Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
32. Tak Terduga.


__ADS_3

Demi menghilangkan kerinduan, Caitlyn mengajak Chloe dan Wayne untuk tidur bersama mereka di kamar.


Wanita itu sama sekali tidak melepaskan pandangannya sedikit pun pada Chloe dan Wayne, yang sudah tertidur pulas di tengah-tengah dirinya dan sang suami. Dia bahkan seolah enggan terpejam padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Kau tidak tidur?" tanya Owen dengan suara pelan.


Caitlyn menggeleng. "Aku masih belum puas memandangi mereka," jawabnya. "Terima kasih karena sudah membawa mereka pulang dengan selamat." Sambung wanita itu.


Owen menganggukkan kepalanya.


"Tapi, bagaimana dengan Mama? Beliau pasti marah besar mengetahui kalian pergi begitu saja meninggalkannya. Mama pasti merasa kesepian di sana," ujar Caitlyn tak enak hati.


"Tidak masalah. Dia pasti akan mengerti dan menghubungiku. Aku akan berusaha melunakkan hatinya, agar hidup kita tak perlu terbebani seperti ini." Owen mengelus lembut tangan sang istri yang tengah menepuk-nepuk kepala Wayne. Pria itu kemudian mencium tangannya selama mungkin.


Caitlyn tersenyum. Dia membalas perlakuan Owen sama besarnya. Dalam hati, dia tak henti-hentinya mengucapkan syukur karena mendapatkan dua hadiah manis, yaitu kepulangan mereka dan kehamilannya.


Omong-omong soal kehamilannya, Caitlyn berencana akan membuat momen terindah saat memberitahu mereka nanti. Jadi, untuk sekarang dia menahan kabar baik itu terlebih dahulu.


...**********...


Sementara itu, Ariana yang mengetahui kepergian putra dan kedua cucunya secara diam-diam, mengamuk sejadi-jadinya. Dia memerintahkan James untuk segera membawa kembali Sean, Chloe, dan Wayne pulang.


Akan tetapi, alih-alih menuruti perintah Ariana, James justru memberinya nasihat untuk membiarkan putra satu-satunya itu bahagia.


"Saat ini satu-satunya keluarga yang Anda miliki hanyalah Tuan Sean, Nyonya. Bukankah seharusnya Anda bisa berdamai dengan semua yang telah terjadi, dan membiarkan dia bahagia dengan pilihannya? Sebab, biar bagaimana pun juga, Nyonya Caitlyn sekarang adalah istri dari Tuan Sean."


Mendengar kalimat panjang yang terlontar dari mulut James, malah membuat hati Ariana semakin terbakar.


"Tahu apa kau soal kebahagiaan putraku! Aku ibunya! Aku lah yang lebih tahu kebahagiaan seperti apa yang Sean butuhkan, dan wanita itu hanya bisa membawa kebahagiaan semu bagi mereka berdua!" bentak Ariana.


"Wanita itu lah yang telah menghancurkan hubungan kedua putraku, dan aku tidak akan membiarkan dia melakukannya lagi padaku dan Sean!" sambungnya keras.


James menghela napas. Ariana memang sosok yang sangat keras kepala dan sulit dibantah. Dia akan melakukan apa pun demi mendapatkan apa yang diinginkan.


"Oke, kalau kau memang tidak ingin membantuku, aku akan meminta bantuan orang lain. Namun, bukan untuk membawa pulang mereka bertiga saja, tetapi juga untuk melenyapkan Caitlyn. Itulah satu-satunya cara yang tersisa agar Sean bisa kembali padaku."


James tersentak mendengar ancaman Ariana. Raut wajah wanita itu terlihat sinis. Namun, sedetik kemudian, tangisannya pecah. Ariana meraung-raung memanggil nama Sean dan kedua cucunya.


James berusaha menenangkan Ariana dengan memapahnya kembali ke kamar. Namun, sesaat setelah mereka tiba di kamar, Ariana jatuh tersungkur ke lantai.


"Nyonya!" pekik James. Pria itu segera berteriak memanggil para penghuni rumah.


Tak butuh waktu lama, James pun melarikan Ariana ke rumah sakit terdekat.

__ADS_1


"Nyonya Ariana terkena serangan jantung. Tekanan darahnya juga berada di 170/110 mmHg. Beruntung beliau bisa segera dibawa ke rumah sakit, jadi bisa langsung tertangani dengan baik," ujar salah seorang dokter jaga di sana.


James mendengarkan penjelasan sang dokter dengan saksama.


"Untuk dua sampai tiga hari kedepan biarkan Nyonya Ariana menjalani perawatan di sini terlebih dahulu. Jangan biarkan beliau banyak berpikir, karena Nyonya Ariana memiliki resiko tinggi mengalami stroke," pesan sang dokter.


James mengangguk dan berterima kasih padanya.


Pria paruh baya itu kemudian menghela napas panjang. Keputusannya untuk tidak menuruti perintah Ariana sepertinya tidak bisa terlaksana.


...**********...


Dua hari kemudian.


Seperti yang telah direncanakan Caitlyn sebelumnya, malam ini dia berniat untuk memberikan Owen, Chloe, dan Wayne kejutan atas kehamilannya.


Sejak sore wanita itu sudah sibuk berkutat di dapur untuk memasak bersama beberapa asisten rumah tangganya. Demi melancarkan rencananya, dia juga menyuruh Anna untuk membawa Chloe dan Wayne jalan-jalan ke luar terlebih dahulu.


Tepat satu jam sebelum mereka pulang, Caitlyn bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian.


Wanita itu juga menyiapkan sebuah kotak kecil yang akan menjadi persembahan utamanya.


Kotak tersebut berisi foto usg bayi kembarnya, dan juga dua pasang sepatu bayi berbeda warna. Caitlyn memilih warna netral karena kedua jenis kelamin bayi-bayinya belum bisa diprediksi.


Beruntung bagi Caitlyn, sebab selama ini dia tidak mengalami kehamilan yang sulit. Tak ada rasa mual atau pun lemas seperti dua kehamilan sebelumnya. Jadi, dia masih bisa beraktivitas seperti biasa.


Caitlyn tersenyum menyambut kedatangan kedua putra putrinya ke rumah. Mereka nampak berbinar-binar mendapati hidangan makan malam yang mewah dan menggugah selera.


"Ada acara apa Ma?" tanya Chloe penasara. Pasalnya, bukan hanya hidangan saja yang terdapat di sana, melainkan lilin-lilin dan beberapa balon yang dipasang di sudut ruang meja makan.


"Rahasia." Jawab Caitlyn jenaka.


Chloe merajuk, lalu tertawa setelah sang ibu menggelitik dirinya.


"Kita tunggu papa pulang dulu, oke?" kata Caitlyn.


Chloe dan Wayne serempak menganggukkan kepala. Selagi menunggu Owen pulang, Caitlyn pun menyuruh mereka untuk mandi dan berganti pakaian.


Saat itu lah, Caitlyn meletakkan kotak yang dia bawa ke tengah-tengah meja makan.


Tak sampai setengah jam kemudian, suara mobil Owen terdengar di depan pintu. Caitlyn bergegas bangkit dari kursi makan guna menyambut kedatangan suaminya. Namun, alih-alih mendapati raut ceria sang suami, dia malah melihat ketegangan di sana.


Mereka hampir saja bertabrakan, karena Owen berjalan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Owen, ada apa?" tanya Caitlyn. Wanita itu melirik Laura yang berdiri di belakang Owen.


Owen menatap Caitlyn dengan raut wajah aneh, dan itu membuat perasaan Caitlyn berubah drastis.


"Ap—"


"Mama terkena serangan jantung, dan kini di rawat di rumah sakit," ujar Owen tiba-tiba.


Caitlyn terkejut. "Bagaimana keadaannya?" tanya wanita itu kemudian.


"Untuk saat ini tidak apa-apa, tapi ... kau tahu, aku ... aku ...,"


Caitlyn memegang tangan Owen, berusaha menenangkan hati pria itu. "Pergilah."


Owen terdiam sejenak. "Kau yakin?"


Caitlyn mengulas senyum terbaik yang dia miliki. "Pergilah. Mama sekarang hanya memiliki dirimu. Beliau lebih membutuhkanmu, karena biar bagaimana pun buruknya hubungan kalian, kalian tetap ibu dan anak."


Owen kontan menarik tubuh Caitlyn dan memeluknya erat. Saat itu lah dia bisa melihat suasana meja makan yang berada di belakang Caitlyn.


"Ada perayaan apa?" tanya Owen.


Caitlyn mundur selangkah dan berusaha menghalangi meja. "Tidak ada. Tadinya aku ingin merayakan kepulangan kalian dengan makan malam bersama."


Mendengar jawaban sang istri, Owen terkejut. Perasaan bersalah sontak hinggap di benaknya. Dia pun hendak membatalkan kepergian malam ini. Namun, Caitlyn memaksa. Dia tak ingin jadi penghalang bagi mereka berdua.


"Acara ini tidak terlalu penting, bila dibandingkan dengan kondisi Mama. Nanti kita bisa merayakannya kembali saat kau pulang."


"Terima kasih," ucap Owen.


Pria itu pun berpamitan pada Caitlyn dan kedua anak mereka yang baru saja turun dari lantai dua.


James sebenarnya menyuruh Owen membawa serta Chloe dan Wayne, tetapi dia menolaknya keras.


"Papa akan cepat kembali, kan?" tanya Chloe dengan mata berkaca-kaca.


Owen mengangguk mantap. "Papa akan kembali dalam beberapa hari. Jadi, selagi Papa tidak ada, tolong jaga Ibu. Oke?"


Chloe dan Wayne serempak mengiyakan pesan sang ayah.


Setelah memeluk dan mencium ketiga orang tercintanya, Owen pun pergi meninggalkan rumah tersebut bersama supir pribadinya. Sementara Laura tetap di sana menggantikannya makan malam.


Begitu mobil Owen tak lagi tampak, tangis Caitlyn pecah. Semua harapan yang sempat membentang di depannya kini sirna. Entah mengapa, kali ini Caitlyn dia merasakan ketakutan yang jauh berkali-kali lipat dari sebelumnya.

__ADS_1


Wanita itu bahkan nyaris terjerembab di lantai, jika saja Laura tak sigap menahannya.


Melihat tangisan sang ibu, Chloe dan Wayne pun berusaha menenangkan hati sang ibu.


__ADS_2