Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
7. Pesta Pernikahan.


__ADS_3

Caitlyn menatap pantulan wajahnya sekali lagi di cermin. Ada raut kegugupan terlihat samar di sana. Wajar saja, sebab hari ini adalah hari pernikahannya yang kedua.


Jauh di dalam lubuk hatinya, dia masih tidak memercayai akan melakukan sumpah pernikahan sekali lagi. Keinginannya untuk memiliki pasangan hidup satu kali sampai maut memisahkan, ternyata tidak semudah yang diucapkan.


Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, terlebih jika sudah memiliki anak. Caitlyn tidak memungkiri niatnya dinikahi Owen, adalah untuk mensejahterakan hidup kedua putra-putrinya. Namun, bukan berarti dia tak ingin menjalani rumah tangga yang sebenarnya.


Caitlyn hanya butuh waktu untuk belajar mencintai Owen, meski mungkin terasa sulit, karena wajah sang calon suami begitu mirip dengan mendiang suaminya, Sean.


Mungkin, itu juga yang terjadi pada diri Owen. Pria itu pasti membutuhkan banyak waktu untuk merubah pandangannya pada Caitlyn, yang semula merupakan saudara ipar, kini menjadi istrinya sendiri.


Akan tetapi, Caitlyn memiliki kesedihan sendiri saat ini. Sebab, wanita itu belum sempat meminta izin secara langsung di depan makam sang suami.


Maklum saja, waktu mereka sedikit. Alhasil, Caitlyn harus puas berbincang dengan Sean di ruang ibadah saja.


"Restui aku, Sean. Aku berjanji akan membahagiakan membahagiakan mereka bertiga," ucap Caitlyn dengan suara lirih.


"Ibu!" Suara teriakan Chloe dan Wayne langsung membuyarkan lamunan Caitlyn. Kedua anak itu rupanya sudah siap menjadi pengiring pengantin. Mereka bahkan sudah siap dengan keranjang kecil berisi ratusan kelopak bunga mawar.


Caitlyn merendahkan tubuhnya untuk memeluk mereka berdua. "Kalian senang?" tanya wanita itu. Pertanyaan tersebut sebenarnya lebih ditujukan kepada Chloe, yang sudah lebih mengerti akan situasi ini.


Chloe mengangguk senang. "Aku bahagia, karena memiliki Papa," ucap gadis itu dengan wajah sumringah.


Beberapa hari sebelum pernikahan, Chloe memang sudah mengganti panggilannya terhadap Owen, begitu pula dengan Wayne.


Owen tentu saja senang bukan main. Pria itu menjadi lebih bersemangat mempersiapkan segalanya.


Saat mereka masih asyik mengobrol, salah seorang wanita pun masuk ke dalam ruangan. "Cait, ayo!" Dia adalah Evelin, sepupu angkat Owen.


Kali ini Caitlyn beruntung, sebab tidak seperti keluarga Edmund, keluarga Kenric justru menerima dengan senang hati kehadirannya. Mereka bahkan mengakrabkan diri dengan baik.


Tak ada satu orang pun yang menganggap Owen orang lain, atau hanya sekadar anak angkat dari keluarga mereka. Semua membaur menyambut pernikahan pria itu dengan suka cita.


Hal itulah yang membuat Caitlyn akhirnya mengerti, mengapa Owen sangat mencintai keluarga barunya di sini.


Caitlyn mengangguk. Evelin segera menggandeng Chloe dan Wayne untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah memastikan penampilannya sekali lagi, Caitlyn pun melangkah keluar dengan raut gugup.


Hal yang sama juga terlihat di wajah Owen. Saking gugupnya, pria itu bahkan memasang wajah sedatar mungkin demi menyamarkan diri.


Saat musik pengiring dimainkan, tak lama kemudian pintu gereja terbuka.


Mata Owen langsung terpusat pada seorang wanita cantik nan anggun yang sedang melangkah sendirian menuju altar, tempatnya berada saat ini.


Sementara di depan sang mempelai wanita, dua orang keponakan yang sebentar lagi akan menjadi anak tiri Owen, sibuk menyebar kelopak-kelopak bunga, mengiringi sang pengantin.


Owen tertawa kecil, tatkala mendapati Wayne yang terkejut saat menyadari bahwa keranjang bunganya kini telah kosong. Sang kakak dengan bijaksana mempersilakan adik kesayangannya untuk mengambil bagian miliknya.


Owen kembali mengalihkan pandangannya pada Caitlyn. Perasaan bahagia dan haru bercampur menjadi satu.


Saat Caitlyn akhirnya sampai di altar, Owen dengan gugup menggenggam tangannya dan membimbing wanita itu untuk berdiri bersebelahan.


"Tanganmu dingin," bisik Caitlyn.


"Kau juga," balas Owen.


Keduanya saling melempar tawa kecil, sebelum kemudian pengambilan sumpah dimulai.


...**********...


Walau hubungan mereka cukup aneh bagi sebagian orang, tetap saja tidak mengurangi kebahagiaan yang dirasakan Owen.


Pria itu menatap Caitlyn yang kini sedang sibuk berbincang dengan sanak keluarga Kenric.


Sesuai dengan yang diinginkan mereka berdua, pernikahan dilaksanakan dengan sederhana. Hanya sekitar dua ratus lima puluh tamu undangan saja yang datang. Itu pun sebagian besar terdiri dari keluarga, staf, serta pengajar saja.


"Pa!" seru Wayne sembari berlari ke arah Owen, yang langsung menggendong tubuh keponakan sekaligus putra tirinya itu.


"Hai, Jagoan. Ada apa?" tanya Owen. Hatinya masih berbunga-bunga tiap kali mendengar panggilan baru tersebut.


"Chloe hilang!" jawab Wayne dengan wajah lucunya.

__ADS_1


"Benarkah? Memangnya, kau tidak menjaga?" tanya Owen sekali lagi.


Wayne sontak menggelengkan kepalanya. "Chloe kakak Wayne. Dia tak perlu dijaga, Pa," katanya dengan nads serius, yang justru mengundang tawa kecil Owen.


"Kau salah, Wayne. Tak peduli adik atau kakak, tugas seorang laki-laki adalah melindungi wanitanya. Jadi, kalau di hilang ...?"


"Aku harus mencarinya!" seru Wayne.


Owen tersenyum. "Baiklah, Papa bantu cari Chloe, oke?"


Mendapat tawaran dari sang ayah tiri, Wayne dengan senang hati menerima. Keduanya pun bergegas pergi menjauhi kerumunan.


Dari jauh, Caitlyn menyaksikan sekali lagi interaksi lucu antara Owen dan kedua anaknya. Terkadang, pria itu lah yang lebih memahami kemauan Chloe dan Wayne dibanding dirinya.


"Owen sangat menyayangi Chloe dan Wayne," celetuk seorang wanita paruh baya pada Caitlyn.


"Iya, Aunty. Mereka bahkan terlihat lebih kompak." Caitlyn tersenyum.


"Beruntung, kau bisa mendapatkan pria seperti Owen, Cait. Sama beruntungnya seperti kakakku, yang telah menemukan seorang putra."


Caitlyn mengangguk setuju. Selama ini Owen memang selalu merasa beruntung ditemukan oleh keluarga Kenric, padahal tidak sepenuhnya benar.


Owen lah yang telah menemukannya dan menerima mereka sebagai orang tua.


...**********...


Malam telah tiba, acara pernikahan mereka pun telah selesai. Kini sepasang pengantin baru itu tengah berada di kamar Chloe dan Wayne, untuk menidurkan mereka.


"Aku akan membuatkan kamar untuk merek berdua secara terpisah," ujar Owen. Maklum saja, selama ini mereka memang tidur di kamar tamu dengan suasana yang sangat membosankan.


"Tidak perlu repot-repot. Anak-anak sudah senang dengan kamar yang sekarang!" sergah Caitlyn tak enak hati.


Mendengar itu, Owen menatap sang istri jengkel. "Sudah kubilang untuk tidak lagi mengatakan hal itu. Ingat, kalian bukan tamu di sini. Bahkan, sejak awal tiba, kalian bukan lah tamu!"


Caitlyn meringis. Dia masih tidak terbiasa dengan perlakuan Owen. "Baiklah, aku akan memberi saran jika itu dapat membantu," ujar wanita itu kemudian.

__ADS_1


Owen tersenyum senang. Pria itu pun kemudian mengajak Caitlyn beristirahat di kamar.


Tak ada kamar masing-masing lagi. Caitlyn kini resmi pindah ke kamar utama yang ditempati Owen.


__ADS_2