Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
36. Akhir Kisah.


__ADS_3

Sean melambaikan tangannya pada Chloe dan Wayne yang baru saja dijemput oleh Anna. Gadis itu datang bersama Aileen sembari membawakan beberapa setel pakaian untuk Caitlyn.


Mereka tidak berlama-lama di sana. Sebab mereka tahu, sepasang suami istri itu membutuhkan waktu untuk bicara. Kendati kondisi Caitlyn belum pulih benar, tetapi sepertinya dia sudah benar-benar siap mendengar semua penjelasan dari Sean.


Sean kini duduk tepat di sebelah ranjang Caitlyn. Matanya menatap perut Caitlyn seolah ingin tahu lebih banyak.


"Kenapa tidak memberitahuku?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sean.


"Aku berniat memberitahumu. Kau ingat makan malam waktu itu?" Caitlyn mengalihkan pandangannya pada Sean.


Sean tersentak. "Jadi, soal pesta kepulangan itu ...?"


Caitlyn menatap jendela ruangannya. Hari sudah sore dan hujan mulai turun. "Tak sepenuhnya benar." Jawab Caitlyn tanpa menatap Sean. "Aku tentu tak boleh egois ketika mengetahui bahwa Mama membutuhkanmu. Aku mengerti ketakutan beliau, sebab aku juga seorang ibu yang tak ingin dipisahkan dengan anak sendiri."


"Semua hal yang beliau lakukan sudah pasti demi kebaikan dirimu." Caitlyn kemudian menoleh pada Sean dan mengajukan pertanyaan singkat.


"Kau sudah mendapatkan jawabannya. Sekarang bukankah giliranku?"


Sean mengangguk. Pria itu terdiam sejenak untuk menetralkan rasa sakit yang mulai melanda akibat sikap dingin Caitlyn.


Tenangnya sikap Caitlyn justru membuat perasaannya terasa sangat pilu.


Setelah mengembuskan napasnya beberapa kali, Sean pun buka suara. Dia menjelaskan semua kejadian antara dirinya dan Owen dulu secara mendetail, termasuk perasaan cinta yang Owen miliki pada wanita itu.


Caitlyn terkejut bukan main. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa mereka berdua memiliki konflik yang cukup dalam. Padahal seingat wanita itu, Owen tak pernah terlihat memiliki ketertarikan dengannya.


Bertahun-tahun hidup dalam kebohongan membuat kemarahan Caitlyn tidak terbendung. Namun, apa mau dikata, Owen telah tiada.


Kepada siapa lagi dia harus melampiaskan kemarahan tersebut, selain pada Sean yang kini tengah menatapnya penuh penyesalan?

__ADS_1


Kini dia mengerti mengapa Ariana semakin membenci dirinya. Ibu mertuanya benar. Dia memang wanita pembawa petaka.


"Lalu untuk apa kau turut membohongi diriku?" tanya wanita hamil itu.


"Aku tak punya pilihan lain. Perasaanku sejak dulu tak pernah berubah, Cait. Itulah mengapa, setelah mengetahui bahwa Owen telah tiada, aku berniat untuk mendekatimu. Namun tak mungkin sebagai Sean." Jawab Sean apa adanya.


Caitlyn terdiam. Kondisinya membuat wanita itu enggan berpikir terlalu berat. Dia bahkan sedang berusaha meredam kemarahannya.


Lagi pula apa yang dia dapatkan dari kemarahan tersebut? Dia harus fokus pada keempat anaknya.


"Aku tahu, kesalahanku padamu sangatlah fatal. Sekarang semua keputusan ada padamu, Cait. Aku tak akan mengelak. Namun, izinkan aku tetap menemui anak-anak bila pilihanmu adalah perpisahan," pinta Sean. Matanya kemudian menatap perut Caitlyn penuh harap.


Dengan nada takut-takut, Sean meminta izin untuk memegang perut Caitlyn.


Caitlyn mengelus perutnya lembut, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya.


Melihat tangisan sang suami, Caitlyn turut berkaca-kaca.


Sean semakin mendekat. Tak peduli bahwa Caitlyn mungkin akan marah, dia mendaratkan kecupan ringan di perut istrinya tersebut.


Kecupan yang mampu membuat Caitlyn terenyuh.


Caitlyn lemah. Semua sisi gelap yang sempat bersemayam dalam diri, sontak menguap entah ke mana.


Akan tetapi bayang-bayang wajah serta hinaan Ariana terus menghantui benaknya.


Ariana tak boleh kehilangan Sean, tetapi dia juga tak ingin dua calon bayinya kehilangan sang ayah. Terlebih, Sean merupakan pria yang sebenarnya dia cintai.


Hening melingkupi sepasang suami istri tersebut. Masing-masing dari mereka tampak sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Jadi ...?" Sean lah yang membuka suara lebih dulu. Dia terlihat sudah lebih siap mendengar keputusan apa pun yang akan diambil Caitlyn.


Caitlyn mengangkat kepalanya dan menatap Sean dalam-dalam. Seketika itu juga, air mata wanita hamil itu tumpah. "Aku memang wanita bodoh!" serunya kemudian.


Sean buru-buru memeluk tubuh Caitlyn. Hal tersebut membuat Caitlyn semakin mengeraskan tangisannya.


Caitlyn tak bisa menampik hatinya yang masih mencintai Sean. Kehilangan Sean saat itu membuat Caitlyn benar-benar terpuruk dan nekat hendak menyusul dirinya. Siapa sangka, bahwa ternyata pria itu masih hidup.


Kendati Sean telah membohongi dirinya, itu sama sekali tidak mampu menutupi kerinduan dan rasa cinta yang dia miliki.


Caitlyn memaafkan Sean. Justru, dia lah yang berkali-kali meminta maaf karena telah menjadi petaka di tengah-tengah kehangatan keluarganya.


Mengetahui kebesaran hati Caitlyn, Sean turut meneteskan air mata. Dia menolak permintaan maaf Caitlyn dan mengatakan bahwa itu semua bukan salahnya.


Keduanya pun sepakat untuk menjalani rumah tangga sebagaimana mestinya, tanpa ada kebohongan.


Sean juga berjanji akan berusaha melindungi Caitlyn dan anak-anak mereka dari Ariana.


Ariana mungkin merupakan orang yang keras. Namun, bukan tidak mungkin hatinya bisa berubah. Kendati butuh waktu, Caitlyn tampaknya sudah siap menghadapi sang ibu mertua sekali lagi.


Ini demi kebaikan dan kebahagiaan mereka semua.


...TAMAT...


Terima kasih untuk kakak-kakak dan adik-adik yang sudah membaca. Maaf jika ceritanya dari awal sampai akhir tidak sesuai ekspektasi. Saya memang tidak ingin membuat konflik yang berat dan bertele-tele, karena tujuannya memang menghibur para pembaca.


Sekali lagi terima kasih, dan mohon untuk terus memberi dukungan pada cerita-cerita saya yang akan datang.


Saya sayang kalian.🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2