Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
8. Hari Pertama Menjadi Seorang Istri.


__ADS_3

Kecanggungan terlihat jelas di wajah Caitlyn, begitu tiba di kamar besar nan megah milik Owen.


"Besok, aku akan meminta orang untuk memindahkan barang-barangmu yang tersisa, jadi ...." Owen lantas menghentikan perkataannya, tatkala mendapati Caitlyn tengah berdiri bak patung lilin di tengah-tengah kamar.


"Cait," panggil Owen.


Caitlyn bergeming. Matanya menatap ragu ranjang besar yang berada di tengah-tengah ruangan.


Menyadari hal tersebut, Owen pun kembali buka suara. "Apa kau keberatan dengan ini? Aku tidak akan memaksa. Kau bisa tidur di sini dan aku akan tidur di sofa saja."


Caitlyn terkesiap. Wanita itu sontak menggelengkan kepalanya pada Owen. "Tidak apa. Aku hanya masih belum terbiasa. Maafkan sikapku," katanya sembari tertunduk lesu.


Owen tersenyum. Pria itu pun meminta Caitlyn untuk datang menghampirinya. "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam," janjinya.


Caitlyn mengangguk. Sekali lagi dia meminta maaf pada Owen, padahal malam ini seharusnya menjadi malam pertama mereka. Namun, wanita itu benar-benar belum siap.


Jangankan melakukan hal tersebut, berciuman setelah pemberkatan saja, Caitlyn sangat canggung.


Ingatannya tiba-tiba kembali pada pagi hari tadi.


Jika mempelai pria kebanyakan menciium bibir sang mempelai wanita setelah sumpah pernikahan selesai, tetapi tidak pada pasangan tersebut.


...**********...


"Maaf, jika aku lancang," ucap Owen, setelah membuka veil yang menytupi wajah Caitlyn.


Caitlyn mengangguk pelan. Kendati begitu, wajahnya terlihat sangat gugup dan sedikit pucat. Hal itu lah yang membuat Owen cukup tahu diri untuk tidak melakukannya dulu.


Alhasil, alih-alih menciium bibir Caitlyn, Owen malah mencium keningnya lama.


...**********...


Perasaan bersalah sebenarnya masih hinggap di hati Caitlyn, tapi mau bagaimana lagi, saat wajah Owen mendekat, dia malah melihat sosok Sean di sana.


Caitlyn tidak ingin perasaannya pada Owen tumbuh karena adanya sosok Sean. Dia ingin semua mengalir apa adanya.

__ADS_1


"Kau sama sekali tidak marah?" tanya Caitlyn dengan nada tak enak hati.


Owen tersenyum simpul. "Tentu tidak. Justru aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu," katanya. "Aku harap, kau tidak marah atau merasa terpaksa dengan adanya pernikahan ini."


Caitlyn menggeleng. "Tentu saja tidak." Keduanya saling melempar senyum manis, sebelum kemudian merebahkan diri di posisi masing-masing. Beruntung, ranjang Owen yang luas membuat hatinya sedikit lega.


Caitlyn pun tidur menyamping, memunggungi Owen yang sudah terpejam.


Akan tetapi, diam-diam Owen membuka matanya kembali. Pria itu memandangi punggung Caitlyn dengan tatapan penuh kerinduan.


Pria itu bahkan memberanikan diri mengulurkan tangannya ke arah Caitlyn. Namun, dengan cepat Owen menariknya kembali. Dia tak ingin Caitlyn terbangun dan salah paham dengan sikapnya.


Kendati hubungan mereka sedikit kaku, tapi Owen berharap, itu tidak berlangsung lama.


...**********...


Caitlyn tengah sibuk menata sarapan pagi, saat Owen bangun dari tidurnya. "Kau memasak?" tanya pria itu.


"Ya. Sudah seharusnya aku membantu mengurus rumah," jawab Caitlyn ramah.


"Pa, kata Ibu, besok kita akan melihat sekolah baruku dan Wayne. Benarkah?" Chloe dengan wajah ceria, langsung mengajukan pertanyaan begitu melihat sosok ayah tirinya datang.


"Tentu saja!" jawab Owen. Pria itu mencium kening Chloe dan Wayne bergantian.


Chloe dan Wayne bersorak senang. Mereka berceloteh panjang lebar soal berapa banyak fasilitas permainan yang ada di sekolah baru tersebut.


"Maaf, mereka memang seperti itu jika sedang senang," ujar Caitlyn tak enak hati.


"Tidak apa. Aku justru senang, karena rumah tak lagi sepi." Owen tersenyum ramah, sembari sesekali mengacak rambut Wayne.


Caitlyn dengan telaten menata setangkup roti berisi daging dan telur mata sapi di atas piring Owen. Tak lupa segelas susu panas dihidangkan di sebelah piringnya. Kata Anna, salah seorang asisten rumah tangga, Owen menyukai susu yang masih panas.


Selain itu, Anna juga memberitahu semua kebiasaan Owen di rumah. Seperti enggan memakan makanan yang tidak dipanaskan, atau lebih menyukai air dingin saat mandi di pagi hari. Pria itu juga tidak menyukai kopi hitam, karena memiliki penyakit GERD.


Untuk yang satu itu, Caitlyn memang sudah mengetahuinya sejak dulu, sebab Sean juga menderita penyakit yang sama.

__ADS_1


Caitlyn mencatat semua informasi dari Anna dengan baik di kepalanya, untuk kemudian diterapkan pada sang suami nanti.


Setelah sarapan, Chloe dan Wayne langsung diambil alih oleh dua asisten rumah tangga mereka. Sementara Owen mengajak Caitlyn berjalan-jalan mengelilingi rumah.


Selama satu bulan tinggal di tempat ini, Caitlyn memang baru menjelajahi lima puluh persen bagian rumah. Dia bahkan baru tahu soal rumah kaca milik sang ibu mertua, saat mengikuti Owen dan kedua anaknya tempo hari.


"Kau yakin tidak ingin menikmati liburan ini?" kata Owen.


Caitlyn mengalihkan pandangannya pada sang suami. "Nanti saja. Untuk saat ini, aku ingin mendekatkan diri pada lingkunganmu, saat kau libur bekerja," jawab wanita itu. Padahal dalam hati, Caitlyn tak ingin menyia-nyiakan liburan bulan madu mereka, bila hubungan ini masih kaku.


"Tidak masalah, kan?" tanya Caitlyn.


Owen tersenyum. "Tidak. Kau memang benar. Kita bisa bersenang-senang bersama anak-anak," katanya.


Keduanya pun tiba di sebuah gudang yang letaknya cukup jauh dari rumah utama.


Mata Caitlyn seketika terbelalak, begitu melihat isi dari gudang itu. Pasalnya, tempat tersebut sama sekali tidak pantas disebut gudang, karena kerapihannya.


"Ini adalah barang-barang antik koleksi mendiang ayah dan ibuku. Sama seperti rumah kaca, aku sempat tidak berani menginjakkan kaki ke sini untuk beberapa lama."


"Ini indah sekali dan lebih pantas disebut museum mini!" celetuk Caitlyn.


Mendengar itu, Owen tertawa kecil. "Aku pun pernah mengutarakannya pada beliau, tetapi beliau menolak, dengan dalih barang-barang koleksinya masih belum banyak."


Caitlyn turut tertawa. Wanita itu pun melangkah perlahan ke dalam gudang. Sekilas, Caitlyn merasa seperti kembali ke era tahun lima puluh sampai tujuh puluhan.


Saat tengah asik memanjakan matanya, wanita itu tak sengaja melihat sebotol red wine yang terbingkai apik di peti kaca.


"Itu adalah Romanee-Conti Burgundy buatan produsen kenamaan Perancis di tahun 1945, dan hanya ada 600 botol di dunia saja." Owen membuka suaranya, saat melihat Caitlyn serius menatap wine tersebut.


"Amazing!" puji Caitlyn. Dari barang-barang tersebut, dia sudah dapat menebak seperti apa anggunnya kehidupan kedua sang mertua.


Caitlyn pun meneruskan langkahnya menuju lemari kaca yang berada di ujung ruangan. Namun, entah bagaimana tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu.


Caitlyn yang tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya pun terjerembab. Akan tetapi, sebelum tubuhnya benar-benar menyentuh lantai marmer yang keras, sepasang tangan kekar sudah lebih dulu memegang pinggang rampingnya.

__ADS_1


__ADS_2