Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
33. Kebenaran.


__ADS_3

Ariana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, saat melihat putra satu-satunya yang tersisa kembali pulang ke rumah. Meski tidak membawa serta Chloe dan Wayne, Ariana tidak keberatan, asal Sean bisa pulang padanya.


Ariana memeluk Sean seerat mungkin sambil menangis tersedu-sedu. Namun, tak ada kata maaf yang terlontar dari mulut wanita itu, padahal jelas-jelas dia sempat menyakiti Chloe dan Wayne.


"Jangan pergi lagi, Nak, jangan perlu lagi dari Mama. Mama tidak memiliki siapa pun selain dirimu," ujar Ariana diiringi tangisannya.


Sean tidak menjawab. Dia bahkan enggan membalas pelukan Ariana. Sang ibu memang terbukti sakit, tetapi entah mengapa, hati Sean sama sekali tidak tersentuh. Kekhawatirannya menguap begitu saja. Pikirannya saat ini malah terus tertuju pada Caitlyn.


"Seharusnya kau membawa Chloe dan Wayne, Sean," ujar Ariana kemudian.


Sean menatap Ariana dingin. "Ibunya berhak bersama mereka."


Arian bungkam. Hatinya gentar melihat tatapan tajam sang putra sulung. Tak ingin menghancurkan momen bahagia ini, Ariana pun memutuskan untuk tidak membahas mereka lagi.


...**********...


Sementara itu, Chloe dan Wayne asyik menempelkan telinga mereka ke perut Caitlyn. Keduanya sudah diberitahu soal adik bayi kembar yang akan lahir.


Chloe yang memang menginginkan adik kembar, girang bukan kepalang. Dia bahkan berteriak-teriak heboh saking senangnya. Namun, sang ibu meminta mereka berdua dan seluruh penghuni rumah untuk tidak memberitahu Owen soal kehamilan ini.


"Bu, kenapa Papa tidak boleh tahu soal adik bayi?" tanya Chloe penasaran.


Caitlyn tersenyum. Tangannya mengelus lembut rambut Chloe. "Nenek sedang butuh Papa. Jika Papa tahu soal adik bayi, Papa pasti akan bingung. Kita tidak boleh membebaninya. Oke?"


Chloe mengangguk mantap, begitu pun dengan Wayne. Chloe tak ingin membahas soal ayah tirinya tersebut lebih lanjut, karena takut akan membuat Caitlyn semakin sedih. Pasalnya, sejak kepergian sang ayah dua hari lalu, ibunya selalu menangis.


Caitlyn pun mencoba tegar demi keempat anaknya. Dia tak ingin berharap banyak soal Owen. Sebab, sejak awal Caitlyn sangat meyakini, bahwa Ariana tak akan melepaskan Owen kali ini.


Hari-hari pun berlalu. Awal-awal kepergian Owen, pria itu sering menghubungi dirinya dan anak-anak. Owen pun rajin menghubungi Laura. Namun, lambat laun pria itu sulit dihubungi. Tak jarang ponselnya tidak aktif.


Wayne sempat rewel karena merindukan ayah sambungnya itu, tetapi Caitlyn masih bisa memberinya pengertian.


Usia kandungan Caitlyn pun semakin besar. Hari ini Caitlyn memeriksakan dirinya di rumah sakit dengan ditemani Aileen, sepupu angkat Owen.


"Hari ini usia mereka sudah memasuki minggu ke dua puluh dua. Berat badan mereka pun sudah mencukupi," ujar Dokter Isabella pada Caitlyn.


Caitlyn tersenyum bahagia menatap layar ultrasonografi hang menampilkan pergerakan kedua bayi kembarnya.


"Apa Anda ingin mengetahui jenis kelamin mereka?" tanya sang dokter.

__ADS_1


Caitlyn mengangguk mantap.


Dokter Isabella pun mulai menggerakkan doppler-nya untuk memeriksa jenis kelamin kedua bayi kembar Caitlyn. Senyum wanita itu mengembang setelah berhasil menemukan.


"Selamat, Anda mengandung bayi laki-laki dan perempuan!"


Mendengar itu, Aileen lah yang pertama kali berseru senang. Dia mengungkapkan kesenangannya akan sang calon keponakan.


Caitlyn pun tak kalah senang. Dia membayangkan bagaimana reaksi Chloe dan Wayne nanti.


Setelah selesai memeriksa, Dokter Isabella pun memberi pesan pada Caitlyn untuk menjaga asupan makanannya, sebab meski kandungannya sehat, tetapi kondisi tubuhnya tidak cukup baik.


Caitlyn mendengarkan dengan saksama. Dia memang sempat sakit selama beberapa hari karena terlalu banyak bekerja di kampus. Alhasil, Aileen memaksanya untuk mengambil cuti lama tanpa batas.


Dokter Isabella pun menambahkan resep vitamin untuk Caitlyn.


...***...


"Sampai kapan kau akan bertahan tanpa memberitahunya, Cait?" tanya Aileen begitu mereka tiba di mobil.


Caitlyn terdiam sejenak. "Entahlah. Akhir-akhir ini dia sulit sekali dihubungi, jadi aku tak ingin berusaha dan berharap.


Mendengar itu, Aileen berdecak kesal. "Kau tak boleh egois Cait. Anak-anakmu butuh ayahnya. Pikirkan kebahagiaan mereka kelak."


"Hubungilah dia, dan katakan kau hamil. Urusan dia bisa pulang atau tidak, bisa belakangan. Justru, hal tersebut mungkin saja bisa memancing keinginan Owen untuk pulang," kata Aileen.


"Aku tak ingin dia pergi meninggalkan ibunya demi aku," ujar Caitlyn.


"Cait." Aileen menatap Caitlyn dengan raut wajah kesal.


Caitlyn mengembuskan napasnya pasrah. "Baiklah, nanti malam aku akan mencoba meneleponnya."


...**********...


Seperti yang sudah dijanjikan Caitlyn sebelumnya, dia pun mencoba menghubungi ponsel Owen. Namun, lagi-lagi ponselnya tidak aktif.


"Tidak aktif." Kata Caitlyn dengan wajah mendung.


"Telepon rumahnya," titah Aileen yang juga berada di sana. Dia dan Laura memang sering tinggal di sana untuk menemani Caitlyn, sembari membantunya mengurus anak-anak.

__ADS_1


Caitlyn meringis. Sejak kejadian tempo hari, Caitlyn tak lagi mau menghubungi kediaman keluarga Edmund. Namun, atas desakan Aileen, dia pun akhirnya menekan nomor telepon rumah tersebut.


Benar saja, baru sekali mencoba, seseorang sudaj mengangkatnya.


"Dengan kediaman keluarga Edmund di sini."


Caitlyn meneguk ludahnya gugup. Wanita hamil itu mengelus perutnya sejenak, sebelum membuka suara. "Apa Tuan Owen ada?" tanya Caitlyn.


"Tuan Owen? Maaf, beliau sedang keluar. Kalau boleh tahu ini dengan siapa?" tanya orang tersebut.


Caitlyn menimbang-nimbang sejenak. Haruskah dia jujur atau berbohong. "Ini dari Caitlyn. Kalau begitu bisa tolong sampaikan pesan untuk menghubungi saya, bila beliau sudah pulang?" Caitlyn akhirnya memutuskan untuk jujur.


Tak ada tanggapan dari seberang. Hanya ada suara grasak-grusuk yang cukup mengganggu.


"Halo," panggil Caitlyn.


"Berani sekali kau menghubungi putraku!"


Caitlyn tersentak kaget mendengar suara lantang seorang wanita. Sudah pasti dia adalah Ariana.


"Ma," panggil Caitlyn.


"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikan itu, dan jangan pernah menghubungi Owen lagi!" seru Ariana marah.


Mata Caitlyn sontak berkaca-kaca. Aileen yang melihat, segera mendekati Caitlyn untuk memeluk pindaknya.


"Ma, aku hanya ingin bicara pada Owen sekali saja. Setelah itu, aku tidak akan menghubunginya lagi," pinta Caitlyn dengan nada lirih.


"Omong kosong! Asal kau tahu saja, wanita siaal, Owen tak akan lagi mau menemui dirimu!"


"Kenapa Ma? Owen suamiku," ujar Caitlyn.


Ariana terdengar tertawa. "Kau yakin?" tanyanya.


Caitlyn mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan aneh tersebut. "Yakin? Apa maksud Mama?" tanyanya kemudian.


"Ya, apa kau yakin yang kau nikahi itu Owen? Dan apa kau juga yakin ayah dari Chloe dan Wayne adalah Sean?"


Caitlyn semakin merasa aneh dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Ariana padanya. Dia pun meminta sang ibu mertua untuk menjelaskan lebih lanjut.

__ADS_1


Ariana terdiam sejenak. Dia yang sudah muak dengan Caitlyn akhirnya membeberkan segalanya. Tak peduli bila Sean akan marah. Sebab tujuannya hanya satu, yaitu agar Caitlyn berhenti menghubungi putranya tersebut.


"Tahukah kau selama ini, bahwa mereka telah menipumu. Sean yang kau anggap telah mati, dan ayah dari Chloe dan Wayne sebenarnya adalah Owen. Sementara Owen yang baru saja kau nikahi adalah Sean!"


__ADS_2