Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
34. Terkuak.


__ADS_3

Caitlyn membelalakkan matanya. Wanita itu terkejut bukan kepalang mendengar penjelasan Ariana. Namun, dia tak mau menelannya bulat-bulat.


Wajar saja, sebab Caitlyn merasa mengenal Sean. Terlebih, kepribadian keduanya sungguh berbeda.


"Mama tidak perlu berbohong untuk membuatku menjauh," ucap Caitlyn.


"Cih, dasar wanita bodoh! Harusnya kau lebih tahu dari pada aku!" seru Ariana.


"Masa bodoh kau mau percaya atau tidak, aku tidak butuh! Kau bisa cari sendiri faktanya. Tak ada kebohongan yang sempurna. Dia pasti meninggalkan jejak!" Tanpa menunggu jawaban Caitlyn, Ariana segera menutup teleponnya.


Caitlyn terlihat sangat syok. Dia sama sekali tidak bereaksi dengan pertanyaan Aileen. Satu-satunya hal yang terlihat dari Caitlyn, adalah air matanya.


"Cait, kau kenapa?" tanya Aileen khawatir.


Caitlyn menoleh ke arah Aileen. "Aileen, saat pertama kali Owen ditemukan, qpa dia memperkenalkan dirinya dengan nama lain?" tanya wanita itu. "Mungkin saja dia sempat menyebut nama seseorang," sambungnya.


"Aku sepertinya pernah mendengarnya dari Uncle Percy soal itu. Namun, aku lupa. Sebab, Uncle Percy dan Aunty Barbara lah yang mengganti nama Owen sesaat setelah dia sadar, atas permintaan Owen sendiri."


Mendapat jawaban demikian dari Aileen, sekujur tubuh Caitlyn merinding seketika.


"Tidak mungkin!" gumam Caitlyn.


"Cair, ada apa?" Aileen yang khawatir memegangi lengan Caitlyn demi menyadarkan dirinya.


Caitlyn hanya terdiam. Isi kepalanya dipenuhi berbagai macam ingatan-ingatan tentang Owen beserta keberasamaan mereka selama ini.


... dan memang benar, Owen memiliki beberapa keanehan. Salah satunya adalah kegemaran baru pria itu merawat tanaman.


Tiba-tiba saja Caitlyn mengingat satu ruangan tersembunyi yang ada di ruang kerja Owen. Ruangan itu lah yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun, termasuk dirinya.

__ADS_1


Jangan-jangan ruangan itu menyimpan sesuatu yang fatal.


Caitlyn tak bisa lagi berdiam diri. Dia harus membuka ruangan itu.


Buru-buru dia melangkah pergi meninggalkan Aileen. Aileen yang khawatir refleks mengikutinya dari belakang.


Caitlyn membuka kasar pintu ruang kerja Owen, dan berusaha membuka pintu lain yang tersembunyi di sana. Aileen yang tidak mengerti hanya bisa memerhatikan Caitlyn dari ujung ruangan.


"Anna!" teriak Caitlyn.


Anna, sang asisten rumah tangga, pun datang menghampiri Caitlyn. "Ada apa Nyonya?" tanya Anna.


"Buka ruangan ini!" titah Caitlyn dingin.


"Tuan Owen berpesan untuk tidak memperkenankan siapa pun masuk ke dalam sana, Nyonya," ujar Anna tertunduk.


Anna lagi-lagi menolak. Dia tak berani menatap wajah sang majikan.


Hal itu membuat Caitlyn naik pitam. Wanita yang sama sekali tidak pernah marah itu pun akhirnya berteriak keras.


Caitlyn frustrasi. Pikirannya kacau. Air mata pun tak berhenti membasahi pipinya. Satu-satunya hal yang dia inginkan saat ini hanyalah kebenaran.


"Baiklah, aku akan membukanya sendiri," ujar wanita itu, sebelum kemudian mencoba mengambil kaapak damkar yang ada di dekat pintu masuk.


Khawatir akan keselamatan ibu hamil itu, Anna oun akhirnya membuka suara. "Kunci itu disimpan dengan baik oleh Tuan, di brankasnya, Nyonya." Anna kemudian menunjukkan brankas milik Owen yang berada di bawah meja kerjanya.


Caitlyn tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia pun mencoba menekan seluruh kombinasi angka yang terlintas di kepalanya. Namun, semua itu gagal. Hingga akhirnya satu kombinasi angka berhasil membuka brankas tersebut..


"Tanggal ulang tahunku," batin Caitlyn.

__ADS_1


Di sana lah, dia menemukan sejumlah uang tunai dan kartu akses berwarna hitam. Tanpa pikir panjang, Caitlyn segera mengambil kartu tersebut.


Benar saja, kartu itu merupakan kunci ruang persembunyian Owen. Begitu terbuka, dia bisa melihat ruangan kecil yang penuh dengan barang-barang. Aileen ikut masuk ke dalam setelah menyuruh Anna pergi meninggalkan mereka.


...**********...


Sementara itu, Sean yang baru saja tiba di rumah, dan hendak membersihkan diri, terkejut tatkala mendengar suara alarm yang datang ke ponselnya.


Suara alarm tersebut berasal dari brankas pribadi dan ruangan tersembunyinya. Alarm akan langsung memberikan sinyal bahaya, bila kedua tempat itu dibobol oleh orang asing.


Jantung pria itu seketika berdegup kencang. Pasalnya, satu-satunya orang yang terpikirkan oleh Sean saat ini adalah Caitlyn.


Pria itu berusaha menghubungi Caitlyn menggunakan ponsel barunya. Selama ini dia memang sengaja menuruti Ariana untuk tidak mengangkat telepon dari Caitlyn, agar bisa kabur dari sana. Pengawasan Ariana mengendur saat dirinya terlihat berpihak pada wanita itu.


Akan tetapi usaha Sean gagal. Tak ada jawaban sama sekali. Berkali-kali mencoba, berkali-kali itu pula Caitlyn tidak mengangkat teleponnya. Alhasil, Sean pun mengakses CCTV yang ada di ruang persembunyian tersebut.


Dia memang hanya memiliki akses di ruangan itu saja.


Benar saja dugaannya. Caitlyn bersama Aileen terlihat sedang memeriksa lemari besar yang ada di sana. Keduanya tampak serius membaca satu demi satu petunjuk yang mereka dapatkan.


Sedetik kemudian, Caitlyn terlihat kesakitan lalu tumbang ke lantai.


Aileen yang panik segera berteriak memanggil bantuan, sambil merebahkan Caitlyn di pangkuannya. Wanita itu berusaha menyadarkan Caitlyn dengan menepuk-nepuk pelan pipinya, lalu mengelus perutnya.


Sean tentu saja terkejut. Namun, bukan hanya pada kondisi Caitlyn yang pingsan, melainkan pada perut besar wanita itu.


Wajah Sean memucat seketika, seolah-olah darrah habis tersedot dari tubuh pria itu.


"Cait!"

__ADS_1


__ADS_2