Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
13. Gangguan.


__ADS_3

Jantung Caitlyn berdegup keras. Dirinya kini berada dalam dekapan hangat Owen. Mungkin inilah waktunya Caitlyn memberikan hak sang suami. Sudah cukup waktu yang terulur, nyaris dua bulan.


Perasaan cinta memang belum sepenuhnya hadir di hati Caitlyn, tetapi bukan berarti dia harus terus menunda. Mungkin saja, setelah ini terjadi, perasaan tersebut dapat hadir seutuhnya.


Caitlyn mulai membalas pelukan Owen, sembari mendaratkan ciuman lembut di pipinya. Tanpa melakukan perlawanan, dia juga membiarkan pria itu mengambil langkah.


Tubuh Caitlyn yang ringan dengan mudah diangkat oleh Owen. Dia kemudian memindahkan sang istri ke atas ranjang mereka.


Mereka terdiam sejenak, saling memandangi satu sama lain.


"Bolehkah ...." Owen tidak meneruskan perkataannya. Dia tahu, Caitlyn pasti mengerti benar.


Caitlyn tersenyum sembari mengangguk pelan.


Mendapat persetujuan dari sang istri, jantung Owen sontak bergemuruh. Dia pun mulai membellai lengan Caitlyn lembut, sebelum kemudian mendaratkan kecupannya di sana.


Caitlyn bergeming. Berusaha untuk tidak terbawa suasana terlebih dahulu. Namun, sepertinya gagal, sebab kini, dia menyambut kecuuppan lembut Owen di bibirnya.


Mereka saling memaggut mesra, hingga oksigen di antara mereka berkurang. Tak sampai setengah menit, Owen memulainya lagi.


Kini dengan lembut Owen memberikan sengatan-sengatan kecil di pipi, leher, dan tulang selangka Caitlyn.


Caitlyn bergerak gelisah. Hawa di tubuhnya semakin memanas. Tangannya tanpa sadar mencengkeram lengan Owen, begitu sang suami berhasil membuka kancing blouse. Namun, saat Owen hendak bergerak lebih jauh, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.


Semula, keduanya sama sekali tidak memerdulikan ketukan tersebut. Namun, begitu mendengar suara tangisan Wayne, mereka sontak menghentikan kegiatan.


"Biar aku yang buka pintu," ujar Owen, sembari bangkit dari ranjang setelah memberikan kecupan di daadda Caitlyn.


Sementara Caitlyn bergegas merapikan pakaian dan penampilannya yang sudah kacau. Dia bahkan menepuk-nepuk wajahnya yang memerah.


Owen kembali ke dalam kamar, sembari membawa Wayne digendongannya. Putra kecilnya itu tampak menangis.


"Dia ingin tidur di sini, karena bermimpi buruk," bisik Owen.


Caitlyn meringis. Wanita itu segera membawa Wayne ke dalam dekapannya. "Kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya.


Wayne menggeleng. Sambil menangis dia bercerita tentang monster menyeramkan yang hadir dalam mimpinya. Tak hanya itu saja, Wayne juga berkata, bahwa sang kakak, Chloe, tidak terbangun, saat dia mengetuk pintu. Itulah mengapa, Wayne memutuskan berjalan menuju kamar mereka.


"Semua baik-baik saja, Nak. Ada Ibu dan Papa di sini," ujar Owen seraya mengelus rambut sang putra.


Alhasil, Wayne pun tertidur di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Maafkan, kegiatan kita jadi tertunda," bisik Caitlyn dengan nada tak enak hati. Wanita itu memegang pipi sang suami dengan perasaan bersalah.


Owen mengambil tangan Caitlyn dan mengecupnya lembut. "Aku mengerti," jawab pria itu. Sebelum ikut sang putra memejamkan mata, dia menciiuum bibir sang istri sekali lagi.


...**********...


"Benarkah!" Luna memekik kegirangan, saat Owen berkata, bahwa dia bersedia membantu Luna menyiapkan presentasinya.


"Tapi, aku hanya bisa memberikan waktu satu jam saja, dan karena ini hanya presentasi sederhana, jadi mungkin dalam waktu tiga hari sudah selesai," ujar Owen kemudian.


Luna mengangguk. Asalkan bisa bersama dosen tersebut, dia setuju-setuju saja. Lagi pula, Luna bisa membuat banyak alasan demi mengulur waktu bersama nantinya.


Hari pertama pun dimulai. Luna dengan senang hati menerima tawaran Owen untuk mengerjakan presentasi tersebut di ruangan khusus miliknya.


"Aku akan mempelajarinya dulu," kata Owen sambil membaca beberapa tumpuk berkas milik perusahaan ayah Luna.


Sejak masuk kuliah, ayah Luna memang sudah memberikan posisi penting pada anak gadisnya. Maklum saja, Luna merupakan anak pertama dari dua bersaudara, yang sama-sama perempuan. Sang adik juga baru berusia 11 tahun. Jadi, mau tidak mau, Luna harus mempersiapkan diri lebih dulu.


Sementara Owen sendiri memiliki latar belakang bisnis dari keluarga kandungnya, hal itu membuat dirinya dapat dengan mudah membantu Luna.


...**********...


Suasana dalam di dalam kamar Owen dan Caitlyn tampak remang. Hanya ada cahaya bulan yang menerobos masuk melalui jendela kamar mereka.


Suara merdu yang tercipta dari mulut Caitlyn pun terdengar.


Owen mengangkat kepalanya dan memandangi Caitlyn, seolah memberi isyarat.


Caitlyn mengangguk. Namun, saat Owen hendak melangkah lebih jauh lagi, suara dering telepon pun terdengar memekakkan telinga.


Caitlyn dan Owen sama-sama terperanjat. Pria itu bergegas mengambil ponselnya.


"Siapa?" tanya Caitlyn.


"Luna." Jawab Owen.


"Abaikan!" titah Caitlyn ketus.


Owen menuruti. Mereka kembali melanjutkan kegiatan. Namun, lagi-lagi Luna menelepon. Kali ini, dia juga mengirimkan pesan bahwa itu adalah telepon penting.


Mengetahui hal tersebut, Caitlyn bangkit dari posisinya sambil berkata, "angkatlah."

__ADS_1


Owen mengeraanng frustrasi. Entah mengapa, dia merasa begitu banyak cobaan yang datang, setiap kali hendak bermesraan dengan sang istri.


Caitlyn sendiri tampak menyesal membiarkan Owen memberi bimbingan pada gadis itu.


"Maafkan aku. Besok tugas Luna selesai, dan aku berjanji akan langsung memblokir nomornya," ucap Owen. Selain merasa tak enak, Owen sebenarnya merasa senang, karena bisa melihat kecemburuan Caitlyn.


"Baiklah." Jawab Caitlyn singkat.


Gemas dengan raut wajah sang istri, Owen mencubit pipinya lembut. "Terima kasih. Aku mencintaimu," ucap Owen.


"Aku tahu," jawab Caitlyn, sembari mengelus wajah sang suami.


...**********...


"Good. Aku yakin rapat akan berjalan dengan baik." Owen menutup lembaran kertas dan memberikannya kembali pada Luna.


"Ini semua berkat Anda, Mr. Owen. Sekali lagi, terima kasih karena sudi membantu," ujar Luna tulus.


"Sama-sama. Aku senang ada mahasiswiku yang sukses dalam berkarir. Kau memiliki potensi untuk menjadi pemimpin perusahaan kelak," puji Owen.


Luna tersipu.


"Baiklah, kalau begitu, aku pulang dulu." Owen bergegas bangkit dari kursi. Namun, Luna menghentikannya.


"Mr. Owen, Anda sudah berbaik hati membantu saya, tapi saya belum memberikan apa pun. Bagaimana kalau saya meneraktir Anda makan?" tawar Luna tiba-tiba.


"Tidak perlu. Aku senang membantumu, jadi, tidak perlu ada balas budi," tolak Owen halus.


Luna terlihat kecewa, tetapi dia tak ingin menyerah. Dia terus membujuk Owen untuk ikut makan malam dengannya hari ini.


Owen yang risih dengan rengekan Luna akhirnya memilih mengalah. Dia pun meminta izin untuk menelepon istrinya terlebih dahulu.


...**********...


Mendung seketika menghiasi wajah Caitlyn. Maklum saja, sebab wanita itu baru saja menerima telepon dari sang suami dan meminta izin untuk bisa makan malam dengan Luna.


Meski kesal, Caitlyn mau tidak mau memberikan izin. Dia tak ingin menjadi istri yang posesif untuk Owen.


Sementara itu, Owen sebenarnya cukup terkejut dengan jawaban Caitlyn yang di luar dugaan. Dia pikir, wanita itu akan melarang dirinya makan malam dengan Luna.


Owen mengembuskan napasnya. Dia pun berpaling pada Luna dan berkata, "aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit."

__ADS_1


Luna mengangguk kegirangan. Dia pun segera mengajak Owen pergi ke salah satu restoran, yang berada tak jauh dari kampus.


__ADS_2