Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
16. Kecemasan.


__ADS_3

"Aku sangat mencintaimu, Caitlyn Johanson Kenric!"


Kata-kata mesra itu terus mendayu-dayu di telinga Caitlyn. Kata-kata yang dulu selalu dia dengar dari pria paling dicintainya, Sean.


Kini, Caitlyn memiliki tambatan hati lain. Dia tak bisa lagi menafikan perasaannya yang mulai tumbuh pada pria tersebut. Pria yang telah membawa dirinya dan anak-anak dari jurang keterpurukan.


Bukan, Caitlyn bukan ingin membalas budi. Dia hanya tak ingin perasaannya tumbuh berlandaskan rasa demikian.


Wanita itu ingin memulai hubungan dari rasa ketulusan dan kasih sayang murni, seperti yang telah dia jalani bersama Sean selama bertahun-tahun ini.


Melihat bagaimana Owen begitu sabar menanti dirinya, tanpa tuntutan berarti, tentu saja membuat benteng kokoh dalam hati Caitlyn runtuh seketika.


"Aku juga mencintaimu, Owen Joseph Kenric." Akhirnya, setelah sekian lama, kata-kata itu keluar.


Caitlyn dengan penuh keyakinan membalas pernyataan Owen dengan lugas. Tak hanya itu saja, dia juga membalas ciiumman mesra yang sejak tadi Owen lancarkan, sebagai bukti atas perasaannya.


Owen terkesiap. Wajahnya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Suara sang istri yang terlampau lembut, membuat Owen hendak mendengarnya lagi dan lagi.


Akan tetapi, perlakuan mesra Caitlyn pada dada bidangnya yang terbuka, membuat Owen terbawa suasana.


Owen berusaha mengambil alih kesadarannya sendiri. Pria itu mendekati bibirnya pada telinga sang istri dengan cara yang tidak biasa.


"Katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya lebih jelas," bisik Owen. Suaranya terdengar lebih berat dan parau. Kedua tangannya bahkan dengan bebas mulai meremas apa pun yang bisa dijangkau.


Caitlyn melolong merdu. Wanita itu bergerak gelisah seolah sedang mencari pegangan agar tidak lunglai terjatuh.


Sebelum benar-benar kehilangan seluruh kewarasannya, wanita yang tengah dimabuk asmara itu pun kembali mengulang pernyataan tersebut.


Owen tersenyum bahagia. Perasaan takut yang semula hadir di hatinya, seketika hilang tak berbekas.


Owen tidak lagi sudi menahan diri. Dengan satu gerakan cepat, dia melepas seluruh kain yang menghalangi tubuh indah Caitlyn, dan membawanya ke atas ranjang tidur mereka.


Ditemani sinar rembulan yang menembus celah-celah jendela kamar, mereka berdua saling menyalurkan perasaan terdalam satu sama lain.


...**********...

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ketika Owen dengan lembut menyapa Caitlyn yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Owen sendiri sebenarnya sudah terjaga sejak beberapa menit yang lalu. Namun, paras cantik wanita yang berada dalam pelukannya ini, membuat pria itu enggan beranjak pergi.


"Pagi." Alih-alih bangun dari posisinya, Caitlyn malah merapatkan diri semakin dalam di pelukan sang suami. Matanya bahkan kembali terpejam.


Owen mengerutkan keningnya. "Kita tidak jadi pergi? Ini sudah hampir siang."


Caitlyn menggeleng pelan. "Nanti sore saja, aku ingin seperti ini dulu," jawab wanita itu dengan nada manja.


Owen tersenyum sumringah. Inilah yang sejak awal dia inginkan, yaitu bisa melihat sisi lain dari Caitlyn. Sisi yang sangat dirindukannya.


"Kalau begitu, hari ini kita tidak usah ke mana-mana," ujar Owen memberi usulan.


"Aku setuju!" sahut Caitlyn tanpa bergerak dari posisinya.


Owen tertawa kecil lalu mencubit hidung mungil sang istri. "Tapi, bukan berarti kita akan terus berdiam diri dalam keadaan seperti ini. Setidaknya, kita harus melakukan sesuatu demi menghilangkan kebosanan."


Caitlyn mengaduh. "Memangnya apa yang bisa kita lakukan selain bermalas-malasan di sini?" Wanita itu rupanya tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Owen.


...**********...


Ariana terkejut setelah mendengar kabar yang dibawa oleh James, tentang keberadaan Caitlyn dan kedua cucunya.


Siapa sangka, mereka bertiga tidak lagi tinggal di Amerika dan pindah ke Inggris. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah fakta, bahwa Caitlyn sudah menikah dengan seorang pria kaya berkebangsaan inggris.


Kemarahan Ariana tidak bisa terbendung lagi. Belum setengah tahun sang suami meninggal, Caitlyn ternyata sudah menemukan tambatan hati yang baru.


Walau Ariana tidak pernah merestui pernikahan mereka, bukan berarti Caitlyn bisa seenaknya melupakan sosok Sean begitu saja. Terlebih, dia tidak mengetahui seperti apa sosok pria yang menjadi anak tiri dari kedua cucunya itu.


Bagaimana bila suami baru Caitlyn ternyata bukan pria baik-baik, dan hanya menginginkan Caitlyn saja? Bisa-bisa mereka menelantarkan Chloe dan Wayne.


"Cari di mana kedua cucuku bersekolah dan jemput mereka di sana!" titah Ariana tegas.


"Baik, Nyonya!" James membungkukkan badannya, sebelum undur diri meninggalkan ruang kerja Jacob.

__ADS_1


Sepeninggal James, Ariana menyandarkan punggungnya di kursi milik James. Matanya menatap nanar sebuah figura berukuran sedang, yang berdiri kokoh di atas meja kerja sang suami.


Itu adalah foto terakhir keluarga mereka, sebelum Owen menghilang dan dinyatakan meninggal dunia.


...**********...


Caitlyn tertawa nyaris terbahak mendengar celotehan yang dilontarkan Wayne, soal pertengkaran kecilnya dengan sang kakak. Mau bagaimana lagi, meski sudah berulang kali dinasihati untuk tidak saling bersitegang, tetap saja ada satu dua hal yang menjadi pemantik pertengkaran.


Caitlyn tidak bisa memarahi. Terlebih pertengkaran itu tak pernah berlangsung lama.


"Jadi, kapan Papa dan Ibu pulang? Kami sangat rindu." Kini Chloe yang bersuara. Sejak awal memang dia lah yang lebih sering menanyakan kepulangan mereka.


"Akhir pekan nanti kami akan pulang," jawab Owen.


Chloe bergumam, sembari menggerak-gerakkan kelima jarinya. Dia sedang berhitung.


"Berarti, Papa dan Ibu akan pulang tiga hari lagi?" tanya Chloe dengan mata terbelalak.


Owen mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Yah, mau bagaimana lagi, Papa sudah membayar liburan ini sampai akhir pekan, jadi, kalian harus bersabar menunggu, oke?"


Helaan napas keluar dari mulut kecil Chloe. "Baiklah." Gadis itu menguap lebar. "Aku ngantuk," ucapnya kemudian.


"Tidurlah," titah sang ibu. Mereka pun saling berpamitan, sebelum akhirnya mengakhiri sambungan telepon.


"Aku senang mereka terlihat baik-baik saja. Namun, entah mengapa, sejak kemarin perasaanku terasa kurang nyaman," ungkap Caitlyn setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Kurang nyaman bagaimana?" tanya Owen. Pria itu meminta Caitlyn untuk merapatkan diri.


Caitlyn menurut. Di bawah rangkulan sang suami, dia pun mengungkapkan kegelisahannya. "Aku tidak tahu, yang jelas perasaan ini semakin hari semakin bertambah."


"Mungkin karena kau tidak pernah meninggalkan mereka dalam waktu yang lama," terka Owen, berusaha menenangkan hati Caitlyn.


"Bisa jadi." Jawab Caitlyn lesu.


Owen mengeratkan pelukannya dan memberikan sebuah kecupan ringan. "Setiap hari kita selalu melakukan video call, dan mereka selalu baik-baik saja. Jadi, tak ada alasan untuk merasa khawatir. Oke?"

__ADS_1


Caitlyn mengangguk. Dalam hati dia membenarkan perkataan Owen. Untuk apa merasa khawatir, padahal jelas-jelas dia bisa melihat kondisi kedua anaknya.


__ADS_2