tidak banyak mengalami perubahan signifikan. Di beberapa bagiannya masih mempertahankan desain lama, termasuk ruangan-ruangan penting.
Alhasil, demi menghindari perdebatan yang tidak perlu, Caitlyn mengucapkan terima kasih.
Lima menit kemudian, seorang wanita berpenampilan rapi masuk ke dalam ruangan Caitlyn.
"Salam kenal, Nyonya Kendric. Saya Laura Andrean yang akan membantu Anda bekerja. Semoga Anda berkenan bekerja dengan saya." Wanita itu terlihat baik, tapi sedikit misterius. Sepertinya dia bukan tipe wanita yang banyak bicara dan pandai berbasa-basi.
Caitlyn tersenyum ramah. "Mohon bantuannya, Nona Laura," pinta wanita itu.
"Kalau begitu panggil saya Caitlyn saja. Usia kita tampaknya tidak begitu jauh."
__ADS_1
Laura terdiam sejenak, sebelum akhirnya menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang?" tanya Caitlyn ramah.
Laura pun berjalan menghampiri Caitlyn, dan memberikan laptop yang sejak tadi dibawanya.
...**********...
Sementara itu, Sean baru saja mendapatkan laporan dari Laura tentang Caitlyn. Sebenarnya pria itulah yang meminta Aileen untuk menempatkan Caitlyn di ruangan tersendiri, setelah mendengar kabar, bahwa Aileen menawarinya pekerjaan. Dia juga lah yang meminta sang sepupu untuk menyiapkan seseorang yang bisa menjaga Caitlyn.
Kerinduan semakin membuncah di hati Sean, tatkala Laura kemudian mengirimkan potret Caitlyn. Namun, rencananya untuk kembali pada wanita itu belum bisa terlaksana.
Ancaman Ariana untuk membocorkan identitas asli Sean pada Caitlyn bukanlah penyebab utama, melainkan kesehatan sang ayah.
Sean berharap kesehatan ayahnya bisa segera membaik, agar dia, Chloe, dan Wayne bisa kembali ke rumah.
Akan tetapi, harapan tinggallah harapan, tepat setelah satu minggu melakukan perawatan di rumah sakit, Jacob akhirnya mengembuskan napas terakhir di pangkuan Sean.
"Jangan pernah membenci Owen, Sean. Biar bagaimana pun, kalian memiliki darah yang sama, dan pernah berbagi tempat yang sama di rahim ibu kalian."
Itulah sepenggal kalimat yang terlontar dari mulut Jacob sesaat sebelum meninggal. Tak lupa, dia juga menitipkan permohonan maaf untuk Caitlyn, karena di masa lali tidak memiliki cukup keberanian dalam membelanya.
__ADS_1
Ariana sendiri sudah menangis histeris sambil memanggil-manggil nama Jacob. Tak ada yang berani mengganggu keluarga tersebut, sang dokter membiarkan Sean dan Ariana untuk dekat lebih lama dengan Jacob, sebelum membawanya ke ruang jenazah.