
Sepuluh tahun lalu.
Seorang gadis cantik bertubuh mungil tampak berdiri malu-malu di sebelah pria tinggi tegap berwajah tampan. Gadis berpenampilan sederhana tersebut menganggukkan kepalanya pelan, pada seoranh pria tampan lain yang berdiri tepat di hadapannya.
Dalam hati, gadis cantik itu masih belum memercayai apa yang dilihatnya. Sebab, baik wajah mau pun postur tubuh kedua pria tersebut benar-benar sama persis. Hanya cara berpakaiannya saja yang berbeda. Jika saja mereka memakai pakaian yang sama, niscaya ia tak akan dapat membedakannya.
"Cait, ini adalah adik kembarku, Owen ... dan, Owen, ini adalah Caitlyn, gadis yang aku maksud," ujar pria yang berdiri di sebelah sang gadis.
Owen terdiam sesaat. Dadanya panas kala mengetahui, bahwa kekasih yang baru dipacari sang kakak kembar adalah gadis incarannya sejak satu tahun yang lalu.
Selama ini Owen memang tidak pernah memberitahu siapa pun soal gadis yang ditaksirnya, termasuk Sean. Owen pikir, semua akan baik-baik saja, mengingat gadis tersebut bukanlah gadis populer. Sebab dia memang berencana akan mendekatinya setelah kelulusan kuliah nanti.
Akan tetapi, apa yang terjadi saat ini malah menghancurkan seluruh rencana yang telah disusun Owen dengan baik. Gadis itu ... gadis yang telah singgah di hatinya selama satu tahun, kini malah bersanding sebelah kakak kembar sebagai kekasih.
"Owen," panggil Sean.
Owen sontak tersadar dari lamunannya. Seolah tak terjadi apa pun, dia mengulurkan tangannya lebih dulu ke arah Caitlyn. "Salam kenal, Caitlyn," ucap Owen.
Caitlyn dengan senang hati menyambut uluran tangan Owen. "Salam kenal, Owen." Senyum manis seketika mengembang di wajah cantik gadis itu. Senyum yang sejak dulu Owen sukai, setiap kali memerhatikannya dari jauh.
Owen masih enggen melepaskan genggaman tangannya pada Caitlyn. Pria itu tengah menyesapi rasa hangat dari telapak mungil sang gadis pujaan, sampai akhirnya, Caitlyn lah yang melepaskannya duluan.
Kekecewaan terpatri di wajah Owen.
"Aku akan mengantar Caitlyn pulang dulu. Katakan pada Mama untuk tidak menungguku, bro," ujar Sean kemudian.
Owen hanya mengangguk. Pria itu hanya bisa meratapi kepergian Sean dan Caitlyn yang kini saling bergandengan tangan.
Owen mengangkat tangannya yang baru saja bersalaman dengan Caitlyn. Perlahan dia mengepalkan tangannya tersebut, hingga buku-buku jarinya memutih.
Owen tidak terima. Di antara banyak pria, mengapa harus sang kembaran yang menjadi saingannya? Dia lah yang lebih dulu menyukai Caitlyn!
...**********...
__ADS_1
Sean baru saja selesai memakai celana rumahnya, ketika Owen dengan santai masuk ke dalam kamar pria itu tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Lama sekali kau pulang!" seru Owen, sembari berjalan dan duduk di atas ranjang Sean.
"Aku mengajaknya makan dulu di kafe, baru setelah itu mengantarnya pulang." Jawab Sean sekenanya. Pria itu kini sibuk memakai kaos rumahan.
Owen terdiam. Matanya menelisik Sean yang tampak sumringah. "Kau sepertinya senang sekali," ujar Owen.
Sean berhasil meloloskan kepalanya dan memakai kaos tersebut dengan sempurna. "Memangnya kentara?" tanya pria itu.
"Kau sudah seperti gadis yang tengah kasmaran!" jawab Owen datar.
Sean tertawa kecil. "Ya, aku sudah lama ingin mendekatinya," terang Sean.
"Sejak kapan?" Owen mengerutkan keningnya dalam-dalam.
Sean terlihat berpikir. Sambil berjalan menuju Owen, dia pun menjawab, "tiga bulan lalu mungkin." Seulas senyum terpatri di wajah pria itu. "Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, bro. Dia lah gadis yang membantuku menyempurnakan skripsi!"
Owen berusaha mengontrol emosinya. "Kau menyukainya?" tanya Owen kemudian.
"Tentu saja! Aku serius menjalin hubungan dengannya, bro! Semoga Mama dan Papa menyukai Caitlyn." Sean mencengkeram pundak Owen demi meminta dukungan. Sementara Owen diam-diam mengepalkan tangannya kuat.
...**********...
"Yang benar saja, Sean! Mama tidak menyukai gadis itu!" Ariana berdiri persis di hadapan Sean dengan wajah murka. Wanita itu baru saja dikenalkan dengan Caitlyn.
Mengetahui Caitlyn hanyalah seorang gadis dari keluarga biasa, tentu saja membuat Ariana marah.
Bagaimana tidak, keluarganya merupakan keluarga terpandang. Hampir enam puluh persen sektor industri di Paris merupakan milik keluarga mereka.
"Kalian berdua adalah pewaris perusahaan ini, dan Mama tidak akan membiarkan kau dan adikmu menikahi gadis yang tidak diketahui asal-usulnya!" teriak Ariana.
__ADS_1
Owen yang diam-diam mengintip mereka terlihat tersenyum puas. Namun, melihat bagaimana sang ibu begitu tidak menyukai Caitlyn, membuat Owen juga tidak memiliki kesempatan, padahal dia sudah berniat untuk merebut kekasih kakak kembarnya itu.
Sean sendiri hanya bisa terdiam. Pria yang tidak pandai bicara itu jelas kecewa dengan reaksi ibunya. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mematahkan argumen beliau.
Sean bukannya pria pengecut, dia hanya terlalu menghormati sang ibu. Seburuk apa pun sikap Ariana, dia sangat menghormati beliau. Berbeda dengan sang adik kembar yang selalu saja berani membalas perkataannya.
Saat suasana masih terasa panas, Owen tiba-tiba muncul. "Ada apa ini?" tanyanya seolah tidak mengetahui apa pun.
Ariana mengalihkan pandangannya pada Owen. "Kau pasti tahu soal gadis itu kan, Owen?" tanya wanita itu tanpa merendahkan intonasinya.
Owen menatap Sean sebentar, lalu kembali memandang ibunya. "Aku tahu," jawabnya.
Arian terbelalak. "Lalu, mengapa kau tidak mengatakan pada Mama? Lihat kakakmu, Owen! Dia tak becus memilih kekasih dan malah memacari gadis tidak jelas!" pekik wanita itu marah.
"Memangnya apa yang salah dari gadis itu? Bukankah, Papa dan Mama dulu juga berasal dari keluarga biasa-biasa saja? Menikah dengan wanita mana pun tak akan membuat diri kita rendah, Ma! Sikap dan perbuatan lah yang membuat Mama dipandang rendah orang lain!"
Mendengar hinaan yang keluar dari mulut Owen, Ariana semakin murka. Dia hendak memaki kedua putra kurang ajarnya, tapi Owen sudah terlanjut pergi meninggalkan ruang keluarga, sembari merangkul Sean.
"Terima kasih karena sudah menolongku," ucap Sean ketika mereka tiba di kamar Owen.
"Belajarlah untuk membalas penghinaan Mama, Sean. Aku bukannya menyuruhmu untuk melawannya, hanya saja, terkadang kita butuh untuk membela diri."
Sean menghela napas. "Entahlah."
Suasana di dalam kamar kemudian hening. Sean terlihat sedang memikirkan sesuatu, begitu pula Owen.
"Bro!"
"Bro!"
Detik selanjutnya mereka berdua serempak bersuara. Namun, Sean mempersilakan Owen untuk bicara terlebih dahulu.
Raut wajah Owen seketika berubah serius. Tanpa memerdulikan tali persaudaraan mereka, pria itu akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini terpendam jauh dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah menyukai Caitlyn sejak setahun yang lalu."
Mendengar pengakuan sang adik kembar, Sean terkesiap.