
Air mata Chloe kontan berhenti, ketika tepat di hadapannya, terbaring sosok sang kakek yang sangat dia cintai. Kondisi beliau terlihat sangat lemah dan tidak berdaya, dengan berbagai alat medis tersambung di tubuhnya.
Dibantu salah seorang perawat yang berjaga, Chloe berjalan mendekati Jacob dan menyapanya lembut.
"Kakek."
Mendengar suara sang cucu, mata Jacob terbuka lebar. Senyumnya seketika mengembang, tatkala mendapati wajah manis Chloe.
"Kakek ...!" Chloe menghambur ke pelukan Jacob dan memeluknya erat.
"Chloe cucuku. Kau datang," ujar Jacob. Suaranya lemah, nyaris tak terdengar. Pria tua itu berusaha menggapai wajah sang cucu dengan tangan ringkihnya. "Kakek rindu," ungkap Jacob kemudian.
"Chloe juga rindu, Kakek," jawab sang gadis kecil.
Hati Jacob menghangat. Kerinduannya sejak beberapa bulan lalu kini mulai terobati. "Bagaimana keadaanmu, Sayang? Kau baik-baik saja? Mana ibu dan adikmu?" tanyanya.
Mendapat rentetan pertanyaan demikian, Chloe termangu sejenak. Sang kakek rupanya tidak mengetahui sama sekali, soal penculikan mereka berdua yang dilakukan istri dan orang kepercayaannya.
"Wayne sedang tidur bersama Uncle James, dan ibu akan menyusul besok, Kek," jawab Chloe tersenyum. Gadis itu terpaksa berbohong agar Jacob tidak merasa khawatir. Dia paham benar, bahwa mereka harus menjaga kondisi pikirannya.
Mereka pun saling melepas rindu sejenak, hingga akhirnya, Chloe meminta sang kakek untuk beristirahat.
"Tetaplah di sini. Kau tak akan hilang saat Kakek bangun, kan, Nak?" tanya Jacob khawatir.
"Tentu tidak, Kek. Besok aku akan mengunjungi kamar Kakek bersama Wayne," jawab Chloe. Gadis kecil itu mencium lembut pipi Jacob dan membantu membenahi selimutnya.
"Sekarang kau mengerti, kan, mengapa Nenek bersikap demikian?" Ariana menyusul duduk di atas ranjang tidur Chloe. Keduanya kini berada di kamar lama Chloe dulu. Di ranjang seberang, Wayne terlihat sedang tertidur pulas.
"Tapi tetap saja, Nenek tidak boleh mengambilku dan Wayne tanpa izin. Bagaimana kalau sekarang ibu dan papaku khawatir? Mereka pasti sudah tahu aku dan Wayne hilang!" seru Chloe tak terima.
Ariana memegang pundak Chloe erat. Sorot matanya bahkan tidak setajam sebelumnya. "Nenek akan segera menghubungi ibumu, asal kau bersedia tinggal di sini selama beberapa hari lagi, oke?" pintanya dengan nada memelas.
Chloe pun mengangguk setuju. Demi sang kakek, dia rela berada di tempat yang menjadi mimpi buruk bagi ibu, dia, dan adik laki-laki kesayangannya.
__ADS_1
"Tapi, ada satu hal yang ingin Nenek tanyakan, Chloe," ujar sang nenek tiba-tiba.
"Apa, Nek?" tanya Chloe.
"Siapa suami ibumu?" Pertanyaan yang sejak beberapa hari lalu menggantung di pikirannya pun, akhirnya terlontar. Ariana bukannya ingin bersikap peduli dengan Caitlyn, dia hanya mengkhawatirkan kedua cucunya. Terlebih, setelah James tidak berhasil mencari tahu identitas pria itu.
Memangnya sepenting apa pria itu, sampai-sampai utusan keluarga Edmund tidak bisa mengoreknya?
Chloe bungkam. Otaknya tengah berpikir.
Meski usianya masih belia, Chloe sangat memahami hubungan buruk di antara ibu dan neneknya. Dia juga mengetahui soal identitas papa barunya tersebut, bahkan mencuri dengar tentang keengganan sang ayah tiri untuk kembali ke keluarga lamanya.
"Aku tidak mengerti maksud pertanyaan Nenek. Apa maksud Nenek, Papa orang baik atau bukan? Tenang saja, Nek, Papa orang yang sangat baik dan aku sangat menyayanginya," jawab Chloe polos.
Ariana menghela napas. "Ya sudah, sekarang kau tidur dulu." Tanpa berkata apa-apa lagi, Ariana pun pergi meninggalkan Chloe.
...**********...
"Sepertinya, kita harus lapor polisi, Tuan, Nyonya," usul Aiden setelah memberi keterangan sekaligus rekaman CCTV pada kedua majikannya tersebut.
"Bagaimana dia bisa menemukan anak-anak?" gumam Caitlyn.
"Mereka nyaris bisa melakukan apa pun!" sahut Owen dingin.
"Kalau begitu, jangan-jangan mereka juga sudah mengetahui soal dirimu?" Caitlyn membelalakkan matanya. Ada raut ketakutan yang tersirat di wajah cantik itu.
"Tidak. Jika tahu, mereka pasti tidak hanya membawa anak-anak saja."
Caitlyn membenarkan opini Owen. Namun, kekhawatirannya tetap saja tidak hilang. "Lalu bagaimana cara kita menjemput Chloe dan Wayne?" tanya Caitlyn. Air matanya kembali mengalir.
Wajar saja, sebab sejak dulu sang ibu mertua memang hanya menginginkan mereka dari pada dirinya. Pasti akan sulit bagi Caitlyn untuk mengambil mereka kembali.
Wanita itu lagi-lagi meratapi nasibnya. Baru saja dia hendak menyicipi kehidupan yang tenang dan normal, tiba-tiba sang ibu mertua muncul kembali.
__ADS_1
"Aku akan meminta orang suruh—"
"Tidak!" potong Caitlyn. "Aku akan pergi ke sana sendirian, dan menjemput mereka!" sambungnya.
"Apa kau yakin? Lebih baik aku temani saja." Owen menatap sang istri serius. Dia memang tak ingin muncul kembali ke keluarganya, tetapi soal Caitlyn dan anak-anak di atas segalanya.
"Tidak perlu. Kepulanganmu ke sana, bisa saja membuatmu tak bisa lagi kembali."
Owen terdiam, dalam hati membenarkan perkataan Caitlyn. Pria itu pun mendekap erat tubuh sang istri. "Berhati-hatilah, aku akan menyewa orang untuk mengawasimu," ucapnya.
Caitlyn menggeleng. "Tidak perlu, aku berjanji akan baik-baik saja," ujar wanita itu, sembari membalas pelukan sang suami sama eratnya.
...**********...
Tidur Chloe terusik dengan tangisan kecil dari bibir sang adik, yang tengah memanggil-manggil ibunya.
Gadis itu bergegas bangun dan pergi menghampiri ranjang tidur Wayne. "Ssstt, Wayne, kumohon jangan menangis! Kita sedang berada di rumah nenek, dan aku tak ingin nenek kembali ke kamar ini," bisik Chloe.
"Aku mau ibu!" serunya sambil terisak.
Chloe yang panik lantas menutup mulut Wayne pelan menggunakan tangan kirinya. Sementara tangan kanan gadis itu memberi isyarat pada Wayne untuk tidak bersuara.
Wayne menurut. Bocah itu menganggukkan kepalanya.
Chloe pun melepaskan tangannya dari mulut sang adik. "Wayne, dengarkan aku! Berpura-pura lah untuk tidak mengetahui apa pun soal papa. Mengerti?" pinta Chloe tiba-tiba.
Wayne mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?" tanya bocah kecil tersebut dengan nada polos.
"Ck! Turuti saja apa kataku, kalau kau ingin ibu menjemput kita. Mengerti!" desak Chloe.
Wayne mengangguk paham. "Aku tidak kerasan, Chloe. Aku ingin pulang pada ibu!" seru Wayne sesenggukkan.
Chloe langsung merapatkan diri dan memeluk Wayne. "Ibu pasti akan menjemput kita. Kau tenang saja ya? Sekarang, lebih baik kita tidur lagi, biar kutemani."
__ADS_1
Perlahan, Chloe kembali membaringkan Wayne di ranjang. Kali ini dia itu merebahkan diri di sebelah Wayne. Dengan penuh kasih sayang, Chloe mengusap-usap lembut kepala sang adik, sembari menyanyikan lagu yang biasa dinyanyikan ibu mereka.
"Tidurlah, Wayne. Tak lama lagi ... tak lama lagi, kita akan kembali pulang pada papa dan ib ...." Tanpa sadar, Chloe ikut terlelap bersama adik laki-lakinya tersebut.