Dinikahi Kembaran Suami

Dinikahi Kembaran Suami
17. Kepergian Chloe dan Wayne.


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


"Sampai bertemu lagi, Chloe!"


"Besok kita tukar bekal lagi ya?" Julia dan Kylie, dua teman terdekat Chloe di sekolah, serempak berteriak sembari melambaikan tangannya pada gadis itu.


"Oke. Sampai bertemu besok!" Chloe membalas teriakan dan lambaian tangan kedua sahabatnya tersebut, lalu memisahkan diri.


"Chloe!" Wayne, sang adik yang ternyata sudah menunggu dirinya di bangku taman, bergegas menghampiri. Biasanya Wayne memang pulang lebih dulu ke rumah, tetapi pada hari-hari tertentu mereka akan pulang bersama, karena Wayne mengikuti les tambahan.


Keduanya pun berjalan menuju halaman parkir, tempat di mana supir pribadi mereka biasa menunggu.


Akan tetapi, begitu sampai di sana, baik Wayne mau pun Chloe tidak bisa menemukan Aiden. Namun, mata mereka tiba-tiba tertuju pada seorang pria berjas hitam dan berkaca mata yang nampak familiar.


Melihat kehadiran Chloe dan Wayne, pria berkaca mata tersebut berjalan menghampiri mereka.


"Uncle James!" pekik Chloe, begitu melihat lebih jelas siapa sosok sang pria. Dia adalah orang kepercayaan sang kakek yang sangat menyayangi mereka.


James berjongkok untuk menyambut kedua anak tersebut, dan langsung mengangkat mereka ke dalam gendongan.


"Bagaimana kabar kalian? Apa kalian baik-baik saja?" tanya James.


Chloe dan Wayne mengangguk semangat. "Kami sangat baik, Uncle. Aku dan Wayne bahkan sudah bisa kembali bersekolah!" seru Chloe antusias.


James tersenyum simpul. Hatinya tersentil mendengar penuturan polos Chloe. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka, James yakin, Caitlyn mengurus kedua hatinya dengan baik.


"Good!" Ketiganya pun berbasa-basi sejenak, sebelum akhirnya James mengutarakan niatnya untuk membawa mereka.


"Ikut ke mana, Uncle? Ahh, Uncle tahu dari mana kami ada di sini?" ujar Chloe tiba-tiba.


"Kakek kalian sedang sakit parah. Beliau merindukan kalian berdua." Hanya itu jawaban yang bisa diberikan James. Sementara untuk pertanyaan terakhir, dia sengaja tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Kakek sakit! Kalau begitu, kita hubungi ibu dulu, Uncle. Ibu dan Papa sedang pergi. Besok mereka baru akan kembali!" seru Chloe.


"Tidak perlu!" sergah James. "Mereka sudah diberitahu duluan, dan akan menyusul besok. Jadi, untuk sekarang kalian bisa ikut aku."


Mendengar perkataan James, Chloe tidak sertamerta percaya.


James tidak kehilangan akal, dia pun berusaha meyakinkan Chloe dengan memberitahu keberadaan supir pribadinya. "Kau tak perlu khawatir, ibumu memang menyuruhku datang. Itulah mengapa Aiden tidak datang menjemput. Sebab, aku memang diminta menggantikannya."


Mengetahui James ternyata mengenal siapa nama supir pribadinya, Chloe pun percaya. Alhasil, mereka pun tanpa paksaan masuk ke dalam mobil James dan pergi dari sana.


Akan tetapi, berselang lama, mobil yang dikendarai Aiden tiba di halaman sekolah. Pria itu terlambat datang, karena dua ban mobilnya pecah di pertengahan jalan.


Mengetahui suasana di sekolah sudah mulai sepi, Aiden akhirnya masuk ke dalam gedung untuk menjemput Chloe dan Wayne.


"Chloe sudah keluar kelas sekitar sepuluh menit yang lalu, Mr. Aiden. Saya juga sudah menghubungi gedung sebelah. Mereka mengatakan kelas Wayne telah bubar sejak dua puluh dua menit yang lalu."


Mendengar informasi yang disampaikan sang wali kelas, Aiden terkejut. Dia pun meminta izin untuk melihat rekaman CCTV guna memastikan keberadaan Chloe dan Wayne.


...**********...


"Halo, Chloe," sapa Owen.


"Tuan, tolong pulang sekarang, Tuan!" Biasanya, Chloe lah yang menelepon mereka menggunakan ponsel Anna. Namun, alih-alih suara sang putri sulung, mereka malah mendapati suara panik Anna.


"Ada apa Anna?" tanya Owen kebingungan.


"Chloe dan Wayne dibawa seseorang menggunakan mobil, saat di sekolah tadi. Aiden sedang mencoba mencari tahu keberadaan mereka. Maafkan kami yang telah lalai, Tuan!" Sambil menangis sesenggukkan Anna menjelaskan secara singkat tentang kondisi Chloe dan Wayne.


Owen tentu saja terkejut. Pria itu mematung seraya menatap sang istri dengan raut khawatir.


"Ada apa? Chloe bilang apa?" tanya Caitlyn.

__ADS_1


Owen terdiam. "Kami akan pulang sekarang. Telepon Burdon dan perintahkan dia untuk ikut mencari!" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, dia malah memberi perintah pada Anna, sebelum akhirnya menutup sambungan telepon.


Caitlyn menutup koper terakhirnya, dan berjalan menghampiri Owen. "Sayang, ada apa? Mengapa wajahmu begitu pucat? Kau membuatku takut!" seru wanita itu.


Owen memeluk Caitlyn sejenak, dan meminta istrinya tersebut untuk tidak panik saat dia memberitahu.


Caitlyn mengangguk. "Ada apa?"


"Ada seseorang yang menjemput anak-anak di sekolah, Aiden sedang mencoba mencari tahu."


Mendengar hal tersebut, Caitlyn tak bisa menepati janjinya. Wanita itu panik sejadi-jadinya, dan meminta sang suami untuk memesan tiket sekarang juga. Niat mereka untuk terbang malam hari pun batal.


...**********...


Ariana yang hampir tertidur di ruang tamu, sontak terbangun, saat salah seorang asisten rumah tangganya memberitahu soal kedatangan James. Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih delapan jam, akhirnya James tiba di rumah megah kediaman Edmund.


James tentu tidak sendiri. Ada Chloe dan Wayne yang ikut bersamanya. Wayne bahkan tampak tenang di pelukan pria berkaca mata itu.


"Chloe! Wayne!" Ariana berlari menghampiri kedua cucunya dengan wajah penuh keharuan. Dia bahkan bersimpuh di hadapan Chloe untuk memeluk sang cucu tercinta. Namun, siapa sangka, gadis kecil itu ternyata menolak. Sambil menahan tangis, dia menanyakan keberadaan ibunya.


"Nenek, mana Ibu? Kata Uncle James, ibu akan menyusul. Sejak tadi aku sudah meminta Uncle untuk menghubungi ibu, tetapi tak pernah dilakukannya.


Ariana melirik sebentar ke arah James, yang sedang berdiri di belakang Chloe, sebelum mengalihkan pandangannya lagi pada sang cucu tercinta.


"Nenek akan menghubungi ibumu, Sayang. Jadi, kau tak perlu khawatir ya?" ujar wanita paruh bayar itu. Dia berusaha menenangkan hati sang cucu tercinta. Namun, hal tersebut tampaknya tidak berhasil, karena gadis berusia tujuh setengah tahun itu mulai menangis terisak-isak.


"Jadi, Uncle James bohong padaku! Nenek juga bohong padaku! Aku tidak percaya Nenek akan menelepon ibu! Nenek, kan, selalu saja jahat pada ibu!" teriak Chloe.


Ariana terdiam, wajahnya merah padam menahan emosi. "Chloe, dengar! Nenek minta maaf, karena sudah membawamu ke sini. Nenek hanya ingin mempertemukan kalian dengan kakekmu yang sedang sakit!" seru Ariana sambil memegang kedua pundak Chloe.


Chloe meringis kesakitan. "Nenek bohong!" sentaknya.

__ADS_1


"Kalau tidak percaya, ikut Nenek!" Tanpa menunggu jawaban dari Chloe, Ariana pun menarik tangan sang cucu untuk masuk ke dalam.


James tidak bisa melakukan apa pun, selain hanya bisa terdiam membisu menyaksikan interaksi keduanya. Sambil menggendong Wayne yang tertidur, dia pun menyusul masuk ke dalam rumah.


__ADS_2