
Caitlyn tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya menggenggam tangan ringkih Jacob yang sedang tertidur nyenyak. Hatinya terasa nyeri, tarkala mendapati kondisi memperihatinkan sang ayah mertua.
Tidak ada tubuh tegap yang tersisa di sana. Kini, hanya ada tulang berbalut kulit yang tampak jelas di tubuhnya.
Dibandingkan dengan Ariana, perlakuan Jacob padanya dulu memang jauh lebih baik. Walau Jacob akhirnya lebih sering menuruti perintah Ariana untuk memusuhi dirinya.
Caitlyn tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Terlebih, biar bagaimana pun juga, Jacob pernah menjadi mertuanya, (bahkan hingga detik ini, mereka sebenarnya masih menjadi mertua Caitlyn), dan sudah sepatutnya sebagai anak, Caitlyn turut bersedih.
Dia pasti akan merasakan hal yang sama juga, jika itu terjadi pada Ariana.
Tak ingin mengganggu tidur Jacob, Caitlyn berniat pergi meninggalkan kamarnya. Wanita itu dengan hati-hati melepaskan genggaman tangannya pada sang mertua. Namun, tiba-tiba saja tangan Jacob bergerak. Kedua matanya bahkan terbuka.
"Caitlyn, kau kah itu?" tanya Jacob. Suaranya lemah nyaris tidak terdengar.
Caitlyn mengangguk cepat. Air mata yang sedari tadi tertahan pun, luruh seketika. "Iya, Pa, ini Caitlyn."
Raut wajah Jacob sontak berubah. Bak anak kecil, pria tua itu menangis tersedu-sedu. Suara tangisannya hilang dan timbul tak beraturan.
"Maafkan Papa!" seru Jacob. Kini, tangannya yang gemetaran berusaha menggapai wajah Caitlyn.
Caitlyn membimbing tangan Jacob menuju pipinya. "Jangan menangis, Pa. Caitlyn lah yang seharusnya meminta maaf, karena tidak mengetahui kondisi Papa."
Jacob memejamkan matanya. Sambil meenggeleng dia berulang kali meminta maaf.
Dibantu James dan seorang perawat yang menjaga, mereka berusaha menenangkan emosi Jacob yang mulai tidak stabil.
Tak lama, Jacob pun tertidur sembari menggenggam tangan Caitlyn.
"Kembalilah sehat, Pa," bisik Caitlyn lembut, seraya mendaratkan kecupan ringan di kening Jacob. Perlahan, dia pun mulai melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan sang ayah mertua.
"Biarkan Chloe dan Wayne tetap di sini, dan kau tak perlu menemani mereka!"tegas Ariana. Keduanya kini tengah berada di luar kamar Jacob.
"Aku mengerti, Ma. Aku akan mengajak anak-anak bicara," jawab Caitlyn.
Tanpa berkata apa-apa, Ariana pun pergi meninggalkan Caitlyn seorang diri.
__ADS_1
Caitlyn terdiam sesaat. Matanya sibuk memandangi setiap jengkal rumah tersebut. Rumah yang pernah dia diami selama kurang lebih delapan tahun.
Ada banyak figura foto yang terpajang di dinding rumah mewah ini. Salah satunya adalah foto Sean dan Owen berukuran cukup besar.
Satu hal yang Caitlyn sadari adalah, tak ada satu pun foto dirinya. Sejak dulu, dia memang tidak pernah mendapat bagian di mana pun. Bahkan, foto pernikahannya dengan Sean saja tidak diperkenankan terpampang, selain hanya di kamar pribadi mereka.
Caitlyn melangkah pelan menuju satu-satunya tempat yang memiliki banyak kenangan indah, yaitu kamar pribadi Sean.
Begitu pintu kamar terbuka, tangis Caitlyn pecah. Kamar itu masih dibiarkan sama dengan yang terakhir kali dia lihat. Bahkan, foto pernikahan mereka pun masih terpasang apik di atas ranjang besar itu.
Caitlyn melangkah lebih dalam menuju lemari pakaian Sean.
Wangi parfum khas milik mendiang sang suami, sontak tercium di setiap helai pakaiannya.
Caitlyn mengambil salah satu jas kerja yang sering Sean gunakan dulu, lalu memeluknya seerat mungkin. "Biarkan aku mengenangmu untuk yang terakhir kali," gumamnya lirih.
...**********...
Owen memandang cemas ponselnya yang belum juga berbunyi. Pasalnya, janji sang istri untuk langsung menghubungi, setelah mendarat di John F. Kennedy Airport, tak kunjung terlaksana.
Teleponnya bahkan tidak diangkat. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Owen cemas.
Tanpa membuka pesan tersebut, Owen langsung menelepon wanita itu.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau tak langsung menghubungiku, Cait? Aku mengkhawatirkan dirimu!" seru Owen, sedetik setelah Caitlyn mengangkat teleponnya.
"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit perdebatan dengan Mama tadi, tapi semua sudah baik-baik saja." Dari balik telepon, Caitlyn berkata lembut.
"Syukurlah. Lalu, bagaimana dengan anak-anak? Apa alasan mereka menjemputnya tanpa izin?" tanya Owen kemudian.
Hening melingkupi keduanya sesaat. "Cait," panggil Owen.
"Besok aku akan pulang dan menjelaskan semuanya di rumah ... Omong-omong, di sana sudah pukul dua belas malam, bukan? Beristirahatlah. Tak perlu mencemaskan apa pun. Anak-anak juga baru saja tertidur."
Owen mengangguk. Helaan napas penuh kelegaan keluar dari mulut pria itu. "Baiklah, sampaikan salamku untuk anak-anak. Aku mencintaimu."
__ADS_1
"Aku juga."
Caitlyn menutup sambungan telepon terlebih dulu. Wanita itu sengaja tidak ingin memberitahu alasan sebenarnya melalui telepon.
Baginya, hal penting seperti ini harus dibicarakan langsung.
Caitlyn mengalihkan pandangannya pada Chloe dan Wayne yang baru saja tertidur. Wanita itu kembali mengingat percakapannya dengan Chloe soal kepulangan mereka berdua yang tertunda.
Butuh segenap usaha bagi Caitlyn untuk meyakinkan Chloe dan Wayne, agar mau menetap lebih lama di sana tanpa dirinya.
...**********...
"Aku tidak mau, kalau tidak bersama Ibu!" seru Chloe marah. Gadis itu menolak mentah-mentah permintaan sang ibu untuk tetap tinggal di rumah nenek mereka, meski untuk menemani sang kakek yang sedang sakit.
"Chloe, dengar! Kakek membutuhkan kalian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kakek selanjutnya, dan Ibu tidak mau membuat kalian menyesal nantinya," ujar Caitlyn seraya memegang kedua pundak Chloe.
"Tapi, Nenek tidak sepenuhnya baik, Bu. Aku dan Wayne takut!" balas Chloe. Matanya menatap sang ibu, berharap beliau dapat mengerti.
"Nenek bukan orang jahat, Sayang. Beliau memang terlihat demikian dengan ibu, tapi tidak dengan kalian, Nak. Bukankah sejak dulu Ibu selalu mengajarimu untuk menghormati siapa pun?"
Chloe tertunduk, lalu mengangguk singkat.
"Hanya sampai kondisi kakek lebih baik saja, setelah itu Ibu berjanji akan menjemput kalian pulang." Sepenggal janji terucap di bibir Caitlyn.
Chloe dengan sigap memeluk tubuh sang ibu lagi. Wayne pun demikian. "Janji ya, Bu? Ibu harus datang menjemput aku dan Wayne lagi!" pinta Chloe parau.
Caitlyn mengangguk. Diciumnya kening sang putra-putri tercinta.
...**********...
Keesokan harinya, Caitlyn benar-benar kembali ke London. Diiringi isak tangis Chloe dan Wayne, wanita itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Edmund.
"Jangan pergi, Bu!" teriak Wayne. Bocah kecil itu memberontak. James bergegas menggendong Wayne dan menenangkan dirinya.
Di dalam taksi, Caitlyn menutup mulutnya rapat-rapat. Dia berusaha tidak menoleh ke belakang lagi, agar keteguhan hatinya tetap terjaga.
__ADS_1
Entahlah, Caitlyn sendiri sebenarnya merasa tidak enak hati meninggalkan mereka di sana. Padahal jelas-jelas mereka bukan orang asing.
"Dua minggu saja. Bertahanlah selama dua minggu, dan Ibu akan kembali ke sini," gumam wanita itu.