
Waktu seolah berhenti sejenak, ketika tiba-tiba jarak wajah mereka menjadi begitu sangat dekat. Caitlyn yang selama ini berusaha untuk tidak saling bertatapan, kini melihat jelas bagaimana sorot mata Owen.
Caitlyn terpana, jantungnya saat ini bahkan berdegup kencang. Namun, bukan karena melihat sosok Owen, melainkan Sean, sang suami tercinta.
"Sean." Tanpa sadar Caitlyn memanggil Owen dengan nama mendiang sang suami. Wanita itu sejenak lupa, bahwa pria yang ada di hadapannya kini adalah Owen, sang adik kembar Sean, yang juga baru saja resmi menjadi suaminya kemarin.
Mendengar panggilan Caitlyn, raut wajah Owen berubah pilu. Pria itu bergegas menegakkan tubuh sang istri, sebelum kemudian melepaskan dirinya.
Caitlyn tersentak kaget. "Owen," panggilnya.
"It's oke, Cait. Aku memahami perasaanmu," ujar Owen seraya tersenyum. Namun, entah mengapa, Caitlyn bisa merasakan bahwa senyuman itu tidak sampai pada mata sang suami.
Seolah tidak terjadi apa-apa, Owen kembali menjadi tour guide dadakan Caitlyn. Meski suasana di antara mereka tak lagi secerah sebelumnya.
Puas menjelajahi gudang -yang sebenarnya ebih pantas disebut museum mini-, keduanya pun kembali ke dalam rumah.
Melihat kedatangan kedua orang tuanya, Chloe dan Wayne langsung berlari menghampiri. Mereka dengan sangat antusias menceritakan kembali film anak-anak yang baru saja selesai ditonton.
"Kalian senang?" tanya Owen.
Chloe dan Wayne kompak menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, bagaimana jika nanti malam, kita pergi menonton bioskop bersama?"
Mendengar tawaran paman sekaligus ayah barunya, kedua anak tersebut langsung mengiyakan. Mereka saling berceloteh soal film yang kira-kira akan ditonton.
Caitlyn yang tengah bersimpuh di sebelah Owen, tersenyum memandangi interaksi mereka. Namun, disaat bersamaan perasaan bersalah kembali hadir.
Owen sangat menyayangi Chloe dan Wayne. Dari sebelum menikah, dia memang tidak pernah menganggap mereka hanya sebagai keponakan saja.
Sementara dirinya? Sulit sekali membedakan antara Owen dan Sean. Hampir disetiap saat, Caitlyn selalu saja melihat sosok Owen sebagai Sean yang telah tiada.
Caitlyn mencoba mengulurkan tangannya untuk menyentuh Owen, tetapi pria itu malah bergerak menggendong kedua anak mereka.
"Kalau begitu, setelah makan siang nanti, kalian harus tidur siang terlebih dulu," titah Owen.
Buru-buru Caitlyn ikut bangkit dari posisinya. Mata wanita itu menatap punggung tegap Owen dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
Setelah makan siang usai, baik Caitlyn dan Owen segera mengantar kedua anak mereka ke kamar, untuk tidur siang.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memastikan bahwa kedua bocah itu telah terlelap.
"Beristirahat lah, aku akan sibuk di ruang kantor," ucap Owen, saat keduanya baru saja keluar dari kamar tersebut.
Caitlyn mengangguk. "Kau butuh sesuatu? Aku akan membuatkannya. Mungkin secangkir teh jahe dan co—"
"Cait!" potong Owen. "Aku hanya butuh menyelesaikan pekerjaanku sebentar. Tidak akan lama," sambungnya sembari tersenyum simpul.
Tanpa menunggu respon darinya, pria itu sudah melangkah pergi.
Caitlyn terdiam. Rasanya ada sesuatu yang hilang seiring kepergian Owen.
"Maafkan aku," gumam wanita itu lirih.
...**********...
Owen segera mendudukkan dirinya di kursi ruang kerja. Kepalanya terdongak, menatap langit-langit ruangan dengan raut wajah mendung.
Owen sebenarnya tahu, bahwa selama ini Caitlyn memang selalu melihatnya sebagai sosok Sean. Namun, tak pernah sekali pun dia sampai salah memanggil seperti itu.
Selama ini Owen berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi tidak dengan hari ini. Dipanggil secara terang-terangan ternyata membawa hati Owen pada lubang rasa sakit yang teramat dalam.
Owen yang semula yakin dapat menjalani rumah tangga dengan harmonis bersama Caitlyn, mendadak ragu. Sebab, bisa saja hanya dia yang berjuang untuk sampai ke tahap itu.
Owen sontak menegakkan dirinya. Perlahan dia membuka laci meja dan mendapati sebuah dompet hitam usang di dalam sana.
Dengan sangat hati-hati, pria itu membuka dompet tersebut. Terdapat satu lembar foto usang yang tersemat di dalam dompet tersebut. Itu adalah foto berisi dirinya, Sean, dan Caitlyn, yang diambil tepat sebulan sebelum dia menghilang.
"Lihat aku, Cait," ucap Owen sembari mengelus potret manis Caitlyn. Namun, wajahnya seketika berubah dingin saat melihat pria yang berdiri di sisi lain Caitlyn.
Dada Owen sontak bergemuruh. Dalam hati dia bersumpah tidak akan pernah memaafkan kembarannya tersebut, meski dia harus berkubang dalam neraka sekali pun.
...**********...
Caitlyn tersenyum lebar, setelah meletakkan piring terakhirnya di meja. Malam ini dia memang sengaja memasak banyak makanan, sebagai wujud permintaan maafnya pada Owen secara tidak langsung.
__ADS_1
Tak lama kemudian Owen datang menghampiri meja makan dengan wajah terkesiap. "Ada acara apa?" tanyanya penasaran.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menghabiskan energi di dapur. Anggaplah ini acara khusus, sebelum pergi menonton bioskop," kilah Caitlyn.
Owen tersenyum. Dia duduk dan mengucapkan terima kasih pada Caitlyn. Keempatnya kemudian makan dengan suasana menyenangkan.
Seperti yang sudah dijanjikan Owen, mereka pun bersiap-siap untuk pergi menuju bioskop.
Owen sudah memesan tiket secara online tadi, jadi, mereka tak perlu pergi terburu-buru.
Caitlyn terlihat berlari menuju kamarnya setelah selesai mengurus Chloe dan Wayne. Wanita itu lupa menyiapkan pakaian Owen, karena terlalu sibuk dengan kedua putra-putrinya.
Caitlyn mempercepat langkahnya, sebelum Owen keluar dari kamar mandi. Namun, saat dirinya membuka pintu kamar mereka, pemandangan luar biasa tertangkap indera penglihatan Caitlyn.
Pasalnya, Owen dengan tubuh hanya terlilit handuk, sedang sibuk memilah-milah pakaian di dalam lemari.
Caitlyn salah tingkah, dia hendak pergi dari kamar saat itu juga. Namun, sang suami ternyata sudah terlanjur memergokinya.
Caitlyn tak bisa melarikan diri. Setelah insiden di gudang tadi, dia tidak ingin membuat Owen tersinggung lagi. Jadi, seolah tidak terpengaruh, Caitlyn berjalan mendekati Owen dan membantunya mengambil pakaian.
"Maaf, aku terlalu sibuk mengurus Chloe dan Wayne tadi," kata Caitlyn tanpa menatap Owen.
"Tidak apa-apa." Jawab Owen. Pria itu tengah menahan senyumnya, ketika menyadari raut kegugupan di wajah Caitlyn. Dia yakin sekali, wanita itu sedang berusaha tidak menatap matanya.
"Cait," panggil Owen.
"Ya, apa ada yang kau butuhkan lagi?" tanya Caitlyn sembari tertunduk. Dalam hati, dia berusaha menghilangkan ingatan akan tubuh atletis Owen, yang sempat tertangkap matanya.
"Cait," panggil Owen sekali lagi.
"Y—ya!" seru Caitlyn jengkel.
Owen mengembuskan napasnya. "Aku baru tahu, kau lebih senang menatap kakiku saat sedang bicara," kelakarnya.
Caitlyn semakin salah tingkah. "Aku harus bersiap juga. Keluarlah jika sudah selesai berganti pakaian!" Tanpa menoleh ke arah Owen, Caitlyn berlari secepat kilat ke kamar mandi.
Owen tertawa kecil. "Cepatlah berpaling padaku," gumam pria itu.
__ADS_1