
"Ajari aku." Sekali lagi Caitlyn mengeluarkan suaranya. Dia berusaha meyakinkan Owen, bahwa dirinya telah siap.
Detak jantung Owen semakin berdebar keras. Sebagai pria normal, dia tentu memahami ke mana arah pembicaraan Caitlyn sebenarnya. Namun, bukan itu lah yang Owen inginkan semata. Owen tidak ingin hanya sekadar raga saja yang salimg dimiliki, melainkan hati juga.
Perlahan, Owen membuka tautan tangan Caitlyn dan melepaskan diri. "Sekali lagi aku meminta maaf, karena sudah membuatmu marah," ucap Owen, sebelum kemudian pergi meninggalkan Caitlyn sendirian di sana.
Caitlyn termangu sesaat. Dia seperti pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Wanita igu lagi-lagi ditinggalkan. Dia lagi-lagi merasakan kekosongan. Bahkan kini berkali-kali lipat lebih menyakitkan.
Sementara itu, Owen sengaja mengurung dirinya di ruang kantor malam ini. Dia sudah berniat untuk bermalam di sana saja, dari pada harus kembali ke kamar tidur dan bertemu dengan Caitlyn.
Alih-alih bersama sang istri, pria itu merasa seperti hidup bersama wanita lain yang masih mencintai prianya.
"Aku mencintaimu, Sean."
Owen refleks memegang dadanya yang mulai terasa sakit kembali. Batinnya memberontak, menyuruh Owen untuk mengatakan semua pada Caitlyn. Namun, hati pria itu melarangnya keras.
Mencoba menenangkan diri, Owen memutuskan untuk tidur lebih cepat di sofa ruang kerjanya.
...**********...
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, ketika Owen belum juga kembali dari ruang kerjanya.
Caitlyn cemas. Kakinya tidak mau diam. Dia berjalan ke sana kemari di depan pintu kamar hanya untuk menunggu kedatangan Owen. Namun, kegiatannya terasa sia-sia.
Akhirnya wanita itu pun memutuskan untuk pergi menyusul sang suami ke sana.
Alangkah terkejutnya Caitlyn, begitu mendapati ruang kerja Owen dalam kondisi berantakan. Ada banyak kertas-kertas yang Caitlyn sendiri tidak tahu isinya, bergelimpangan di lantai. Sementara Owen tertidur di sofa.
Caitlyn perlahan memunguti satu persatu kertas tersebut dan menyusunnya kembali ke meja. Dia juga menata kembali kursi kerja Owen, dan menaruh dua cangkir kopi yang telah kosong ke dapur, sebelum akhirnya menghampiri sang suami.
Caitlyn mengernyitkan dahinya, saat menyadari suara lirih yang dikeluarkan Owen. Ternyata pria itu sedang merintih kesakitan.
"Ada apa? Apa yang kau rasakan?" tanya Caitlyn panik.
Owen tidak menjawab, tetapi tangan pria itu mencengkerem keras perutnya.
__ADS_1
Caitlyn tersentak. Dia baru ingat ada dua cangkir kopi yang telah kosong di atas meja kerja Owen.
Panik, Caitlyn berteriak hingga membangunkan beberapa asisten rumah tangga yang telah beristirahat. Mereka berbondong-bondong menghampiri Caitlyn yang ternyata berada di ruang kerja Owen.
"Ada apa Nyonya?" Merry, asisten rumah tangga tertua di rumah itu, masuk ke dalam ruang kerja Owen terlebih dahulu.
"Tolong!" seru Caitlyn.
Merry berlari mendekati Owen, lalu meminta rekan kerjanya menghubungi Dokter Benington untuk datang ke rumah.
Dibantu dua orang penjaga rumah, Owen dipindahkan ke kamar pribadinya.
Tak sampai setengah jam, dokter keluarga Kenric datang ke rumah. Beliau memberikan obat untuk meredakan sakit Owen.
"Selain kopi, hindarkan Tuan Owen mengonsumsi makanan dan minuman seperti alkohol, susu, pedas, berlemak, cokelat, dan mint," pesan dokter Benington pada Caitlyn, setelah beliau selesai memeriksa.
"Baik, dok. Lalu, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Caitlyn khawatir.
"Saya sudah memberikan obat Antasida padanya. Segera bawa ke rumah sakit, bila besok keadaan Tuan Owen belum membaik."
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya Kenric," pamitnya.
Caitlyn pun mempersilakan sang dokter untuk pergi keluar dari kamar ditemani oleh Anna.
Mereka yang tersisa akhirnya membubarkan diri, guna membiarkan kedua majikan mereka untuk beristirahat.
Caitlyn lantas naik ke atas ranjang, tepat di sebelah Owen. Tangan lentiknya terulur untuk membuka satu kancing kemeja Owen. Pria itu pasti tidak nyaman tidur dengan pakaian demikian. Namun, Caitlyn tidak berani membantunya berganti pakaian.
Setelah memastikan Owen tertidur dengan nyaman, Caitlyn memberanikan diri tidur sembari memeluk lengan pria itu.
"Maafkan kelakuanku tadi. Kau begini karena aku," bisik Caitlyn lirih, sebelum akhirnya ikut memejamkan mata.
Owen menatap jam dinding kamarnya begitu membuka mata. Pria itu mendengkus, tatkala menyadari bahwa Caitlyn tertidur sambil memeluk pinggangnya erat. Pantas saja pria itu merasa kesulitan bergerak
Owen tersenyum. Matanya memandangi tiap lekuk wajah cantik sang istri.
__ADS_1
Owen harus menahan posisinya selama lebih dari lima menit lagi, sebelum akhirnya Caitlyn terbangun dari tidur lelapnya.
"Pagi," sapa Owen lembut.
Caitlyn mendongakkan kepalanya. Sadar akan jarak mereka yang terlalu dekat, Caitlyn refleks melepaskan diri. "Maafkan aku! Kau pasti kesakitan, kan?" tanyanya panik.
Owen menggeleng. "Hanya kesemutan saja," jawabnya jenaka.
Caitlyn meringis. "Maaf, aku sama sekali tidak sadar," sesalnya.
Owen sekali lagi menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa. Justru aku lah yang berterima kasih, karena kau sudah mau memeluk tubuhku semalaman."
Caitlyn sedikit salah tingkah. "Bagaimana lambungmu sekarang?" kata wanita itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jauh lebih baik." Jawab Owen.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi," pinta Caitlyn memelas. "Aku mengkhawatirkanmu," sambungnya malu-malu.
Owen mengangguk. "Aku senang dikhawatirkan olehmu," katanya.
Caitlyn tidak menanggapi perkataan Owen barusan. Gadis itu lebih memilih bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan diri. Namun, tangan Owen tiba-tiba menahan tangannya. "Bisakah kita seperti ini lebih lama?" pinta Owen.
Caitlyn terdiam. Semburat merah menghiasi wajah cantiknya. "Baiklah, tapi setelah aku cuci muka dan gosok gigi dulu. Kau pun demikian." Tanpa menunggu jawaban Owen, Caitlyn bergegas pergi ke kamar mandi.
Dalam waktu sepuluh menit, Caitlyn sudah kembali dari dalam kamar mandi dengan wajah lebih segar. Di tangan wanita itu terdapat selembar handuk kecil, baskom kecil berisi air hangat, beserta sikat dan pasta gigi milik Owen.
Caitlyn dengan telaten membantu Owen mencuci wajah dan menyikat giginya. Setelah selesai, dia menyeka wajah dan mulut Owen, sebelum kemudian mengembalikan barang-barang tersebut ke tempat semula.
Caitlyn terkejut, begitu mendapati Chloe dan Wayne tengah memeluk Owen saat keluar dari kamar mandi. Mereka berdua rupanya hendak berpamitan untuk berangkat ke sekolah.
"Cepat sembuh, Pa. Aku ingin bermain dengan Papa lagi," ucap Chloe penuh harap. Sebuah kecupan manis tak lupa diberikan gadis itu pada sang ayah tiri.
"Papa sehat, Wayne ingin bermain bersama Papa." Wayne turut mengatakan hal yang sama.
"Siap!" seru Owen jenaka. Ketiganya saling melempar tawa kecil.
__ADS_1
"Kalian hanya memeluk Papa saja, sedangkan Ibu tidak dipeluk." Suara Caitlyn kemudian terdengar. Kedua anak tersebut lantas berlari menuju sang ibu dan memelukny erat. Mereka tetap berada di sana selama lima menit sebelum pamit pergi ke sekolah.