
Caitlyn mengambil penerbangan pertama menuju kota New York, sendirian. Meski timbul beberapa pertanyaan soal alasan Ariana membawa pergi Chloe dan Wayne secara diam-diam, Caitlyn berusaha mengabaikannya saja.
Harapan satu-satunya Caitlyn saat ini hanya satu, yaitu bisa membawa kedua anaknya pulang kembali, tanpa menimbulkan percikan-percikan pertengkaran antara dirinya dan sang ibu mertua.
Caitlyn tiba-tiba di kediaman megah keluarga Edmund pukul setengah tiga sore. Caitlyn tidak bisa memungkiri berbagai emosi yang bergejolak di hatinya, ketika harus melihat bangunan megah ini. Maklum saja, ada begitu banyak cerita dan kenangan yang terukir, terutama soal mendiang Sean.
Caitlyn memantapkan hatinya untuk tidak terbawa suasana. Wanita itu pun berusaha mengontrol napasnya, sebelum keluar dari taksi.
Saat turun, samar-samar Caitlyn bisa mendengar suara tawa khas anak kecil. Caitlyn yakin, bahwa itu adalah suara Chloe dan Wayne.
Wanita itu pun bergegas mengikuti arah suara, yang ternyata berasal dari halaman belakang rumah tersebut.
"Chloe, Wayne!"
Chloe dan Wayne yang sedang asyik bermain gelembung air bersama salah seorang asisten rumah tangga, sontak menoleh ke sumber suara.
"Ibu!" Keduanya serempak berseru kegirangan, saat mendapati sosok sang ibu berdiri tak jauh dari sana.
James yang ternyata sedang mengawasi mereka dari jauh pun, terkejut melihat kedatangan Caitlyn. Alih-alih menghubungi terlebih dahulu, pria itu tidak menyangka, bahwa Caitlyn akan langsung datang kemari.
Chloe dan Wayne lamgsung menghambur ke pelukan Caitlyn sambil menangis terisak-isak. Mereka mengungkapkan kerinduannya pada sang ibu tanpa melepaskan pelukan tersebut.
"Ibu juga merindukan kalian," ujar Caitlyn. Air matanya turut mengalir keluar. Dalam hati, dia bersyukur akan keadaan Chloe dan Wayne yang baik-baik saja.
"Bu, aku ingin pulang!" seru Chloe.
"Iya, kita akan pulang. Ibu datang untuk menjemput kalian," jawab Caitlyn menenangkan.
"Tidak bisa!" Tiba-tiba dari arah pintu belakang, Ariana muncul bersama James. Wanita itu bertolak pinggang, sambil menatap Caitlyn sinis.
Matanya tak lepas menjelajahi tiap jengkal penampilan sang menantu. "Tak kusangka, kau memiliki nasib yang cukup bagus. Siapa pria malang yang memungutmu di jalan, Caitlyn?"
Caitlyn menghela napas. Dia sudah tidak terkejut dengan mulut tajam Ariana. Wanita paruh baya itu memang selalu senang mencari gara-gara di mana pun dan kapan pun.
__ADS_1
"Ma, aku tidak ingin ada pertengkaran lagi. Aku sudah hidup dengan baik tanpa mengganggu Mama. Jadi, mengapa Mama tiba-tiba membawa pergi kedua anakku tanpa izin?" tanya Caitlyn. Pembawaannya terlihat tenang dan santai.
"Hei, aku punya hak untuk menjemput mereka! Mereka juga darah dagingku, anak dari putraku!" sentak Ariana. "Jadi, terserah aku mau berbuat apa kepada mereka!" sambung wanita itu sinis.
Caitlyn mengalihkan pandangannya pada Chloe dan Wayne, yang kini terlihat takut. "Kalian bermain di dalam ya? Ibu ingin bicara dengan Nenek dulu," pinta Caitlyn lembut, sembari bersimpuh di hadapan mereka.
Chloe menggeleng. "Aku ingin bersama Ibu!" serunya.
"Anak baik harus menurut apa kata orang tua. Chloe anak baik, bukan?" tanya sang ibu.
Chloe mengangguk, begitu pun dengan sang adik, Wayne. Bocah lima tahun itu sebenarnya tidak memahami situasi yang terjadi. Dia hanya mengikuti tingkah sang kakak saja.
"Kalau begitu, pergilah! Ibu akan menyusul." Seulas senyum terpatri di wajah cantik Caitlyn.
Bersama asisten rumah tangga, mereka pun pergi meninggalkan Caitlyn, Ariana, dan James di sana.
Caitlyn kembali berdiri dan membenahi posisinya. "Aku tidak pernah melarang Mama untuk menemui mereka. Aku hanya tidak ingin mereka berdua pergi secara tiba-tiba, hingga membuat semua orang khawatir."
Ariana mendecih. "Cih, omong kosong! Sepertinya, pernikahanmu yang sekarang, membuat nyalimu besar ya? Sejak tadi, kau berani sekali membalikkan kata-kataku, wanita siaal!" maki Ariana.
"Mengapa Mama penasaran sekali dengan pernikahanku? Bukankah Mama tidak peduli dengan apa yang aku lakukan?"
Mendengar perkataan tersebut, Ariana naik pitam. Dia berjalan mendekati Caitlyn dan menatapnya bengis. "Percaya diri sekali kau! Aku hanya penasaran tentang identitas ayah tiri kedua cucuku. Mengapa kau terkesan tidak terima?"
Tiba-tiba mata Ariana memicing sinis. "Ahh, atau jangan-jangan, kau sudah lama menjalin hubungan dengan pria itu, mengingat pernikahan keduamu hanya berselang tiga bulan dari kematian putraku!" tuding wanita paruh baya itu.
Caitlyn tersentak kaget. "Tuduhan Mama tidak berdasar!" serunya cepat. "Mama tidak perlu tahu siapa suamiku, yang jelas, anak-anakku beruntung mendapatkan ayah tiri sebaik ayah kandungnya."
"Jangan samakan putraku dengan pria itu!" pekik Ariana.
Caitlyn mengembuskan napasnya. Walau usia Ariana sudah berkepala enam, tetapi wanita itu masih senang berdebat dan mengajak orang berkelahi.
"Ma, aku tidak ingin bertengkar, aku hanya ingin membawa anak-anak pulang. Mereka harus bersekolah." Kali ini Caitlyn berkata dengan intonasi lebih lembut.
__ADS_1
"Tidak bisa!" jawab Ariana cepat.
"Kenapa? Mama sudah bertemu dengan mereka, bukan? Nanti saat libur sekolah, aku akan mengajak mereka ke sini lagi," ucap Caitlyn.
Ariana bergeming. Dia tak ingin memberitahu yang sebenarnya soal kondisi Jacob. Namun, bagaimana jika Caitlyn bersikeras membawa Chloe dan Wayne pergi?
Apa yang harus dia katakan?
"Aku membawa Chloe dan Wayne bukan tanpa alasan!" seru Ariana kemudian.
Caitlyn sontak mengerutkan keningnya. Dia pun mengalihkan pandangannya pada James, yang sejak tadi hanya mematung di belakang sang mertua.
"Alasan apa, sampai-sampai membuat James rela terbang ke London untuk menjemput mereka?" tanya Caitlyn.
Ariana tidak sudah menjawab. Dia tidak akan membiarkan Caitlyn mengetahui kelemahannya. Namun, James malah menjawab pertanyaan Caitlyn dengan jujur.
"Kondisi Tuan Jacob kritis, Nyonya Caitlyn. Saya dan Nyonya Ariana hanya ingin mewujudkan kerinduan beliau pada kedua cucunya."
Caitlyn terkejut.
"James!" bentak Ariana.
"Saya rasa ini langkah terbaik, Nyonya, agar kesalahpahaman tidak terus berlanjut." James membungkukkan badannya dalam-dalam, sebagai tanda permintaan maaf.
"Memangnya, ada apa dengan beliau?" tanya Caitlyn.
Kali ini, James lagi-lagi mengambil suara. Dia dengan gamblang menceritakan secara singkat penyakit kanker darah yang menggerogoti tubuh beliau.
Mendengar penjelasan tersebut, Caitlyn menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak menyangka, hanya dalam waktu setengah tahun, kondisi sang ayah mertua berubah drastis.
"Mengapa tidak bilang saja sejak awal? Aku tentu akan mengizinkan kalian membawa Chloe dan Wayne," ujar Caitlyn.
Wanita itu pun menatap sang ibu mertua dengan pandangan nanar. "Izinkan aku untuk menemui Papa, Ma," pinta Caitlyn.
__ADS_1
"Tidak akan!" Jawab Ariana tegas.
"Ma, please ...."